Yamaha Aerox

Diduga Kelelahan, Dua Ketua KPPS di Bekasi Meninggal

  Jumat, 19 April 2019   Ananda Muhammad Firdaus
Ilustrasi. (Attia Dwi Pinasti).

BEKASI, AYOBANDUNG.COM--Kabar duka menyelimuti Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di Kota Bekasi. Dua ketua KPPS, yakni Ahmad Salahudin (43) yang bertugas di TPS 81 Kranji dan Fransiskus Asis Ismantara (52) yang bertugas TPS 31 Bojong Rawalumbu meninggal usai menyelesaikan penghitungan suara di TPS-nya masing-masing. 

Salahudin dikabarkan meninggal karena insiden tertabrak mobil truk pada Kamis (18/4/2019) sekitar pukul 06.45 WIB. Kakak korban, Saefudin mengatakan, adiknya kala itu disibukkan dengan aktivitas perekapan suara Pemilu, mulai hari Rabu (17/4/2019) sesuai pencobloaan hingga Kamis sekitar pukul 04.00 WIB.  

Usai itu, sekitar pukul 05.00 WIB, Salahudin diketahui mengantarkan kotak suara ke Kantor Kecamatan Bekasi Barat. Lalu ia mengantar anaknya bersekolah di Cimanggis, Depok pukul 05.30 WIB.

“Agak kurang istirahat karena perhitungan suara TPS, perhitungan sampai subuh tadi. Anaknya sebelum jam 7 harus udah di pesantren Darussalam, dan bisa dipastikan lelah, fisik lemah mata ngantuk, perut lapar, ngejar waktu pula,” kata Saefudin, Jumat (19/4/2019).

Saat di perjalanan dengan mengambil rute Galaxy-Jatiasih-Kranggan-Cimanggis, kecelakaan itu tak terelakkan. Dengan membonceng anaknya menggunakan sepeda motor, saat itu Salahudin berusaha menyalip sebuah mobil di depannya. Namun di saat bersamaan sebuah truk dari arah berlawanan melaju kencang. 

Tabrakan pun terjadi. Salahudin kehilangan nyawa di lokasi kejadian. 

“Sementara anaknya hanya mengalami luka memar. Kondisi motor Salahudin mengalami kerusakan berat di bagian depan,” tutupnya.

Sementara itu, Ismantara dikabarkan meninggal pada Jumat (19/4/2019). Dia diduga kelelahan karena penghitungan suara hingga Kamis dini hari. Hal itu diperparahan setelah Ismantara memaksakan mengantarkan hasil rekapilutasi suara ke kelurahan tanpa sebelumnya beristirahat. 

"Selesai hitung suara, paginya dia ngeluh sakit di bagian dadanya," kata adik ipar Ismantara, Maria Yuli.

Saat merasakan nyeri di dada, Ismantara menolak dibawa ke rumah sakit. Dia hanya meminta kepada sang istri untuk mengerok punggungnya, lantaran sakit dadanya telah menjalar ke bagian belajakang tubuh. 

Karena sakit tersebut masih ada pada Jumat dini hari sekitar pukul 03.00 WIB, Ismantara akhirnya dilarikan ke RS Elisabeth Rawalumbu. Namun duka kemudian menyelimuti keluarga, sekitar pukul 04.40 WIB nyawa Ismantara sudah tiada.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar