Yamaha NMax

Mengenal Lebih Dekat KH Zaenal Musthafa, Pahlawan Nasional Asal Tasikmalaya

  Kamis, 18 April 2019   Irpan Wahab Muslim
KH Zaenal Musthafa

TASIK, AYOBANDUNG.COM--KH Zaenal Musthafa namanya. Ya, dia merupakan pahlawan nasional dari Kabupaten Tasikmalaya. Tidak hanya melalui mimbar dan pengajian, sikap perlawanan terhadap pendudukan Jepang juga dibuktikan dengan peperangan.

KH Zaenal Musthafa lahir tahun 1899 dari pasangan Nawapi dan Ratmah yang merupakan petani dengan ketaatan beribadah yang cukup tinggi. Dia lahir di Kampung Bageur Desa Cimerah Kecamatan Singaparna. Saat ini wilayah tersebut masuk ke wilayah Kecamatan Sukarame setelah adanya pemekaran.

Sebelum berganti nama, nama pahlawan nasional itu bernama Hudaeni. Setelah menunaikan ibadah haji pada 1927, nama Hudaeni berganti menjadi Zaenal Musthafa. Sejak remaja, dia kenyang dengan pendidikan keagamaan. Setelah menamatkan di sekolah rakyat (SR), dia melanjutkan pendidikan di pondok pesantren Gunung Pari di bawah asuhan kakak sepupunya, KH Zainal Muhsin. 

"Kamudian beliau belajar di Pondok Pesantren Cileunga Kecamatan Leuwisari dan Pesantren Sukamiskin Bandung. Kurang lebih 17 tahun beliau mempelajari Ilmu agama," papar salah satu keluarga, Yusuf Hazim, Kamis (18/4/2019).

AYO BACA : Ridwan Kamil Usul Bagus Rangin Jadi Pahlawan Nasional

Yusuf yang merupakan salah satu cucu KH Zaenal Musthafa itu menambahkan, seusai melaksanakan ibadahan haji tahun 1927, KH Zaenal Musthafa mendirikan Pondok Pesantren Sukamanah. 

Sikap kritis terhadap kebijakan-kebijakan penjajah kolonial sudah dilakukan pada awal tahun 1940. Di mana waktu itu, diadakan kegiatan kegiatan yang membamgkitkan semangat kebangsaan dan sikap perlawanan terhhadap penjajahan Belanda. 

"Akibatnya ya begitu, ditangkap dan dipenjarakan termasuk bersama KH Ruhiat pimpinan Pesantren Cipasung," papar Yusuf.

Bukan hanya kepada pendudukan Belanda, sikap kritis terhadap Jepang ditunjukan KH Zaenal Musthafa. Puncaknya yakni saat menolak melakukan saikerei atau membukkukan badan dan kepala ke arah Tokyo.

AYO BACA : Startup, Pahlawan Bangsa Era Digital

"Hal itu jelas ditentang, karena termasuk kepada musyrik dan menyekutukan Allah. Dari situ Jepang sangat membenci beliau," kata Yusuf.

Perlawanan Santri dan Pedang Bambu

Sikap perlawanan KH Zaenal Musthafa terhadap pejajahan Jepang memuncak pada 25 Februari 1944 sekitar pukul 16.00 WIB. Beberapa buah truk dengam berisi serdadu Jepang mendatangi kompek Pesantren Sukamanah bermaksud menangkap sang kyai. Bukan menyerahkan diri kepada serdadu Jepang, santri dan KH Zaenal Musthafa malah menyambut dengan pekikan takbir tanda siap berperang.

Senapan mesin dan canggih serdadu Jepang dilayani dengan senjata tradisional bambu runcing dan senjata pedang yang terbuat dari bambu. Meskipun terbuat dari bambu, namun pedang tersebut mampu membunuh dan menghabisi nyawa para penjajah.

"Itu merupakan pertolongan Allah. Tidak masuk secara logika memang, senjata pedang dari bambu yang dibuat seadayanya mampu memberikan perlawanan terhadap tentara Jepang. Subhanallah," tambah Yusuf.

Namun akibat kalah dalam jumlah, pertempuran terjadi tidak seimbang dan menyebabkan 86 santri gugur menjadi syuhada dan KH Zaenal Musthafa ditahan hingga akhirnya dieksekusi pada tangggal 25 Oktober 1944 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Belanda Ancol.

Jenazah KH Zainal Musthafa beserta 17 santrinya akhirnya dipindahkan ke Taman Makan Pahlawan Sukamanah pada tanggal 26 Agustus 1973. Gelar pahlawan nasional diberikan berdasarkan SK. Presiden RI/ No 64 tahun 1972 tertangg 20 November 1972.

AYO BACA : Menelisik Sejarah Jalan Pahlawan yang Terlupakan

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar