Yamaha NMax

Perhatikan! Jangan Salah Kaprah Soal Stunting

  Senin, 15 April 2019   Rizma Riyandi
Ilustrasi (blogpediatriik.blogspot.com)

JAKARTA, AYOJAKARTA.COM--Kekerdilan atau stunting pada anak masih menjadi pekerjaan rumah yang besar bagi Indonesia kendati angka prevalensinya menurun. Hasil Riset Kesehatan Dasar pada 2013 angkanya menunjukkan 37,2 persen, sedangkan pada 2018 turun menjadi 30,8 persen.

Pemerintah melalui berbagai pemangku kepentingan terkait berulang-ulang menggaungkan mengenai masalah dan bahaya kekerdilan, baik dampak buruk yang akan dirasakan masyarakat maupun yang akan menjadi beban pemerintah lantaran sumber daya manusia Indonesia pada masa mendatang tak berkualitas.

Sepertinya, kekerdilan belum secara menyeluruh dipahami sebagian besar orang, baik mengenai dampak negatif maupun cara pencegahannya dengan tepat.

Kekerdilan merupakan suatu kondisi seorang anak yang gagal tumbuh atau tumbuh kembang anak yang tidak sesuai dengan indikator pertumbuhan anak pada umumnya. Penyebab kekerdilan adalah kekurangan gizi kronis atau defisit gizi dalam waktu yang lama, yaitu sejak 1.000 hari pertama kehidupan si anak mulai dari sembilan bulan dalam kandungan hingga dua tahun setelah dilahirkan.

Jika ada ibu hamil yang tidak menjaga asupan gizinya selama mengandung, ditambah lagi dengan tidak memenuhi gizi anak dengan sempurna sejak dilahirkan hingga usia dua tahun maka anak tersebut memiliki kemungkinan mengalami kekerdilan.

AYO BACA : Yana Mulyana Pastikan Distribusi Logistik Pemilu Berjalan Baik

Guru Besar Bidang Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor Profesor Ali Khomsan menjabarkan dampak kekerdilan berupa fisik dan nonfisik.

Dampak fisik ialah pertumbuhan tinggi badan anak yang terhambat sehingga tidak sesuai dengan anak-anak seusianya, membuatnya terlihat kerdil.

Namun, hal yang paling dikhawatirkan dampak nonfisik, berupa terhambatnya perkembangan otak anak yang menyebabkan kemampuan berpikirnya di bawah rata-rata anak normal, IQ yang rendah, dan paling parah menyebabkan keterbelakangan mental.

Ahli gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Dr dr Damayanti Rusli Sjarif, SpA(K) mengatakan anak yang kekerdilan tidak akan pernah bisa mengejar IQ anak yang tidak kekerdilan, meski bagaimana pun bagusnya tempat dia disekolahkan.

Oleh karena itu, jika saat ini ada 30,8 persen anak Indonesia yang mengalami kekerdilan, masa depan sumber daya manusia Indonesia menjadi pertaruhan.

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) pernah mengalkulasi kerugian ekonomi Indonesia akibat kekerdilan bisa mencapai 2-3 persen dari Produk Domestik Bruto Indonesia. Misal PDB Indonesia pada 2018 di kisaran Rp14 ribu triliun, kerugian ekonomi dari generasi balita kerdil itu mencapai Rp420 triliun per tahun.

AYO BACA : Terendam Banjir, KPU Bogor Gantikan Ratusan Kotak Suara

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar