Yamaha Lexi

Zzero Waste Warriors, Pejuang Lingkungan Berawal dari Sedotan

  Senin, 15 April 2019   Nur Khansa Ranawati
Pegiat antiplastik asal Bandung, Zeiny Sofiani (23), memperlihatkan sedotan stainless steel dan botol minum miliknya yang dipakai sehari-hari untuk mengurangi sampah plastik. (Nur Khansa Ranawati/Ayobandung.com)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM—Beberapa waktu belakangan, tren mengganti sedotan plastik sekali pakai dengan sedotan yang dapat dipakai berulang kali tengah merebak. Tren ini pun cukup jamak dijumpai di Kota Bandung. Sejumlah kafe dan restoran di Kota Kembang telah mengeliminasi sedotan plastik dari menu minumannya.

Salah satu pemicunya adalah viralnya video seekor penyu yang tampak menahan sakit akibat sampah sedotan plastik yang menancap di hidungnya sekitar 1-2 tahun yang lalu. Kabar ini pulalah yang menggugah kesadaran pegiat antiplastik asal Bandung, Zeiny Sofiani (23), untuk mengurangi penggunaan sampah plastik sejak setahun lalu.

"Awalnya dari kesadaran sendiri bahwa dalam satu hari ternyata kita bisa menghasilkan sampah banyak banget. Dari kasus penyu yang tertusuk sedotan pun bikin mikir, kalau sehari pakai satu sedotan plastik, dalam setahun sudah berapa banyak sampahnya," ungkap Jeje, sapaan akrab Zeiny, kepada Ayobandung.com, Senin (15/4/2019).

Atas dasar itu, Jeje mulai menularkan kekhawatirannya tersebut melalui Instagram kepada rekan-rekannya. Terutama, bahaya kerusakan alam dan ekosistem kehidupan yang mengintai dari balik penggunaan sedotan plastik.

Ketika dia akhirnya memilih untuk mengganti sedotan plastiknya menjadi sedotan berbahan stainless steel, yang dapat dipakai berkali-kali, teman-temannya mulai tertarik untuk melakukan hal serupa.

"Dulu dikasih sedotan stainless sebelum booming seperti sekarang. Banyak banget yang nanyain sedotan itu, dan akhirnya saya memfasilitasi mereka untuk beli," ungkapnya.

AYO BACA : Sedotan Bambu, Solusi Murah Kurangi Plastik

Jeje menggunaan istilah “memfasilitasi”, karena awalnya, niat dirinya semata hanyalah untuk mengajak teman-temannya mengganti kebiasaan penggunaan sedotan plastik.

Karena sedotan stainless steel banyak diproduksi di luar negeri, Jeje pun berperan menjadi perantara jual beli antara vendor dengan teman-temanya.

"Awalnya nggak ada niatan jualan sama sekali, yang penting gimana caranya teman-teman pakai sedotan stainless sampai mereka sudah bosan (diingatkan)," ungkapnya seraya tertawa.

"Tapi ternyata yang pesan banyak banget, di hari pertama preorder sudah mencapai 100 orang," tambahnya.

Dia kemudian membangun Zzero Waste Warriors, yakni tempatnya berjualan aneka sedotan stainless steel berbagai warna dan ukuran via Instagram.

Akun tersebut juga digunakannya untuk berbagi pengetahuan soal gaya hidup ramah lingkungan. Tak sebatas sedotan, seiring berkembangnya peminat gerakan antiplastik, Zzero Waste Warrior pun menyediakan tas belanja hingga alat makan ramah lingkungan.

AYO BACA : Saatnya Zero Waste Lifestyle atau Bumi Makin Tidak Layak Huni

"Kenapa diawali dari sedotan, karena itu hal paling mudah yang bisa dilakukan (untuk memulai mengurangi plastik). Sekarang kan juga sedang tren," jelasnya.

Tak sekadar sedotan

Jeje mengatakan, saat ini dirinya sudah mulai mengurangi penggunaan plastik dalam aktivitas sehari-hari. Terutama untuk makan dan ngopi, yang tanpa disadari banyak menghasilkan sampah plastik.

"Kalau ke kafe beli kopi, saya sudah bawa tumbler (tempat minum) sendiri, sampai baristanya sudah hafal. Di meja kerja juga selalu sedia kontainer makanan, jadi kalau jajan batagor, misalnya, sudah enggak pakai plastik," ungkapnya.

Selain itu, berbelanja dengan kantong plastik pun sudah sangat dia hindari. "Kalau belanja pasti bawa kantong sendiri, sudah terbiasa. Jadi ada aturan pemerintah pun enggak terasa," ungkapnya. 

Selain itu, dia mengaku sudah memilah-milah sampah di rumahnya. Sampah tersebut akan disetor ke bank sampah yang saat ini mulai digalakkan di seluruh kecamatan di Kota Bandung.

"Di rumah juga mulai misahin sampah antara tetra pak, kertas, plastik, dan sampah organik. Kalau organik sih bisa langsung dibuang atau dijadikan kompos. Sisanya sedang ditabung untuk disetor ke bank sampah," tutupnya. 

AYO BACA : Uniknya Pernikahan dengan Konsep Green Wedding

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar