Yamaha Aerox

Debat Capres, Pengamat : Kedua Capres Belum Punya Terobosan untuk Genjot Penerimaan Pajak

  Minggu, 14 April 2019   Anya Dellanita
Pasangan Capres 01 Jokowi-Ma'rug menyalami capres 02 Prabowo Subianto seusia debat capres terakhir pada Sabtu (13/4/2019). ( ANTARA FOTO/Wahyu Putro)

AYO BACA : Jalani Masa Tenang, Jokowi Pergi Umrah

AYO BACA : 10 Tahun Berseragam Man United, Antonio Valencia Hengkang

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Debat capres terakhir pada Sabtu (13/4/2019) sebelum berakhirnya masa kampanye berlansung lancar. Jawaban-jawaban yang disampaikan oleh masing-masing paslon tentunya menjadi penentu nasib mereka nanti.

Hal tersebut menarik perhatian beberapa pengamat, salah satunya Pengamat Ekonomi dan Keuangan dari Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran, Sulaeman Rahman Nidar.

Menurut Sulaeman, kedua paslon sama belum mempunyai terobosan khususnya dalam hal penerimaan pajak.

"Yang tadi saya simak masing –masing solusinya, dari yang 1 menyampaikan mengenai supaya lebih intensif penerimaan pajaknya tax rationya. Sementara paslon no. 2 membicarakan mengenai pertumbuhan tax ratio yang kecil. Saya kira wajar itu, soalnya kalau dibandingkan dengan negara tentangga memang lebih kecil," ujar Sulaeman saat dihubungi ayobandung via sambungan telepon, Sabtu (13/4/2019) malam.

Sulaeman juga menyayangkan kurang disinggungnya tax amnesty oleh paslon nomor urut 1. Menurutnya, justru hal inilah yang bagus.

"Sebenarnya Pak Jokowi bagus mengenai tax amnesty. Sebetulnya yang saya harapkan dari paslon 01 adalah lanjutan dari itu," kata dia.

Untuk paslon nomor 2, Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, dia berpendapat kalau pasangan ini sudah bisa memaparkan digitalisasi secara langsung. Namun, tetap belum ada terobosan yang bagus.

Sementara itu, terkait soal investasi, Sulaeman berpendapat kalau kedua paslon tidak menyampaikan sesuatu yang berarti. Menurutnya, keduanya belum mampu menyampaikan cara-cara menarik investasi yang mengolah bahan mentah mrnjadi bahan jadi.

"Jadi, kalau kita lihat kan neraca transaksi yang negatif nah itu belum ada cara-cara menarik investasi yang mengolah bahan mentah menjadi bahan jadi sehingga kita tidak perlu impor ke negara lain," ucap Sulaeman.

Dia menambahkan, sebetulnya masalah pada menarik investasi ada pada industri kimia. Semestinya harus lebih ditelaah lagi.

Dalam wawancara, Sulaeman mengungkapkan harapannya pada kedua paslon.

"Kalau saya harap  dari paslon 01, mereka kan sudah punya pengalaman, nah sekarang harusnya memperhatikan bagaimana pengalaman itu berinovasi. Jangan sampai mengulangi kesalahan-kesalahan yang dibuat sebelumnya," katanya 

Untuk paslon nomor 2, Sulaeman berharap mereka mengembangkan bidangbkewirausahaan dan digitalisasi searah dengan perkembangan zaman. Nantinya, hal itu diarahkan ke pengelolaan bisnis yang baik.

"Kemudian nanti diarahkan pada pengelolaan bisnis yang baik. Seperti unicorn, itu kan bagus ya. Jadi nanti pengusaha milenial bisa dikondisikan oleh pemerintah," tambahnya 

Di akhir wawancara, Sulaeman juga menyimpulkan kalau dalam debat kali ini, kedua paslon sudah mulai terlihat gagasannya untuk ekonomi Indonesia. Meskipun begitu, kedua paslon hampir sama, belum ada ciri khas masing-masing.

"Saya sebetulnya belum melihat ciri khas masing-masing, yang satu hanya menampilkan keberhasilan mereka, tanpa menjelaskan denagn baik. Sembentara paslon 2 jargonnya sudah biasa dilakukan, seperti harga diturunkan, itu kan sudah biasa," tuturnya.

AYO BACA : Tutup Debat Pilpres Terakhir, Jokowi: Jangan Kufur Nikmat

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar