Yamaha Lexi

Tingkat Keracunan Methanol di Indonesia Masih Tinggi

  Jumat, 12 April 2019   Anya Dellanita
Prof. Morten Rostrup dari Oslo University Hospital Norwegia dan Medecins Sans Frontieres (MSF) memberikan materi tentang mengenali keracunan methanol. (Anya Dellanita/ayobandung).

TAMAN SARI, AYOBANDUNG.COM--Dekan Fakultas Kedokteran Unisba, Ieva B. Akbar mengatakan Unisba akan berkolaborasi dengan negara lain. Salah satu bentuk kolaborasi tersebut adalah Workshop on Methanol Poisoning Management yang menghadirkan Prof. Morten Rostrup dari Oslo University Hospital Norwegia dan Medecins Sans Frontieres (MSF).

Dalam workshop tersebut, Rostrup memberikan materi mengenai cara mengenali dan memberikan tindakan yang tepat bagi pasien yang mengalami keracunan methanol.

Rostrup menjelaskan, Indonesia adalah negara yang memiliki kasus keracunan methanol cukup tinggi. Di tahun 2018 terdapat 56 kejadian keracunan methanol di Indonesia. Yang paling banyak diberitakan adalah kasus keracunan minuman keras oplosan.

Ini seperti puncak gunung es. Jumlah kejadian yang dilaporkan lebih sedikit dari kejadian yang sesungguhnya. Tidak ada angka pastinya, kata Rostrup saat memberi materi di acara Milad FK ke-15 Unisba, Jumat (12/4/2019).

Sementara itu, dokter Spesialis Kejiwaan Teddy Hidayat mengatakan, pada 2016, 82 orang meninggal dalam kurun waktu satu minggu karena keracunan methanol. Kejadian di Cicalengka menewaskan 58 orang dan 307 orang menjalani perawatan di rumah sakit.

Menurut Rostrup, methanol seharusnya tidak sampai membuat seseorang kehilangan nyawa. Meninggalnya korban miras terjadi karena ada pencampuran ethanol ke dalam minuman keras. 

AYO BACA : Unisba Akan Dirikan Rumah Sakit Pendidikan

Ada orang yang ingin mengambil keuntungan, supaya bisa memproduksi banyak. Itu sudah kriminal, kata dia.

Rostrup juga memberikan data beberapa kasus keracunan methanol. Ternyata, kasus tersebut tak hanya di Indonesia. Kasus-kasus serupa juga terjadi di India, Vietnam, Iran, dan banyak negara lainnya.

Dia juga mengatakan kasus keracunan methanol perlu diagnosa  tepat. Biasanya, pasien menunjukkan kondisi baik, namun memburuk hanya dalam waktu beberapa jam.

Untuk itu, perlu ada tes cepat untuk mengetahui apakah seseorang nengalami keracunan methanol atau tidak. 

Upaya membuat alat uji cepat sudah dilakukan oleh Oslo University. Sayangnya, belum ada yang mendanai hingga saat ini.

Tapi tidak ada yang mau mendanai. Kami masih harus bekerja keras untuk itu. Padahal saya yakin alat uji ini akan mengubah keadaan, tuturnya.

AYO BACA : Unisba Buka Program Studi Insinyur

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar