Yamaha NMax

Problematika Film Indonesia: Belum Dianggap Produk Ilmu Pengetahuan

  Jumat, 12 April 2019   M. Naufal Hafizh
Tokoh sineas Indonesia, Slamet Rahardjo. (Alya Dellanita/Ayobandung.com)

JATINANGOR, AYOBANDUNG.COM—Prodi Televisi dan Film Universitas Padjadjaran bekerja sama dengan Pusbang Film mengadakan Bincang-Bincang Film Indonesia yang bertajuk "Problematika Film Indonesia" di Auditorium Pascasarjana Fikom, Unpad, Kamis (11/4/2019). 

Pembicara dalam diskusi tersebut yaitu perwakilan Pusbang Film Dian Srinursih, Kepala Forum Film Bandung Eddy D. Iskandar, dan Slamet Rahardjo selaku tokoh sineas ternama di Indonesia.

Dian mengatakan, penonton film Indonesia meningkat signifikan sejak 2016 hingga sekarang. Pada 2015, penonton film Indonesia hanya mencapai 15 juta penonton. Jumlah penonton meningkat drastis menjadi 40 juta penonton pada 2016 hingga mencapai 52 juta penonton pada 2018. Tentu saja ini merupakan kemajuan yang besar untuk perfilman Indonesia.

"Ini peningkatan yang perlu kita apresiasi. Walaupun penonton film kita masih jauh di bawah film luar negeri, kita tetap harus bangga dan tidak perlu berkecil hati karena keadaan di luar sana masih sulit untuk perfilman Indonesia. Tapi yang dapat dipastikan, penonton film Indonesia terus meningkat setiap tahun," ujar Dian.

Kepala Forum Film Bandung Eddy D. Iskandar mengatakan, salah satu kendala terbesar film Indonesia adalah belum meratanya bioskop di seluruh Indonesia.

AYO BACA : Cara Menjadi Produser Film ala Lala Timothy yang Pimpin ‘Wiro Sableng’

Banyak kabupaten yang belum memiliki bioskop, sehingga peminat film di beberapa daerah masih rendah. Selain itu, di Indonesia belum ada wadah yang layak untuk pemutaran film-film nasional. 

"Hal ini tentu saja tidak menguntungkan bagi sineas Indonesia karena itu mempersulit mereka untuk bersaing di industri film di skala internasional," ujar Eddy.

Karena di Indonesia belum ada bioskop yang khusus memutar film-film karya dalam negeri, lanjut Edy, akibatnya para sineas Indonesia harus pasrah jika filmnya kurang mendapatkan jatah layar dibandingkan film luar negeri. Pada kenyataannya, pemutaran film Hollywood di bioskop-bioskop Indonesia memang memiliki jangka waktu yang lebih panjang dibandingkan film Indonesia. 

Para sineas Indonesia memiliki tuntutan lebih untuk membuat film yang laku di pasaran. Hal ini karena filmnya akan tutup layar di bioskop jika angka penontonnya tidak mencapai jumlah tertentu dalam rentan waktu yang singkat.

Film festival karya sineas Indonesia pun belum mendapatkan tempat khusus untuk diputar. Menurut Eddy, industri film Indonesia juga harus lebih terbuka pada para sineas baru agar mendapat pandangan baru dan tercipta karya film Indonesia yang lebih beragam dan berkualitas.

AYO BACA : Warganet Sulit Terima Karakter Forky di Film Toy Story 4

"Jatah layar sangat berpengaruh, sutradara-sutradara baru susah mendapatkan layar, sangat terbatas. Kecuali kalau filmnya booming di pasaran," tambah Eddy.

Slamet Rahardjo juga mendukung pernyataan tersebut. Dirinya mengatakan, belum ada pemerintah yang dapat menepati janji untuk merealisasikan bioskop nasional di Indonesia. Namun, menurut pandangannya, masalah utama dalam perfilman Indonesia adalah film belum dianggap sebagai produk ilmu pengetahuan di Indonesia.

"Kebanyakan film di Indonesia masih produk intuisi, bukan akademisi yang ada semacam penelitian, pengkajian, dan yang ada upaya untuk melakukan akademik draf. Karena masih mengandalkan intuisi, mengikuti kesukaan banyak orang, akibatnya karya film yang ada kebanyakan masih berbasis komersial, sehingga kualitasnya kurang," ujar Slamet.

Selain itu, dramaturgi atau struktur dramatik konflik kemanusiaan dalam perfilman Indonesia belum mendalam. Pemahaman nilai kemanusiaan untuk membuat dramaturgi sangat penting agar memanusiakan para kehidupan karakter dalam film. Penulisan sekanario filmnya pun masih semiotika teater, belum semiotika film. Hal ini dapat dinilai dari adegan dan dialog dalam film tersebut. Sebagian besar dialog dalam film mengandung informasi yang terlalu eksplisit, namun tidak memperkuat pesan melalui adegan visual. 

"Misalnya saja kalau ada karakter film yang mengekspresikan rasa kagum, kekagumannya harus dibungkus dengan gambar, bukan dengan kata-kata. Film-film di Indonesia masih sedikit yang menerapkan itu karena semiologinya masih teater, bukan semiologi film," tambahnya.

Slamet Rahardjo juga mengatakan, dengan berbicara di hadapan para mahasiswa prodi Televisi dan Film, dia berharap di masa depan akan ada banyak sineas muda yang dapat menulis skenario film yang baik dan menghasilkan film yang berkualitas. (Alya Dellanita)

AYO BACA : Aruna Jadi Pembuka Festival Film CinemAsia di Belanda

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar