Yamaha NMax

#JusticeForAudrey, Dukungan Warganet untuk Siswi SMP Korban Penganiayaan di Pontianak

  Rabu, 10 April 2019   Fira Nursyabani
Poster #JusticeForAudrey dalam petisi di change.org.

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Kasus penganiayaan seorang siswi SMP oleh 3 siswi SMA di Pontianak telah menyedot simpati warganet di sejumlah jejaring sosial. Di Twitter, tanda pagar (tagar) #JusticeForAudrey bahkan sudah bertengger selama 2 hari sejak kasus itu pertama kali mencuat pada Selasa (9/4/2019).

Mereka menuliskan kata-kata dukungan untuk korban yang saat ini sedang dirawat di salah satu rumah sakit di Pontianak. Para warganet berharap kasus dapat segera diusut tuntas.

Sebuah petisi untuk korban juga telah dibuat oleh Fachira Anindy di change.org, sebagai bentuk kepedulian akan kasus ini. Petisi bertajuk "KPAI dan KPPAD, Segera Berikan Keadilan untuk Audrey #JusticeForAudrey!" itu telah ditandatangani oleh lebih dari 2,5 juta orang pada Rabu (10/4/2019) siang ini.

AYO BACA : Penganiayaan Siswi SMP di Pontianak Diduga karena Motif Asmara

Polresta Pontianak telah secara resmi menangani kasus hukum penganiayaan tersebut. "Secara resmi kami menarik kasus ini dari Polsek Pontianak Selatan untuk ditangani oleh Polresta Pontianak," kata Kasatreskrim Polresta Pontianak, Kompol Muhammad Husni Ramli di Pontianak, Selasa (9/4/2019).

Ia menjelaskan, pihaknya sudah meminta keterangan dari ibu korban penganiayaan. Sementara korban belum bisa diminta keterangan karena masih dalam perawatan intensif.

"Untuk 3 terduga pelaku penganiayaan masih belum dilakukan pemeriksaan karena masih memeriksa saksi-saksi," ujarnya.

AYO BACA : Jokowi Tetapkan 17 April Hari Libur Nasional

Ketua Komisi Perlindungan dan Pengawasan Anak Daerah (KPPAD) Kalimantan Barat, Eka Nurhayati Ishak meminta kepada para awak media agar tidak vulgar memberitakan tentang kasus itu.

Ia menjelaskan, pemberitaan tentang anak tidak vulgar sudah diatur pada UU No.11/2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak yang mewajibkan pemberitaan kasus anak di bawah umur, baik pelecehan mau pun kekerasan agar tidak membuka identitas mereka secara langsung dengan maksud melindungi hak-hak anak tersebut.

"Guna meluruskan permasalahan pemberitaan, apalagi kasus ini sudah viral di media sosial, kami sudah melakukan koordinasi terhadap pihak-pihak sekolah yang bersangkutan. Kami berharap kepada seluruh masyarakat untuk tidak menyudutkan atau membuli kepada pelaku itu," ujarnya.

Menurut dia, KPPAD pada Jumat (5/4/2019) sekitar pukul 13.00 WIB, menerima aduan dari korban yang didampingi langsung oleh ibunya. Dalam aduan itu korban melaporkan dia telah mengalami kekerasan fisik dan psikis, seperti ditendang, dipukul, diseret sampai kepalanya berbenturan ke aspal.

Selain itu korban hingga saat ini masih sedang diopname di salah satu rumah sakit di Pontianak. "Dari pengakuan korban, pelaku utama penganiayaan ada 3 orang, sedangkan 9 orang lainnya hanya sebagai penonton," katanya.

Dalam kesempatan itu, KPPAD Kalbar akan memberikan pendampingan yang sama, baik kepada korban maupun pelaku sebagai pendampingan trauma healing.

AYO BACA : Gojek Jadi Perusahaan Rintisan Indonesia Pertama dengan Status Decacorn

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar