Yamaha Aerox

Tips Supaya Anak Tumbuh Jadi Sosok yang Optimistis

  Selasa, 09 April 2019   Fathia Uqimul Haq
Para peserta workshop menunjukkan hasil karya dalam workshop parenting bersama Nestle Lactogrow di Jalan Cimanuk, Selasa (9/4/2019). (Fathia Uqimul Haq/Ayobandung.com)

BANDUNG WETAN, AYOBANDUNG.COM—Sikap dan sifat seseorang hari ini dipengaruhi oleh latar belakang dan pengalaman pertumbuhan masa kecilnya. Ketika seseorang mudah marah, cenderung pesimistis, dan mudah mengeluhm bisa saja salah satu faktornya karena pemupukan karakter sedari dini yang kurang maksimal. 

Psikolog Elizabeth Santosa mengatakan, untuk memupuk jiwa optimistis, berperilaku positif, dan selalu bersyukur di kemudian hari mesti ditanam sejak dini. 

“Kematangan emosi dan kebahagiaan anak dapat dibantu dengan mempraktikkan perilaku positif, misalnya dengan mengajarkan kebiasaan bersyukur," katanya, dalam workshop Nestle Lactogrow, Selasa (9/4/2019). 

AYO BACA : Jangan Sebut Anak Anda ‘Gendut’, Ini Dampaknya

Anak yang pintar bersyukur akan tumbuh menjadi sosok yang optimistis, berempati tinggi, dan lebih bahagia. Oleh karena itu, orang tua sebaiknya rutin menghabiskan waktu dengan anak, misalnya dengan berolahraga bersama untuk membiasakan gaya hidup aktif. Manfaatnya, olahraga dapat meningkatkan kesehatan psikologis dan fisik.

Memupuk kebahagiaan, katanya, berbeda dengan sekadar senang. Ketika orang tua memberikan rasa senang kepada anak, sifatnya hanya sesaat. Namun, kebahagiaan akan memberikan dampak jangka panjang sehingga terlihat saat ia dewasa. 

Bahagia didapatkan ketika orang tua hadir untuk anak, seperti anak didengarkan, ditemani, diajak jalan-jalan, atau menyanyi bersama. 

AYO BACA : Selingkuh, Ibu Ini Melahirkan Anak Kembar Beda Ayah

"Main bareng serta didengarkan dan dicintai tanpa syarat," ujarnya. 

Selain itu, pentingnya eksplorasi harus ditanam kepada anak-anak. Hal itu bisa dimulai dari melatih anak untuk bercerita dan memaparkan pengalamannya lewat bertanya kabar.

"Ubah pertanyaan apa kabar dengan ada kabar baik apa?" ucap Elizabeth. 

Ketika orang tua menanyakan ada kabar baik apa, anak akan mengingat kembali hal-hal positif sehingga hal negatif akan urung diingat. Manfaat lainnya, anak akan dilatih berbicara, mengungkapkan pendapat, mengeksplorasi kosa kata baru, dan menjadi sosok yang pandai bersyukur. 

Pasalnya, saat ini kebanyakan orang tua dan anak tidak membangun budaya umpan balik. Budaya yang hanya menjawab ala kadarnya membuat seseorang cenderung malas melatih rasa dan pikirannya. Akhirnya, pesimistis dan tidak bersyukur dengan hal-hal baik setiap hari terabaikan.

"Hal-hal itu baik untuk tumbuh kembang anak secara fisik dan mental, meningkatkan kemampuan kognitif melalui eksplorasi dan kreativitas, dan anak mampu memahami cara kerja lingkungan dan dunia sekitar," ujarnya.

AYO BACA : Obesitas Percepat Pubertas pada Anak Laki-laki

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar