Yamaha

Ada Pengaruh Budaya, Banyak Kata yang Sama Punya Makna Berbeda

  Selasa, 09 April 2019   Fathia Uqimul Haq
Peneliti Literasi Pusat Studi Sunda, Atep Kurnia. (Fathia Uqimul Haq/ Ayobandung.com)

BANDUNG WETAN,AYOBANDUNG.COM--Serba-serbi bahasa yang digunakan sering menjadi ambigu saat diucapkan. Bisa jadi punya makna yang berbeda sehingga komunikasi dua arah menjadi tidak efektif akibat penerimaan yang tidak sama. 

Banyak kata, baik dalam Bahasa Sunda, Jawa, maupun Indonesia sekalipun yang memiliki kata sama namun makna berbeda. Atau penyebutan yang cenderung sama tetapi dengan arti yang berbeda. Hal itu bisa jadi menimbulkan kesalahpahaman ketika berkomunikasi dengan orang lain. 

Seperti kata "cokot" dalam Bahasa Sunda yang berarti mengambil, tetapi berbeda dalam Bahasa Jawa yang berarti menggigit. Pun kata "gedang" yang berarti pepaya  dalam Bahasa Sunda, tetapi menjadi pisang dalam Bahasa Jawa. 

Kesamaan kata namun berbeda makna di beberapa bahasa, khususnya di Indonesia ini adalah hal lazim. Karena bahasa mempunyai sifat arbitrer alias sewenang-wenang. 

Peneliti Literasi Pusat Studi Sunda, Atep Kurnia memaparkan sesungguhnya setiap kata yang mengacu pada konsep yang sama itu adalah hal wajar. 

"Bahasa Indonesia disebut kucing, sunda ucing, inggris cat. Itu sesuatu  konsep yang sama tetapi ketika orang menyebutkan konsep itu bisa berlain-lain," ujarnya, kepada Ayobandung.com, Selasa (9/4/2019). 

Dalam kasus lain, ada bahasa yang menjadi kasar atau menjadi halus lantaran telah terjadi proses sosiologi bahasa digunakan dalam lingkup pergaulan orang sunda, maka ia  mengalami distorsi  atau bias dari kata tersebut. 

Atep menyontohkan kata  wengi. Dalam bahasa Sunda, wengi termasuk kata halus. Sementara pada bahasa asalnya yaitu Jawa,  kata  wengi adalah  hal biasa, tidak ada asoiasi halus atau kasar.

Atau kata "dahar" dalam bahasa Sunda yang  biasa dipakai sehari-hari punya identitas sebagai  bahasa loma. Namun, kata "dahar" di Bahasa Jawa menjadi halus disebabkan berkaitan dengan pengaplikasiannya  di Bahasa Sunda. 

"Kemudian  ada semacam deviasi dalam pergaulan orang Sunda," tuturnya.

Kata-kata dalam Bahasa Sunda dan Jawa seringkali sama karena sejatinya bahasa di seluruh kepulauan nusantara satu rumpun. Hampir banyak kata cenderung mirip karena satu bangsa di wilayah Austronesia. 

"Misalnya kata sangu dalam bahasa Sunda artinya  nasi, dalam bahasa jawa, artinya bekel.  Kata bojo dalam bahasa jawa artinya  pasangan, bisa jadi pasangan laki-laki atau perempuan, kalau di Sunda, bojo itu istri," katanya. 

Prinsip bahasa yang arbitrer akan menjadi penanda sebuah konsep dalam suatu masyarakat. Banyaknya pengaruh yang datang ke wilayah tertentu saja akan menimbulkan banyak kosa kata meski dalam konteks yang sama. 

Bahasa Sunda banyak dipengaruhi oleh Bahasa Belanda, Portugis, Indonesia, Inggris, Tamil, bahkan Persia. Di balik itu, bahasa menunjukkan pengaruh yang ditimbulkan bahasa lain. 

"Kata jandela, Sabtu, Minggu, itu 'kan pengaruh Bahasa Portugis," ucapnya.  

Atep menjelaskan, semua kata sebenarnya  berkaitan dengan kata kerja. Misalnya, pada  "Kata-Kata Panganteur" dalam Bahasa Sunda. Seperti am-dahar, berebet-lumpat, dan gedebug-labuh. 

"Kata-kata pengantar tersebut sebenarnya menujukkan kata kerja, apa yang kita gunakan dalam semua bahasa apapun pasti menujukkan kata kerja," ujarnya. 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar