Yamaha Lexi

Fenomena dan Arti di Balik Kata 'Tuman' dalam Bahasa Sunda

  Selasa, 09 April 2019   Fathia Uqimul Haq
Peneliti Literasi Pusat Studi Sunda, Atep Kurnia. (Fathia Uqimul Haq/ Ayobandung.com)

BANDUNG WETAN, AYOBANDUNG.COM -- Beberapa bulan terakhir, kata "tuman" menjadi viral di media sosial. Kata tersebut dijadikan meme dan video-video lucu yang menekankan berbagai kalimat kontradiktif. Tak jarang, akun-akun pembuat konten menyajikan video "tuman" dalam berbagai versinya. 

Misalnya kalimat , "minjem duit tapi ditagih ngamuk, tuman!"" Lalu, "kemarin minta putus, sekarang minta balikan lagi, tuman!" Atau "Disuruh emak ke warung tapi pas sampe warung lupa disuruh beli apaan, tuman!"

Menurut Peneliti Literasi Pusat Studi Sunda, Atep Kurnia, kata "tuman" memiliki arti "biasa". Namun, dalam konteks sedang marah, muncul makna lain yang sama seperti kata "dasar" dalam bahasa Sunda yang kerap digunakan sebagai penekan. 

"Arti aslinya biasa. Misalnya, geus tuman dahar jengkol (sudah biasa makan  jengkol)," ujarnya, kepada Ayobandung, Selasa (9/4/2019). 

Unsur penekanan kata yang sering diucapkan atau didengar selain "tuman" misalnya "teh", "atuh", "aing", "halig ku aing", dan lain-lain menjadi sebuah kata yang umum diucapkan meskipun dicampur dengan bahasa Indonesia atau bahasa lainnya. 

Sehingga tidak aneh jika bahasa Sunda dijadikan bahasa sehari-hari, meskipun itu cenderung kasar, karena pada dasarnya bahasa tersebut mempunyai makna untuk menekankan kalimat dalam berkomunikasi. 

Di sisi lain, bahasa Sunda yang diketahui kasar saat ini pernah menjadi kata yang biasa saja digunakan untuk ke siapa saja sekitar abad 17-18. 

"Seperti fenomena kata aing itu, pada mulanya kata aing itu biasa, kata biasa. Setelah ada pemberlakuan bahasa halus dan kasar sekitar abad 17-18 karena dipengaruhi dari Mataram, bahasa Sunda mengalami penghalusan. Kita mengenal ada pengenalan bahasa halus, bahasa sedang, kasar," papar Atep. 

Mulanya, tidak ada tahapan atau perbedaan bahasa halus dan kasar. Seperti kata "aing" dan "sia" yang termaktub dalam naskah Sunda kuno dilontarkan kepada orang tua zaman dulu. 

Berkaca pada sejarah, tahun 1600-an, selama masa 50 tahun wilayah Priangan dikuasai oleh Mataram. Para bupati Priangan diwajibkan untuk berbakti ke Mataram. Di sana, mereka diajarkan tata etika kebudayaan Jawa. Dari kebudayaan Jawa itulah bahasa Sunda mengenal bahasa halus dan kasar.

"Asalnya egaliter, tidak mengenal bahasa halus dan kasar," ujarnya.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar