Yamaha NMax

Ini Dia Mitos Kesehatan Mental di Masyarakat

  Senin, 08 April 2019   Andri Ridwan Fauzi
Ilustrasi.

LENGKONG,AYOBANDUNG.COM--Terdapat stigma terhadap penderita disabilitas dalam masyarakat umum. Orang yang mengalami gangguan kesehatan mental sering dianggap berbahaya, kerasukan setan, atau dipengaruhi oleh ilmu hitam. Stereotip terhadap penderita disabilitas mental membuat mereka didiskriminasi dan dikucilkan oleh orang-orang di sekitarnya. 

Bahkan berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh gerakan sosial SehatMental.id, pada tahun 2017 terdapat 28,1% penderita disabilitas mental di Indonesia yang dibelenggu di rumah mereka sendiri. Alih-alih mendapat penanganan medis yang layak, mereka malah diisolasi dari kehidupan sosial karena dianggap sebagai 'aib' keluarga dan membahayakan. 

Rendahnya pemahaman akan kesehatan mental justru akan memperparah gangguan mental. Penting sekali untuk memahami kesehatan mental karena hal itu sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Berikut ini adalah mitos-mitos seputar kesehatan mental yang sering kita dengar!

1. Tidak Sehat Mental Berarti Gila 

Anggapan ini sangat sering muncul, bahkan orang yang menemui psikiater pun sering memunculkan konotasi yang tidak baik. Hal ini membuat sebagian besar orang merendahkan penderita gangguan mental dan mengabaikan gejala gangguan mental yang dialaminya sendiri.

Penderita gangguan mental seringkali dicap sebagai warga kelas dua, bahkan tak sedikit yang beranggapan bahwa penderita disabilitas mental tidak layak mendapatkan hak suara di pemilu 2019 ini. Padahal jika gangguan mental yang dialaminya sedang tidak kambuh, hal tersebut tidak akan bermasalah di pemilu 2019 karena penderita disabilitas mental tetap dapat membuat keputusan yang logis. Banyak yang salah kaprah bahwa gangguan kesehatan mental mempengaruhi intelegensi individu. Padahal gangguan mental tidak menyerang kognitif, melainkan keadaan emosional seorang individu. 

Sebuah film Hollywood berjudul A Beautiful Mind merepresentasikan mitos mengenai penderita kesehatan mental. Film yang diperankan Russell Crowe tersebut menceritakan seorang pengajar di Institut Teknologi Massachusetts yang menderita penyakit skizofernia. Walaupun mengajar di perguruan tinggi ternama, orang-orang menganggapnya gila karena dia suka berhalusinasi. Film tersebut merupakan film biografi berdasarkan kejadian nyata di Amerika Serikat pada 1974.

2. Gangguan Mental Disebabkan oleh Kelemahan Individu

Masalah kesehatan mental tidak ada hubungannya menjadi malas atau lemah. Gangguan mental sering kali dianggap sebagai kekurangan, padahal sebenarnya merupakan 'penyakit' atau gangguan kesehatan. Layaknya penyakit pada umumnya, gangguan mental perlu pelayanan medis yang layak. Tidak semudah itu disembuhkan dengan kalimat-kalimat motivasi semata. Kata-kata seperti Begitu saja depresi, Dikit-dikit baper, dan kata-kata yang tidak berempati lainnya yang dapat memperburuk kesehatan mental seseorang.

Penderita disabilitas mental membutuhkan bantuan khusus untuk menjadi lebih baik. Banyak faktor yang berkontribusi terhadap masalah kesehatan mental, yaitu:

- Faktor biologis seperti gen, aktivitas otak, penyakit fisik, luka atau cidera.

- Pengalaman hidup seperti trauma atau tindakan kekerasan di masa lalu.

- Latar belakang keluarga yang memiliki masalah kesehatan mental.

Masalah kesehatan mental yang diderita seseorang dapat membaik bahkan pulih sepenuhnya.

3. Gangguan Mental Tidak Mempengaruhi Saya

Siapapun dapat mengalami gangguan mental, bahkan seorang psikiater dan psikolog sekalipun. Seperti yang telah ditekankan pada poin sebelumnya, gangguan mental merupakan penyakit. Psikiater dan psikolog juga manusia yang bisa terkena penyakit. Logikanya, dokter spesialis jantung pun mungkin saja menderita penyakit jantung. 

Pada umumnya, stres wajar dialami setiap orang. Tidak ada yang memiliki kehidupan sempurna dan terbebas dari masalah di hidupnya. Karena itu tidak ada orang yang benar-benar kebal terhadap gangguan kesehatan mental. 

Menurut hasil survey MentalHealth.gov, bunuh diri merupakan penyebab kematian terbanyak kesepuluh di negara Amerika Serikat. Setiap tahunnya, ada lebih dari 41.000 warga Amerika Serikat yang tewas bunuh diri. Jumlah tersebut dua kali lipat lebih banyak daripada angka kematian yang disebabkan oleh kasus pembunuhan kriminal. Menurut data tahun 2014, 1 dari 25 warga Amerika mengalami gangguan mental yang serius seperti skizofrenia, gangguan bipolar, atau depresi berat.

4. Anak-Anak Tidak Dapat Menderita Gangguan Kesehatan Mental

Setiap individu yang menderita gangguan mental dapat terlihat gejalanya dari sejak berusia dini. Kesehatan mental seorang anak sudah terbentuk sejak masih menjadi janin bahkan dari proses fertilisasi. Kondisi psikis seorang ibu sangat mempengaruhi kesehatan mental janin yang sedang dikandungnya. Gangguan kesehatan mental secara klinis dapat terdeteksi dan dipengaruhi dari interaksi biologis, psikologis, dan faktor sosial. 

Setengah dari populasi penderita disabilitas mental menunjukan gejala awalnya pada usia 14 tahun dan gangguan kesehatan mental mulai terjadi sebelum usia 24 tahun. Sayangnya, baru kurang dari 20% anak-anak dan dewasa penderita disabilitas mental yang mendapat pelayanan medis yang layak. Dukungan awal terhadap kesehatan mental dapat menolong anak sebelum gangguan mental yang dideritanya memburuk seiring perkembangan usianya.

5. Penderita Disabilitas Mental Suka Melakukan Tindak Kekerasan dan Tidak Dapat Diprediksi

Tidak ada riset yang dapat membuktikan bahwa mayoritas penderita disabilitas mental lebih sering melakukan tindakan kekerasan dibandingkan yang tidak. Sebagian besar penderita gangguan mental tidak kasar. Hanya 3%-5% tindak kekerasan yang dapat menghubungkan perilaku individu tersebut dengan gangguan kesehatan mental yang serius. 

Pada kenyataannya, penderita disabilitas mental sepuluhkali lipat lebih sering menjadi korban kekerasan dibandingkan populasi yang lainnya. Orang yang kamu kenal di sekitarmu bisa saja menderita gangguan mental tetapi kamu tidak menyadarinya karena banyak penderita disabilitas mental yang sangat aktif dan produktif di lingkungannya.

6. Orang dengan Gangguan Jiwa Tidak Dapat Produktif dan Bekerja

Orang yang menderita gangguan jiwa sama produktifnya dengan karyawan lain di setiap perusahaan pada umumnya. Perusahaan yang memperkerjakan orang dengan gangguan mental melaporkan, bahwa karyawannya tersebut tepat waktu, memiliki laporan kehadiran yang baik. Bahkan motivasi dan performa kerjanya baik-baik saja dan tidak jauh berbeda dengan karyawan lainnya.

Karyawan dengan gangguan mental layak mendapatkan pelayanan berupa tarif pengobatan yang lebih murah, peningkatan produktivitas, dan kewajiban absensi yang lebih rendah.

7. Penyakit Gangguan Mental Tidak Dapat Disembuhkan

Studi membuktikan bahwa orang dengan masalah kesehatan mental dapat membaik bahkan pulih sepenuhnya. Pemulihan mengacu pada proses di mana orang dapat hidup, bekerja, belajar, dan berpartisipasi penuh di kegiatan sehari-hari mereka. Ada lebih banyak perawatan, layanan, dan sistem pendukung masyarakat di masa sekarang dan mereka terbukti manjur memperbaiki kesehatan mental.

Perwatan untuk masalah kesehatan mental bervariasi tergantung pada individu. Hal tersebut meliputi obat, terapi, atau keduanya. Banyak orang bekerja dengan sistem pendukung selama proses penyembuhan dan pemulihan. 

Dukungan mental dari orang-orang terdekat dapat membuat perubahan besar terhadap perbaikan kesehatan mental. Hanya 44% orang dewasa dengan masalah kesehatan mental yang dapat didiagnosis dan kurang dari 20% anak-anak dan remaja menerima perawatan yang diperlukan. Teman dan keluarga dapat pengaruh penting untuk membantu seseorang mendapatkan perawatan dan layanan yang mereka butuhkan dengan:

- Meyakinkan mereka bahwa kamu akan selalu ada untuk membantu.

- Membantu mereka mendapatkan akses untuk pelayanan kesehatan mental.

- Mempelajari dan membagikan pengetahuan tentang kesehatan mental, serta mengklarifikasi pernyataan yang tidak benar.

- Perlakukan mereka dengan hormat sebagaimana kamu ingin dihormati.

- Tidak melabeli dan menggunakan sebutan gila terhadap penderita disabilitas mental.

8. Tidak Mungkin untuk Mencegah Gangguan Mental

Pencegahan gangguan mental, emosional, dan perilaku berfokus pada mengatasi faktor yang menyebabkan risiko gangguan mental terhadap usia anak, remaja, dan dewasa muda seperti trauma di pengalaman hidup. Mendukung dan mempromosikan kesejahteraan sosial-emosional anak-anak dan remaja mengarah ke:

- Produktivitas hidup yang tinggi.

- Kualitas pendidikan yang baik.

- Tingkat kejahatan yang rendah.

- Keadaan ekonomi yang kuat dan stabil.

- Biaya kesehatan yang terjangkau.

- Peningkatan kualitas dan harapan hidup.

- Lingkungan keluarga yang lebih baik.

Jadi kita sudah tahu bahwa hal-hal yang sering kita dengar tentang kesehatan mental itu tidak sepenuhnya benar. Kesehatan mental perlu dipahami dan penderita disabilitas mental harus dipedulikan. Ayo kita sama-sama belajar untuk membantu orang di sekeliling kita, menjadi pendengar yang baik dan juga 'melek' dengan kesehatan mental. Kalau ada teman kita yang terlihat murung ataupun tidak memiliki gairah, kita bisa melakukan Mental Health Action Plan untuk membuat hati orang lain menjadi indah. Tentu saja yang tidak kalah penting, jangan lupa untuk bahagia dan mensyukuri nikmat hidup yang kita miliki. (Alya Dinda)

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar