Yamaha

‘Falsafah lokal’, Kearifan lokal yang Kini Cuma Bualan?

  Senin, 08 April 2019   Netizen
Ilustrasi. (Pixabay)

Bangsa Indonesia yang pada dasarnya hidup dalam kemajemukan haruslah berbangga. Hal ini karena sampai sekarang Indonesia masih dipeluk oleh Yang Maha Kuasa. Kemajemukan yang suatu saat (mungkin) akan menjadi peluru ini haruslah diwaspadai dengan penanaman nilai-nilai persatuan.

Indonesia pada dasarnya mempunyai falsafah nasional yaitu “Bhinneka Tunggal Ika”. Indonesia yang majemuk mempunyai berbagai macam falsafah/slogan yang menjadi ciri khas dari berbagai daerah. Falsafah yang begitu mendalam artinya ada yang melarang melakukan perbuatan tercela, ada yang meyeru pada kebaikan, adapula yang menjadi penyemangat agar lebih baik lagi. Namun, apakah falsafah itu sudah ada dalam kehidupan berbangsa kita?

Falsafah hidup yang semestinya menjadi pegangan dalam menjalani hidup menjadi sia-sia karena nafsu manusia belaka. Menjadi pekerjaan rumah bagi kita semua agar penanaman nilai-nilai falsafah dalam kehidupan dapat dimaksimalkan.

Contohnya, kita ambil sebuah falsafah Maja labo dahu yang merupakan falsafah Suku Mbojo (Bima). “Maja” artinya malu, “labo” artinya dan, sedangkan “dahu” artinya takut. Falsafah tersebut mengajarkan kepada masyarakat agar mempunyai rasa malu dan takut dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara.

Menjadi masyarakat yang mempunyai rasa malu ketika berbuat tercela dan takut untuk melakukan perbuatan tercela karena ada Tuhan yang mengawasi. Falsafah ini tak sejalan dengan realitas yang terjadi di masyarakat. Kasus-kasus sosial sering terjadi dalam masyarakat yang dapat dilihat dari media media daring.

Kasus seperti perusakan laut dengan bom ikan terjadi karena falsafah tersebut tidak dipahami dan dimaknai, yang paling marak kasusnya adalah terkait narkoba yang hampir setiap bulan menghiasi dinding beranda portal media daring di Bima. 

Kita menuju pada falsafah Jawa, salah satunya Aja kuminter mundak keblinger, aja cindra mundak cilaka. Artinya jangan merasa pandai agar tak salah arah, jangan suka berbuat curang agar tak celaka. Namun, apakah sudah dimaknai oleh kita?

AYO BACA : Belajar Hidup dari Falsafah Urang Sunda

Mungkin masih belum dimaknai. Hal ini dapat dilihat dari beberapa berita yang muncul menunjukkan bahwa mental curang itu masih ada. Penghianatan terhadap falsafah-falsafah yang ada menjadikan bangsa ini menjadi bangsa yang tak punya pendirian, menjadi bangsa yang stagnan.

Hiduik baraka, baukua jo bajangko (hidup berakal, berukur, dan berjangka) merupakan sebuah falsafah hidup dari Sumatera Barat. Mengajarkan kepada kita semua untuk berpikir menggunakan akal, tentunya menggunakan akal sehat dan dalam setiap tindakannya terukur dan tahu mana yang menjadi bagian dia maupun yang tidak.

Intinya, hidup harus mempunyai visi, berpikir jauh ke masa depan, seperti alun dimakan alah taraso, belum dimakan sudah terasa, makanannya belum dimakan tapi sudah terbayang bagaimana rasanya.

Begitulah hidup seharusnya mempunyai visi dan tau kemana arah dan tujuan. Semua terencana dan direncanakan dengan baik. Sebuah penerapan falsafah ini sering digalakkan dalam kehidupan berindonesia. Namun, pada sisi lain, terdapat berita yang menunjukkan ketidakvisioneran pihak yang ada di negeri ini, yang membuat alam dan segala ciptaan tuhan menjadi hancur dan menjadi bumerang bagi masyarakat Indonesia lainnya dan juga pihak itu sendiri. 

Materialisme dan kerakusan membuat manusia menjadi hilang akal sehatnya, menghalalkan segala cara untuk memenuhinya. Menjadikan nafsu sebagai motif untuk menghancurkan bangsa sendiri.

Ke depannnya sebagai bangsa yang ingin maju, Indonesia perlu penanaman falsafah-falsafah hidup yang disebutkan di atas.

Rahmat Zuhair

Peserta Rumah Kepemimpinan Regional 5 Bogor

Netizen :

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar