Yamaha Lexi

Mengenang Kejayaan Komik Lokal di Toko Buku Maranatha Bandung

  Jumat, 05 April 2019   Anya Dellanita
Toko Buku Maranatha yang beralamat di Jalan Ibu Inggit Garnasih No. 148-150a Ciateul, Bandung, tepat di sebrang SDN Ciateul. (Anya Dellanita/ayobandung.com)

REGOL, AYOBANDUNG.COM -- Pasar komik Indonesia memang masih dikuasai oleh komik asal Jepang, Korea, dan Amerika. Namun, di tengah-tengah serbuan dari komik-komik tersebut, masih ada toko buku yang setia menjual komik bikinan komikus dalam negeri.

Nama toko buku itu adalah Toko Buku Maranatha. Toko ini beralamat di Jalan Ibu Inggit Garnasih No. 148-150a Ciateul, Bandung, tepat di sebrang SDN Ciateul.

Toko buku ini juga merupakan toko buku tertua di kota Bandung, yang sudah berdiri sejak 1962. Pendirinya adalah mendiang Marcus Hadi. Nama Maranatha sendiri diambil dari nama universitas tempat Marcus berkuliah.

Toko tersebut memang tidak terlalu besar seperti toko buku pada umumnya. Ukurunnya mungkin hanya sekitar 7x3 meter. Namun, koleksinya cukup banyak.

"Sekarang ada sekitar 300 buah bukunya. Sudah gak sebanyak dulu, tapi lumayan lah. Di sini nerbitin 3-4 bulan sekali, 1 judul buku," kata pemilik sekaligus istri mendiang Marcus, Herlina, saat berbincang dengan ayobandung.com, Jumat (5/4/2019).

AYO BACA : Tambah Minat Baca Lewat Pesta Buku Bandung 4-10 April 2019

Menurut Herlina, peminat bukunya memang tidak sebanyak dulu saat suaminya masih hidup. Dia menceritakan keadaan toko pada 1980-an, saat Maranatha ada di puncak kejayaannya.

"Awalnya toko ini kan dibuat si Om (Marcus) yang suka bikin cerita bergambar. Terus ada komikus yang nitip juga karyanya ke sini, makin banyak yang beli tuh. Sampai akhirnya pas tahun 1980-an, kita bisa jual 2 ribu eksemplar komik setiap hari," kata Herlina.

Namun sayangnya, hal tersebut tidak berlangsung lebih lama lagi. Pasalnya, komik-komik asal Jepang sudah mulai masuk ke Indonesia. "Ya habis itu mulai masuk komik-komik Jepang. Komik Indonesia jadi lumpuh. Mungkin sudah saatnya kami mundur," ujarnya.

Namun, meski hampir menyerah, Herlina tetap setia melanjutkan usahanya tersebut sampai sekarang. "Sebenarnya si Om (Marcus) sempat berpesan (sebelum meninggal) supaya toko tetap diteruskan. Tapi anak dan cucu tidak ada yang minat. Semuanya pilih jalannya masing-masing, ada yang jadi dokter, arsitek dan kerja di bank," kata dia.

"Toko ini akan tetap buka terus. Untuk masa tua saya juga ketimbang bengong. Saya sudah tidak memikirkan untung rugi sekarang. Anak-anak juga sudah mandiri dan berkeluarga," tambahnya.

AYO BACA : Ayo, Baca Buku Biar Tambah Pengetahuan di Perpustakaan Keliling

Herlina juga mengaku akan tetap melanjutkan bisnisnya tersebut karena walaupun sepi, tetap saja masih ada yang mencari. Biasanya seorang kolektor, atau seorang penggemar setia karya-karya tersebut.

"Walaupun sepi, masih ada saja yang nyari. Biasanya kolektor atau yang emang suka pas zaman dulu dia masih SMP/SMA kan bacaannya cuma ada itu. Jadi sayang juga," kata Herlina.

"Biasanya banyak yang suka nyari cerita wayang, anak muda juga masih suka ada yang nyari," tambahnya.

Untuk harga, buku-buku di Toko Buku Maranatha dibanderol dengan harga beragam, mulai dari Rp 20 ribu hingga Rp 500 ribu, tergantung ketebalan dan keantikannya.

Herlina bercita-cita untuk tetap meneruskan bisnisnya ini sampai hembusan nafas terakhir. Dia juga berharap anak muda sekarang bisa tertarik untuk membaca buku-buku jadul tersebut.

"Ya saya pasti meneruskan toko ini sampai saya dipanggil. Saya juga ingin anak muda sekarang bisa banyak yang ke sini. Semoga yang perangko gambar pahlawan komik Indonesia itu bisa menarik perhatian mereka," tuturnya.

AYO BACA : Ayo Belajar Sejarah di Taman Sejarah Bandung

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar