Yamaha NMax

UKRI Lepas Mahasiswa Mengabdi ke Berbagai Titik di Jawa Barat

  Rabu, 03 April 2019   Eneng Reni Nuraisyah Jamil
UKRI Lepas Mahasiswa Mengabdi di Berbagai Titik di Jawa Barat. (Eneng Reni Nuraisyah Jamil/ayobandung.com)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI), melepas 75 mahasiswa UKRI untuk diterjunkan langsung ke tengah masyarakat dalam rangka pelaksanaan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Pelaksanaan pengabdian ini merupakan bagian dari rencana pra-pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang akan diterapkan secara penuh dalam kurikulum di berbagai fakultas dan program studi (prodi) di lingkungan UKRI. 

Rektor Universitas Kebangsaan Republik Indonesia, Boyke Setiawan menyampaikan, kegiatan tersebut sebagai pra-KKN yang sedianya akan dilaksanakan di semester 7. Kegiatan pra-KKN ini sekaligus menunjukkan bahwa mulai semester depan KKN merupakan mata kuliah wajib yang harus ditempuh mahasiswa selama belajar di UKRI.

"Seperti halnya perguruan tinggi lain, UKRI memiliki Tridharma perguruan tinggi yakni pengabdian kepada masyarakat, penelitian dan pengajaran. Kebetulan saya bertugas sudah satu tahun lebih di UKRI sebagai rektor, kami merencanakan pengabdian masyarakat untuk digalakan. Maka hari ini kita canangkan. Ada tim dokter, perawat kita bawa,” jelas Boyke usai melepas rombongan mahasiswa di kampus UKRI, Jalan Terusan Halimun Bandung, Rabu (3/4/2019).

Boyke menambahkan, kegiatan pengabdian yang akan dilaksanakan para mahasiswa ini memiliki sejumlah daerah sasaran yakni Jawa Barat (18 kabupaten/kota), DKI (Jakarta Barat, Jakarta Utara, Jakarta Selatan), dan Banten (Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Tangeran Selatan, dan Lebak).

AYO BACA : Praktik Kerja Lapangan, Solusi Memperkenalkan Mahasiswa di Dunia Nyata

Maka dari itu, untuk menyinergikan kegiatan ini dikoordinasikan dengan organ yang terdapat di struktur UKRI yaitu, LPPM (Lembaga Pengabdian Pada Masyarakat) dan Lapitek (Lembaga Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) UKRI. Keterkaitan LPPM, sambung Boyke, berkenaan dengan bentuk-bentuk pengabdian yang seusai dengan pola dan arah perguran tinggi. Sementara pelibatan Lapitek dalam rangka pengamalan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi di tengah masyarakat. 

"Kami ingin melahirkan generasi penerus para pemimpin bangsa yang memiliki kompetensi, tangguh, jujur dan dekat dengan rakyat. Menurut kami untuk dekat dengan rakyat itu mahasiswa harus turun, dan keluar kampus khususnya ke desa-desa terpencil yang belum dijamah petugas kesehatan. Mahasiswa ini harus ngerti apa yang terjadi di luar sana, jangan apatis, gak pedulian, dateng-kuliah- belajar-pulang, bukan itu,” jelas Boyke.

Boyke menambahkan, para mahasiswa yang melaksanakan pengabdian ini akan mendarmabaktikan ilmu dan kemampuanya selama sepuluh hari ke depan, dengan salah satu bentuknya berupa layanan pengobatan gratis.

“Perjalanan mahasiswa ini 10 hari. Mahasiswa yang dilibatkan sekitar 75 orang. Satu tim akan terdiri dari tujuh orang. Kegiatannya itu dokter keliling, penyuluhan, dan setelah kembali dari desa mahasiswa ini harus membawa laporan terkait kondisi desa, sebagai bahan acuan tim dosen untuk menyiapkan tim melakukan LPPM terpadu. Ini juga sebagai acuan untuk LPPM terpadu dosen, dan persiapan pra-KKN mahasiswa nanti," ujarnya. 

AYO BACA : Binus University Online Learning Kini Hadir di Bandung

Dalam kesempatan yang sama, Ketua LPPM UKRI, Rohmannijar Setiadi menyampaikan, Tridharma perguruan tinggi menjadi tugas pokok pihak universitas untuk menyampaikan atau mendidik para mahasiswa bukan sekadar hanya pandai dari sisi hard skill, melainkan juga dari sisi soft skillnya.

Alhasil salah satu langkah yang digunakan untuk melatih keterampilan tersebut dengan mendidik mahasiswa untuk melakukan pengabdian kepada masayarakat dengan dibimbing oleh para dosen.

"Mahasiswa diharapkan lebih mengenal lingkungannya, lebih peduli. Buat kami mahasiswa tidak bisa berpangku tangan dengan kondisi yang terjadi di lingkungan kita, hahah-heheh main medsos, selesai, bukan itu tujuan kita. Tapi kami ingin bagaimana mengajak mahasiswa melihat situasi riil sehingga terjun ke masyarakat nanti di manapun mereka berada akan paham apa yang harus dilakukan," kata Nijar.

Nijar mencontohkan, banyak kondisi daerah di masyarakat yang desanya jauh dari sarana fasilitas kesehatan umum, atau keterbatasan transportasi. Sehingga untuk menjadi pemicu tingkat kepedulain pada kondisi riil tersebut, pihaknya menuntuk mahasiswa harus miliki kepekaan terhadap lingkungan sosial. 

"Jadi bukan sekadar kami ingin menciptakan generasi yang cerdas tapi juga generasi yang peduli. Ke depan Indonesia mungkin bukan hanya membutuhkan orang cerdas tapi orang yang peduli dan memahami kondisi riil di negeri ini," katanya.

AYO BACA : Era Industri 4.0 Banyak Otomatisasi, Mahasiswa Seni Dituntut Wirausaha

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar