Yamaha NMax

Sejarah Angkutan Umum Bandung: dari Pedati hingga Damri

  Selasa, 02 April 2019   Nur Khansa Ranawati
Bus Damri jadul di Museum Transportasi TMII. (museumtransportasitmii)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Kehadiran angkutan umum di Kota Bandung memiliki sejarah yang cukup panjang. Berdasarkan keterangan pemerhati sejarah Bandung, Sudarsono Katam dan Lulus Abadi melalui buku Album Bandoeng Tempoe Doeloe, pada 1740-an kawasan Bandung hanya memiliki jalan setapak. Jalan tersebut sehari-harinya dilalui 'alat angkut' tradisional meliputi tandu, sapi, kerbai, kuda, hingga pikulan. 

Di era kolonial Belanda, Gubernur Jenderal H.W Daendels kemudian membangun Jalan Raya Pos (Grote Postweg) sejak 1810. Fungsinya menggantikan jalan setapak penghubung Batavia dengan 'Negorij Bandoeng'--sebutan koloni Belanda untuk kawasan Bandung--yang telah ada sejak 1786. Dari situlah kemudian alat transportasi lain bermunculan.

Pada era 1890-an warga Bandung mulai mengenal sepeda, atau biasa dikenal dengan istilah 'kereta angin'. Hadirnya teknologi sepeda tersebut juga mulai diadaptasi menjadi sarana angkutan massal lewat pedati. 

Kala itu, pedati bekerja dengan ditarik sapi atau kerbau, juga tak luput diberi tenda sebagai peneduh. Pedati terus menjadi sarana angkutan orang dan barang hingga 1900-an, dan kuda saat itu juga sudah banyak digunakan sebagai penarik pedati di samping sapi dan kerbau.

AYO BACA : Angkutan Klasik Bandung: Karena Damri Tak Boleh Mati

Meski demikian, di era pertengahan 1900-an, sebagian petinggi-petinggi koloni Belanda sebenarnya sudah memiliki kendaraan pribadi berupa mobil uap. Mobil jadul tersebut kebanyakan dimiliki oleh para pengusaha perkebunan teh atau Preanger Planters.

Saat itu, sepeda motor mulai masuk ke Bandung dan banyak dilirik oleh warga. Sebagai bentuk 'kereta angin' yang dapat melaju jauh lebih cepat karena dilengkapi mesin, sepeda motor kala itu banyak dijuluki sebagai 'kereta setan'. Dari sana kendaraan-kendaraan bermotor di Bandung mulai muncul secara lebih masif, mulai dari mobil hingga sepeda motor jadul.

Namun, jangan bayangkan jalanan Bandung kala itu dipenuhi kendaraan bermotor seperti sekarang. Pasalnya, transportasi massal kala itu masih berbentuk tradisional. Selain pedati, ada pula becak yang sejarah kemunculannya sebenarnya tidak terlalu jelas. Salah satu sejarah munculnya becak tersirat dari kematian salah satu mantan Walikota Bandung, Ir.H. Oekar Bratakoesoemah, yang dikabarkan tewas ditikam serdadu Jepang ketika sedang menaikki becak di Logeweg (Jalan Wastukencana) sekitar akhir tahun 1940-an. 

Masuknya Damri
Saat Indonesia masih berada dalam genggaman Jepang, layanan angkutan barang salah satunya dilakukan oleh perusahaan transportasi Jawa Unyu Zigyosha untuk barang, dan Zidosha Sokyoku untuk penumpang. Pada 1945, selepas Indonesia merdeka, keduanya beralih nama menjadi Djawatan Pengangkoetan untuk angkutan barang dan Djawatan Angkutan Darat untuk angkutan penumpang.

AYO BACA : Angkutan Klasik Bandung: Mengenang Masa Lalu Sambil Wisata dengan Damri Jadul

Setahun kemudian, melalui Makloemat Menteri Perhoeboengan RI No.01/DAM/46, kedua djawatan tersebut digabung menjadi Djawatan Angkoetan Motor Repoeblik Indonesia disingkat Damri. Tugas utama Damri adalah melayani kebutuhan angkutan masyarakat sekaligus membantu mempertahankan kemerdekaan di era Agresi Militer Belanda.

Tidak diketahui secara persis kapan Damri pertama kali hadir di Kota Bandung. Namun, pada 1950-an, Damri telah memiliki terminal penumpang yang beroperasi di Jalan Cikapundung Timur. Bus Damri kala itu bentuknya serupa opelet atau omprengan dengan luas yang lebih memadai, berjenis otobis.

Rute yang dilayani Damri di era tersebut meliputi Cicadas-Alun-alun, Alun-Alun-Andir, dan Alun-Alun-Dago. Terminal tersebut pada saat itu sudah dilengkapi dengan loket pembelian karcis dan tempat menunggu penumpang.

Meski demikian, saat itu Damri bukanlah satu-satunya angkutan umum di Kota Bandung. Pasalnya, tercata pula hadirnya angkutan dalam kota (angkot) yang terminalnya terletak di Alun-alun Selatan, bersama kereta kuda, sado dan delman. Sementara, Alun-alun Utara dipakai sebagai terminal sebagian angkot dan tempat parkir kendaraan pribadi. 

Memasuki era 1980-an, meski jalurnya belum banyak, Damri menjadi transportasi publik yang memiliki rute andalan Cicaheum-Cibereum, Kalapa - Buah Batu, Kalapa- Dago, dan Kalapa- Ledeng. Setelah Damri berkembang di lima rute, angkot pun semakin menguasi jalur.

Sejak saat itu, ada pembagian tidak tertulis bahwa Damri hanya melayani jalur utama yang punya jalan lurus. "Sedangkat angkot sisanya," kata Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Jabar, Sony Sulaksono sebagaimana yang dimuat Ayobandung.com pada artikel Angkutan Klasik Bandung: Mengenal Sejarah Perkembangan Angkutan Umum Bandung, Jumat (29/3/2019). 

AYO BACA : Angkutan Klasik Bandung: Potensi Wisata di Balik Bus Damri Jadul

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar