Yamaha

Jokowi, K-pop, dan Dangdut

  Senin, 01 April 2019   Redaksi AyoBandung.Com   Netizen
Presiden Joko Widodo dalam sebuah acara di Kota Solo, Jawa Tengah (Djoko Subinarto)

Presiden Joko Widodo menilai dangdut lebih bagus ketimbang K-pop. Hal itu diungkapkannya ketika berbincang dengan para siswa SMA Taruna Nusantara Magelang, di Istana Bogor, belum lama ini.

"Kita boleh saja lihat K-pop. Tapi, kita kan juga punya musik yang lebih bagus. Keroncong, dangdut, lagu daerah yang kita miliki," kata Presiden Joko Widodo, seperti dikutip sejumlah media.

Perkataan Presiden Joko Widodo boleh jadi benar. Korea mungkin boleh bangga punya K-pop. Tapi, Indonesia semestinya bangga punya dangdut. Bagaimanapun, dangdut identik dengan Indonesia. Dangdut is the music of my country, begitu kata para personel Project Pop.

Menurut Andrew N Weintraub, Professor Musik di Universitas Pittsburgh, Amerika Serikat, yang juga penulis  buku bertajuk Dangdut Stories: A social and Musical History of Indonesia ‘s Most Popular Music, salah satu aspek yang membuat musik dangdut mudah digemari masyarakat Indonesia karena lirik lagunya sederhana, mudah dipahami, dan memanfaatkan situasi keseharian yang dialami khalayak ramai. Lebih lanjut, Weintraub menyatakan, dangdut sudah menjadi bagian dari kehidupan rakyat di republik ini.

Menilik asal-usulnya, dangdut merupakan hasil perkawinan musik Melayu, musik gambus, dan musik India. Kata dangdut merujuk kepada bunyi tabla (sejenis gendang dalam musik India) yang menjadi salah satu instrumen yang digunakan dalam musik dangdut.

AYO BACA : AYO PEMUDA: Jaya Abadi Band, Bangga Bawakan Musik Dangdut

Majalah musik Aktuil disebut-sebut sebagai pihak yang pertama kali memopulerkan istilah dangdut di tahun 1970-an. Istilah ini digunakan untuk menyebut musik melayu yang dipengaruhi oleh musik India.

A Rafiq, Camellia Malik, Elya Khadam, Elvy Sukaesih, Ida Laila, Latief, Mansyur S, Muchsin Alatas, Rhoma Irama, Rita Sugiarto, Wiwiek Abidin merupakan sebagian figur yang ikut memelopori munculnya musik dangdut modern.

Elvy Sukaesih dan Rhoma Irama bahkan sempat dinobatkan sebagai Ratu dan Raja Dangdut Indonesia.

Mempertimbangkan bahwa dangdut merupakan musik yang digemari oleh banyak kalangan di negeri ini, lembaga penyiaran, baik itu stasiun radio maupun stasiun televisi, tidak ketinggalan memasukkan program-program musik dangdut sebagai "menu jualan" mereka.

Terbukti, berdasarkan sejumlah survei, program-program musik dangdut hingga saat ini masih memiliki rating yang lumayan bagus.

AYO BACA : Riset: Gen Milenial Indonesia Lebih Suka Dangdut, Ketimbang Jazz dan Rock

Sayangnya, ada kecenderungan belakangan ini yang meneguhkan bahwa dangdut identik pula dengan hal-hal sensual dan erotis. Hal ini boleh jadi lantaran keberadaan sebagian para penyanyi dangdut yang, entah disengaja atau tidak, memilih untuk tampil dengan seronok serta mengumbar bermacam jenis goyang sensual dan erotis. Tidak cuma dalam soal tampilan, akhir-akhir ini lirik lagu-lagu dangdut pun dipenuhi hal-hal berbau seksual dan vulgar.

Mempertimbangkan kontennya yang mengusung hal-hal berbau seksual dan vulgar, Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Jawa Barat, beberapa waktu lalu, misalnya, sempat melakukan pelarangan dan pembatasan penyiaran sejumlah lagu dangdut di stasiun radio maupun stasiun televisi.

Lagu yang dilarang untuk disiarkan adalah Paling Suka 69 yang dinyanyikan oleh Julia Perez, Wanita Lubang Buaya (Mirnawati), Simpanan (Zilvana), Hamil Sama Setan (Ade Farlan), Mobil Bergoyang (Asep Rumpi dan Lia MJ), Apa Aja Boleh (Della Puspita), Hamil Duluan (Tuty Wibowo), Mucikari Cinta (Rimba Mustika), Satu Jam Saja (Zaskia Ghotic), Melanggar Hukum (Moza Kirana), Cowok Oplosan (Geby Go), Merem-Merem Melek (Ellicya) dan Gak Zaman Punya Pacar Satu (Lolita).

Adapun lagu yang dibatasi penyiarannya adalah Belah Duren (Julia Perez), Cinta Satu Malam dan Aw Aw (Melinda), Gadis Bukan Perawan (Linda Moy Moy), Berondong Tua (Siti Badriah), Janda Rasa Perawan (Varra Sahara), Geboy Mujaer (Ayu Ting Ting), Perawan atau Janda (Cita Citata), Aku Pengen Dipacarin (Diora Anandita) dan Jablay (Titi Kamal).

Menurut KPID Jawa Barat, lagu-lagu tersebut dinilai berkonten porno serta mengumbar sensualitas sehingga melanggar UU No 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran dan Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS)

Tentu saja, masalah erotisme dan hal-hal berbau seksual serta vulgar dalam lagu dangdut merupakan tantangan besar bagi para musisi dan penyanyi dangdut kita. Dangdut sesungguhnya bisa jauh lebih bagus dan go international apabila mampu ditampilkan dengan elegan, tanpa dihiasi dengan tampilan serta goyang sensual, erotis dan seronok, dibarengi pula dengan lirik-lirik yang jauh dari hal-hal yang berbau seksual serta vulgar.

Kita ingin dangdut kita lebih berkualitas. Dengan begitu, dangdut bakal ikut berkontribusi secara signifikan bagi meningkatnya derajat musik Indonesia dan sekaligus kian menumbuhkan kebanggaan di hati warga Indonesia.

Djoko Subinarto

AYO BACA : Syahrini Laporkan Penyanyi Dangdut kepada Polisi

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar