Yamaha Aerox

Rahasia Yamin Arang Pak Doyok Sejak 1970-an

  Jumat, 29 Maret 2019   Erika Lia
Tarsono alias Pak Doyok tengah mengolah yamin buatannya yang memanfaatkan arang sebagai bahan bakar, di Jalan Pekarungan, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon. (Erika Lia/Ayobandung.com)

LEMAHWUNGKUK, AYOBANDUNG.COM—Mengandalkan bayangan dari sebatang pohon yang tumbuh di tepian Jalan Pekarungan, Kelurahan Panjunan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Pak Doyok (65), melayani setiap pelanggan yang menghampiri gerobak dorongnya.

Tidak ada tulisan apapun pada gerobak yang menandai merk dagangnya. Keberadaan pria beranak lima di balik gerobaknya sendiri itu sudah menjadi 'undangan' bagi para penikmat Yamin Arang Pak Doyok yang terkenal.

Pembeli cukup mengambil tempat di emperan salah satu toko yang berjajar rapat di sepanjang jalan itu. Setidaknya lima kursi plastik disiapkan Pak Doyok di sana bagi para pelanggannya.

Sesuai namanya, yamin buatan Pak Doyok diolah menggunakan arang. Pertama, dia merebus air kaldu di atas kompor berbahan bakar arang. Saat air di dalamnya sudah mendidih, dimasukanlah mi, baso tahu, baso, siomay, dan sayuran hijau.

Setelah beberapa lama, tiriskan sejenak mi dan bahan lainnya, sebelum kemudian dimasukkan dalam mangkuk. Tambahkan kecap, sambal atau saos tomat, sesuai selera dan yamin arang buatan Pak Doyok siap dinikmati. 

"Semua bahannya, mulai dari mi, baso tahu, baso, sampai sambalnya, saya buat sendiri bersama istri," katanya saat ditemui Ayocirebon.com, Jumat (29/3/2019).

Mi yang dibuat Pak Doyok berbentuk gepeng (pipih). Suami dari Karti ini mengatakan, minya sengaja dibuat gepeng supaya berbeda dengan yang lain. Seporsi mi arang Pak Doyok dihargai Rp14.000.

Pria bernama asli Tarsono asal Pemalang, Jawa Tengah, itu telah menetap di Kota Cirebon sejak sekitar 1970 bersama sang istri. Sejak itu, dirinya sudah berjualan yamin arang.

AYO BACA : Kuliner Bandung: Basmi Lapar dengan Bakso Balap

"Tapi, dulu punya orang lain. Saya jajakan saja keliling," ujarnya.

Waktu itu sekitar 1972, Pak Doyok beroleh gaji Rp125 dari orang yang memiliki usaha yamin arang. Padahal, hasil jualan yang dia setorkan kepada pemilik bisa mencapai Rp500.

Setidaknya selama lima tahun Pak Doyok bekerja untuk orang lain, sebelum kemudian memutuskan berjualan sendiri pada sekitar 1977 hingga kini. Dari kawasan Jalan Pandesan, Kecamatan Pekalangan, tempat dia semula berjualan, Pak Doyok pun akhirnya memilih Jalan Pekarungan sebagai lokasi tetapnya berjualan.

Sejak awal berjualan hingga sekarang, dia setia dengan gerobak dorongnya. Pilihan itu bukan karena dia tak mampu mendirikan tenda, melainkan lebih pada alasan kepraktisan.

"Kalau ada operasi penertiban lebih cepat dorong gerobak daripada harus bongkar tenda," ungkapnya seraya terkekeh.

Karena itulah, Pak Doyok hanya mengandalkan atap-atap dan emperan toko sebagai 'lapaknya' berjualan. Usahanya dibuka sejak pukul 12.30-16.30 WIB. Tapi, waktu itu pun berlaku fleksibel, tergantung situasi yang dihadapi Pak Doyok.

Dari yamin olahannya, Pak Doyok menyediakan dua rasa, manis, dan asin. Pembedanya hanya pada kecap yang dia campurkan pada olahan mi.

"Kalau mau yamin asin, pakai kecap asin. Kalau mau yamin manis, pakai kecap manis," tukasnya.

AYO BACA : Kuliner Bandung: Makan Bakso di Hotel Cuma Rp25.000

Yamin arang buatan Pak Doyok memang tergolong lezat. Tak heran bila disebut terkenal mengingat pelanggannya pun tak sedikit.

Tak bisa disangkal, rahasia paling nyata dari mi olahan Pak Doyok berada pada arang yang dia gunakan sebagai bahan bakar. Dengan suatu cara, arang yang digunakannya untuk merebus mi dan bahan lain dalam air kaldu, membuat keseluruhan yamin buatan Pak Doyok mengundang ketagihan.

Pak Doyok bukan tak tahu rahasianya yamin buatannya ada pada arang. Suatu kali, dia pernah mengganti bahan bakarnya olahan minya dengan elpiji. Upaya itu hanya berjalan lima hari.

"Nggak laku," cetusnya seraya tertawa.

Para pelanggan mengomentari rasanya tak seenak saat dirinya mengolah dengan arang. Jadilah dia kembali menggunakan arang.

Setiap hari, setidaknya dia menyiapkan 3,5 kilogram arang yang dibungkus dalam plastik besar. Saat ini, harga arang Rp6.000 per kg.

Uniknya, dari pemanfaatan arang, sebagaimana penuturan Pak Doyok, saat jualannya sepi, dirinya bisa menghabiskan satu plastik arang. Kala jualannya ramai pembeli, arang dalam plastik besar itu justru menyisa.

"Ketika pembeli ramai, api terus-terusan membakar arang. Jadinya, tak ada arang yang sia-sia," tuturnya.

Dalam sehari, Pak Doyok biasanya melayani 50 piring yamin arang. Jumlah itu jauh berkurang dibanding dulu yang bisa mencapai 200 piring per hari.

"Mungkin karena sekarang sudah tua, faktor tenaga bikin kemampuan saya melayani juga berkurang," pungkasnya.

AYO BACA : Kupat Tahun Mangunreja, Bertahan Sejak Zaman Belanda

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar