Yamaha Aerox

Kisah Anak Rantau dalam Pemilu

  Kamis, 28 Maret 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Ilustrasi pemilu. (Satrio/Ayobandung.com)

Beberapa minggu lagi, tepatnya 17 April 2019, Indonesia akan mengadakan pesta demokrasi yaitu pemilu. Pemilu tahun ini dilakukan secara serentak di seluruh Indonesia dalam pemilihan legislatif maupun pemilihan presiden dan wakil presiden. Berbagai persiapan pun telah dilakukan oleh berbagai pihak demi kelancaran pemilu tahun ini.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2017, Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) mencapai angka 72,11 dari skala 0-100. Angka ini meningkat daripada tahun 2016 yang hanya mencapai angka 70,09.

Sedangkan pada tahun 2017, empat provinsi yang memiliki angka IDI mencapai di atas 80 (kategori baik) yaitu DKI Jakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kalimantan Utara, dan Kepulauan Bangka Belitung.

Menurut BPS, IDI merupakan indikator komposit yang menunjukkan tingkat perkembangan demokrasi di Indonesia. Sejak tahun 2009, BPS bersama Kemenkopolhukam, Bappenas, Kemendagri, UNDP, dan tim ahli merumuskan pengukuran IDI.

AYO BACA : Pengajak Golput Diancam Pidana

Tingkat capaian IDI diukur berdasarkan pelaksanaan dan perkembangan tiga aspek demokrasi yaitu kebebasan sipil, hak-hak politik, dan lembaga demokrasi. Oleh karena itu, pelaksanaan pemilu tahun ini juga akan memengaruhi IDI.

Menjadi anak rantau pun memiliki kisah tersendiri untuk berkontribusi dalam pelaksanaan pemilu tahun 2019. Lokasi tempat tinggal saat ini jauh dari kediaman orang tua. Padahal di daerah tempat tinggal tersebut tempat perantau memilih. Perantau pun bingung jika kondisinya seperti ini.

Mengapa bingung? Hal ini karena untuk pulang ke kampung halaman tidak hanya mengorbankan waktu, tetapi juga biaya. Apalagi ketika lokasi tanah rantau berbeda pulau dengan lokasi kampung halaman. Beberapa dari mahasiswa pastinya akan memikirkan kembali keputusan mereka, apakah pulang ke kampung halaman untuk ikut pemilu atau lebih memilih “golput” dalam pemilu kali ini.

Namun, sangat disayangkan apabila terjadi golput di antara mahasiswa gara-gara permasalahan tersebut. Pesta demokrasi terbesar tahun ini yang digunakan untuk memilih pemimpin bangsa selama periode lima tahun ke depan, peran mahasiswa sebagai pemilih pun sangat diperlukan.

AYO BACA : Pemerintah Nyatakan Sudah Bersihkan Daftar WNA Pemilik E-KTP dari DPT

Dalam mengatasi kasus tersebut, KPU tidak tinggal diam. Masyarakat yang tidak dapat menggunakan haknya untuk memilih di TPS tempat yang bersangkutan terdaftar dan mereka pun akhirnya dapat memberikan suara di TPS lain. Hal tersebut telah diatur di dalam PKPU Nomor 37 Tahun 2018 pasal 36 ayat 2 dan 3.

Selain itu, di beberapa kampus terdapat fasilitas yang memudahkan mahasiswa untuk dapat melaksanakan pemilu. Beberapa di antaranya mungkin dapat dilakukan oleh organisasi atau komunitas di kampus tersebut dengan cara; Pertama, memastikan mahasiswa tersebut terdaftar di TPS daerah asal.

Kedua, memfotokopi  KTP serta menuliskan nomor kartu keluarga. Ketiga, mengisi formulir seperti nama, tempat tanggal lahir, alamat tempat tinggal saat ini, dan nomor ponsel yang dapat dihubungi.

Keempat, mengumpulkan berkas-berkas tersebut secara kolektif kepada pihak organisasi atau komunitas di kampus tersebut. Hal ini agar memudahkan dalam mengurus berkas-berkas agar dapat dilakukan pemilu di bukan TPS daerah asal.

Oleh karena itu, mari berkontribusi dalam Pemilu tahun 2019. Jangan biarkan alasan jarak membuat kita tidak menjadi warga negara yang baik.

Dyah Makutaning Dewi

Mahasiswi Politeknik Statistika STIS

AYO BACA : Jelang Pemilu, Google Beri Perlindungan Anti-Hacker

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar