Yamaha Aerox

Tahu Sumedang Sukaati, Bisnis Warisan hingga 5 Generasi

  Sabtu, 23 Maret 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Tahu Sumedang Sukaati.(Wisnu)

Tahu sumedang merupakan makanan berbahan dasar kedelai yang berasal dari tanah Sumedang. Produk tahu ini sudah terkenal hampir di seluruh wilayah pulau Jawa. Perbedaan dari tahu lainnya, dengan tekstur lembut, warna coklat, dan rasa yang sedikit asam menjadi ciri dari tahu ini. Terlebih ditambah dengan kecap pedas atau cabai hijau sebagai pelengkap makanan ini.

Usaha ini nyatanya tidak hanya berkembang di daerah Sumedang saja. Jusup seorang pengusaha tahu membuka usaha tahunya di Kota Bandung, tepatnya Jalan Sukaati Raya Blok F & G No 13, Pasirluyu, Regol, Bandung, Jawa Barat 40254. Bersama istrinya, Sulastri, Jusup mengembangkan usaha tahu sumedang hingga mampu menjual sekitar 5000 tahu setiap harinya.

“Kalau di weekend bisa sampai 10.000 tahu kadang," ujar salah satu pegawai sambil melayani pelangganya.

Usaha yang digelutinya dari tahun 2004 ternyata mampu dipasarkan hingga ke beberapa daerah di Kota Bandung, diantarnya adalah daerah Batununggal, Tegalega, dan Waas.

Proses pembuatan tahu sumedang yang dilakukan oleh Jusup bersama para pegawainya mampu menghabiskan sekitar 100 kilogram kedelai setiap harinya. Kedelai ini kemudian diolah dalam satu ember sebanyak 7 kilogram setiap embernya. Proses produksinya sendiri biasanya dimulai dari sekitar pukul 3 pagi hari hingga pukul 8 pagi. Kemudian akan dimulai produksi kembali sekitar pukul 1 siang hingga sore hari.

Produk yang dibuat oleh Jusup merupakan salah satu bentuk industri rumahan. Tahu sumedang yang dijual oleh Jusup juga telah bersertifikasi halal dan mempunya merk yang legal sejak tahun 2008. Tahu sumedang ini juga hanya dijual dalam bentuk matang. Tidak hanya itu, dalam proses produksinya tahu sumedang Jusup sama sekali tidak menggunakan pengawet dan bahan perasa lainnya. Rasa asam yang dihasilkan berasal dari proses alami yang diolah pada dapur produksi Jusup.

“Iya, jadi rasa asam ini diperoleh dari air hasil rebusan kedelai yang didiamkan selama 1-2 hari, kemudian kita gunakan kembali untuk merebus pada proses pembuatan tahu,” jelas Ayi, karyawan asal Sumedang yang telah bekerja lebih dari 10 tahun bersama Jusup.

Keunikan dari usaha yang dirintisnya sejak 11 April 2004 ini adalah mampu bertahan keasliannya dan diwariskan hingga menuju generasi kelima. Jusup dan istrinya merupakan pemegang generasi keempat dari trah keluarganya. Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) itu juga menjelaskan bahwa istrinya lah yang berasal dari Sumedang dan mampu membuat tahu tersebut.

“Sebenarnya ide nya datang dari almarhum ayah istri saya, namun baru sempat terealisasi dengan saya dan istri saya.” ujar Jusup.

Dalam mengembangkan usahanya Jusup tidak segan untuk berbagi pengalaman dan prinsip kepada siapapun. Dengan berbagai pengalaman yang didapatnya, Jusup justru tidak hanya memberikan ilmu yang bisa diterapkan dalam dunia usaha, namun filosofi dan motivasi hidup serta prinsip yang mampu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. 

Hal ini ia yakini akan secara otomatis tidak hanya menunjang kehidupannya, namun juga masyarakat dan perekonomian di Indonesia melalui usaha yang dijalankannya. Jusup bahkan berbagi bagaimana ia mampu mempertahankan usahanya hingga menuju pada generasi kelima, yaitu anaknya.

Usaha Berbasis Tradisionalis dan Kekeluargaan Nan Modern

Menghadapi revolusi 4.0 nyatanya tidak membuat pengusaha berdarah suku Sunda ini menciut. Jusup telah memperhitungkan secara matang melalui prediksi-prediksi yang telah ia jabarkan. Mantan Dosen Statistik ini akhirnya memilih usaha di bidang kuliner sebagai bisnis yang ia rintis sejak 2004 silam.

“Bidang kuliner ini saya pilih karena berkaitan dengan bidang yang memenuhi kebutuhan manusia, kebutuhan primer yaitu makan,” jelas Jusup.

Menghadapi perkembangan zaman yang kian maju, rupanya usaha yang dikembangkan Jusup mampu bertahan hingga empat generasi. Hal ini karena ia memegang teguh prinsip Tradisionalis dan Kekeluargaan pada usahanya. Prinsip yang sangat relevan bagi usaha industri rumahan. Tradisional ini terlihat dari produksi dan olahan yang dibuat dengan pelaksanaan yang sederhana namun berkonsep modern.

Produksi pembuatan Tahu Sumedang Sukaati tidak menggunakan alat-alat yang berat dan prosesnya yang sederhana. Hal ini tentu akan membuat kualitas produk maksimal ditambah tanpa bahan pengawet.

“Ketahanan produk saya hanya 6 jam saja, setelah 6 jam akan berubah kualitas. Itu yang kita jaga," tutur Jusup.

Selain cara tradisional, Jusup juga memegang prinsip kekeluargaan. Prinsip ini dinilainya sebagai cara yang ampuh dalam mengembangkan usahanya. Ia tak segan berkata bahwa dirinya melakukan nepotisme terhadap usahanya. Maknanya usaha yang ia kembangkan akan ia berikan kepada anak sebagai bagian keluarganya.

Selain itu cara yang ia lakukan adalah dengan pola pemberdayaan terhadap masyarakat. Pola ini dinilainya mampu memperbaiki tidak hanya ekonomi perusahaan, namun ekonomi rakyat sekitar perusahaan juga. Masyarakat sekitar direkrut, dikembangkan dan diberdayakan layaknya keluarga dalam sebuah perusahaan.

Eni, seorang penjual bubur dekat dengan tempat usaha Tahu Sumedang Sukaati berkata, “Muhun raos (enak) Kang tahunya. Beberapa pegawainya juga ada orang sekitar sini," ucap Eni.

Praktik tradisionalis dan kekeluargaan ini nyatanya mampu mempertahankan perusahaan Tahu Sumedang Sukaati berdiri hingga 15 tahun lamanya. Namun usaha tersebut tentu ditunjang dengan cara-cara modern. Cara-cara ini ia terapkan pada usahanya, salah satunya melalui Internet. Cara lainnya ia lakukan dengan menggunakan analisis dari teori-teori, prediksi, dan pemetaan yang pernah ia pelajari saat di ITB.

Ketiga hal tersebut diyakini Jusup sebagai prinsip yang harus dipegang dan dijaga. Ia juga menambahkan ketika berbisnis, upayakan untuk senantiasa melibatkan masyarakat, terlebih pada bagian low level. Ia berharap pebisnis lainnya mampu setidaknya melibatkan 10 orang untuk dilibatkan dan diberdayakan untuk memberikan manfaat yang besar bagi perekonomian Indonesia.

Bisnis Warisan, Usaha yang Awet

Usaha Tahu Sumedang Sukaati yang digeluti oleh Jusup, mampu bertahan hingga empat generasi. Hal ini menciptakan rangkaian pertanyaan tentang bagaimana usaha tersebut mampu terjadi dari produksi hingga kualitas makanannya.

Jusup tak segan membagikan tips untuk membuat siapapun yang ingin berbisnis mampu mempertahankan bisnisnya. Ia berkata bahwa kunci dari bisnis dapat awet atau sustain yaitu dengan mewariskan kepada keluarga sebagai orang yang terdekat.

Mau tidak mau praktik demikian disetujui Jusup sebagai bagian dari nepotisme, namun dengan memberikan manfaat yang baik bagi perusahaan. Jusup menyampaikan hal tersebut dinilai paling ideal dalam membangun suatu usaha.

“Kalau tidak ada penerus, lantas siapa yang akan menjalankan usaha kita? Karena bisnis yang turun temurun itu tidak akan karena panas, dan laku karena hujan,” sambung Jusup.

Anak-anak Jusup pun ternyata sudah dibekali dan didik dengan prinsip-prinsip berbisnis. Salah satu anak Jusup juga berniat untuk mengembangkan usahanya hingga ekspansi ke luar negeri nantinya.

“Sejak SMP sudah saya latih untuk berbisnis. Saya ajarkan nilai bagaimana memberdayakan, meningkatkan ekonomi, mengembangkan pegawai ekonomi dan keluarga," kata Jusup.

Kini usahanya akan diturunkan pada anaknya sebagai generasi kelima sebagai pewaris bisnis Tahu Sumedang. Berbicara tentang harapan dan misi dari Jusup selaku pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, ia menjabarkannya dalam tiga point. Yang pertama adalah wajib pajak, ini harus ditaati oleh setiap pelaku usaha. Yang kedua adalah menciptakan lapangan kerja. Kemudian yang terakhir adalah ikut mengurangi angka pengangguran di Indonesia. 

Wisnu Dwiyon
Mahasiswa Jurnalistik Ilmu Komunikasi Universitas Pendidikan Indonesia

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar