Yamaha

Seniman Lukis Kaca Cirebon Lirik Kanvas Karena Berbagai Faktor Ini

  Jumat, 22 Maret 2019   Erika Lia
Salah satu lukisan kaca raksasa di lobi Balai Kota Cirebon karya seniman Cirebon, Katura. Untuk memenuhi kebutuhan, tak sedikit seniman lukisan kaca Cirebon beralih media ke kanvas. (Erika Lia/Ayobandung.com)

KEJAKSAN, AYOBANDUNG.COM—Keamanan lukisan kaca menjadi faktor utama yang memengaruhi pasar karya seni khas Cirebon ini. Imbasnya, tak sedikit pelukis kaca Cirebon beralih media ke kanvas.

Tak hanya itu, faktor teknis lukisan kaca yang lebih rumit dibanding lukisan bermedia kanvas juga menjadi alasan lain. Pada tataran ekonomi, menyasar pasar menjadi arah yang dituju para pelaku seni yang menjadikan karyanya sumber penghidupan.

"Masalah keamanan dari material karya, sepengetahuan saya membuat pelukis kaca beralih sebagai pelukis kanvas. Pertimbangan lain karena kanvas cenderung lebih praktis dan mudah secara teknis," ungkap seniman yang juga guru seni SMAN 6 Kota Cirebon, Daniel Adenis, ditemui Ayocirebon.com (Ayo Media Network) di sela Pameran Integrated Art yang digelar Ikatan Alumni Seni Rupa (IASR) Institut Teknologi Bandung (ITB), di Gedung Negara, Kota Cirebon, pada 16-30 Maret 2019.

Alumni Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini mengaku, pengetahuan itu diperolehnya selama melakukan studi terkait lukisan kaca selama sekitar setahun. Studinya sendiri berkisar pada pengaruh budaya Tiongkok, Arab, dan Hindu pada lukisan kaca Cirebon.

AYO BACA : Unik, Pria Ini Sulap Tembakau Jadi Lukisan

Secara keseluruhan, diketahuinya, pasar (market) lukisan kaca selama ini cenderung terbatas karena didasarkan pesanan. Ruang ekspresi pelukis kaca pun tak banyak, sebatas pameran lukisan dan itu pun sudah jarang lukisan kaca turut dipamerkan.

Selain faktor keamanan, minimnya pasar lukisan kaca juga turut dipengaruhi prosesnya yang lebih rumit. Tak hanya secara teknis, objek lukisan juga tergantung pada kebutuhan ekspresi masing-masing pribadi seniman.

"Proses melukis kaca lebih rumit ketimbang melukis di atas kanvas. Selain sebagai ekspresi pribadi, secara teknis juga butuh kesabaran tingkat tinggi," kata Daniel yang turut pula memamerkan salah satu karyanya dalam Pameran Integrated Art itu.

Kerumitan yang membutuhkan kesabaran tingkat tinggi dalam prosesnya itu, sayangnya telah membuat kebutuhan ekspresi pribadi seniman lukis kaca saat ini mulai berkurang. Terlebih, lukisan kaca 'terikat' pada simbol-simbol tradisional Cirebon hingga nyaris tiada yang kontemporer.

AYO BACA : Lukisan Banksy Senilai Rp21 Miliar Rusak Sendiri Setelah Dilelang

Dalam pandangannya, era lukisan kaca yang pernah berjaya pada sekitar 1970, menghadapi problem eksistensi selama setidaknya sepuluh tahun ke belakang.

"Tapi memang, tidak persis semua pelukis kaca kemudian tak melukis di atas kaca sama sekali. Mereka pindah ke kanvas sebenarnya hanya untuk memenuhi pasar lukisan dan memenuhi kebutuhan sehari-hari," tuturnya.

Sebagai salah satu seni tradisional, imbuhnya, lukisan kaca terancam tergerus. Faktornya, pasar galeri nasional tak 'bermain' di lukisan kaca.

Menurutnya, pemerintah daerah harus memikirkan untuk membuka lebih luas pasar lukisan kaca. Pihak swasta, terutama pelaku usaha di bidang pariwisata, selayaknya pula memajang karya-karya seni sebagai elemen estetis.

"Lukisan kaca berada pada sektor riil. Dengan kata lain, ketika seseorang sudah memilikinya, dia tak akan membeli lagi," tandasnya.

AYO BACA : Liputan Khas: Lukisan di Bak Truk dan Perempuan sebagai Objek

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar