Yamaha NMax

Ketika Rakyat Jadi Korban Terbesar Praktik Jual Beli Jabatan

  Jumat, 22 Maret 2019   Fira Nursyabani
Suasana di depan kediaman Ketua Umum PPP Romahurmuziy alias Rommy, di Kramat Jati, Jakarta, Jumat (15/3/2019), yang tampak sepi pasca operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Rommy oleh tim satuan tugas penindakan KPK, di Surabaya, Jawa Timur. (ANTARA FOTO/Risky Andrianto)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Terkuaknya kasus jual beli jabatan di lingkungan Kementerian Agama (Kemenag) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menguatkan sinyal bahwa sistem rekruitmen pejabat baik di pusat maupun di daerah belum sepenuhnya bersandar kepada integritas, profesionalitas, dan prestasi pegawai.

Wakil Ketua Komite I DPD RI yang membidangi persoalan pemerintahan dalam negeri Fahira Idris mengungkapkan, berbagai pembenahan sistem rekruitmen aparatur sipil negara (ASN) terutama pengisian jabatan pimpinan tinggi sudah diterapkan mulai dari secara online dan terbuka. Selain itu rekrutmen juga dilakukan melalui sistem merit atau berdasarkan kualifikasi, kompetensi, dan kinerja secara adil dan wajar tanpa membedakan ras, agama, asal usul, jenis kelamin, maupun kondisi kecacatan.

Namun faktanya, ternyata masih ada saja oknum, terutama mereka yang punya pengaruh politik dan kekuasaan, yang mencoba merusak sistem dengan menjadikan uang sebagi syarat pengisian jabatan tertentu.

AYO BACA : Menag Lukman Hakim Saifuddin Segera Dipanggil KPK

Menurut Fahira, praktik jual beli jabatan menjadi halangan terbesar reformasi birokrasi karena daya rasaknya begitu besar mengobrak-abrik sistem yang selama bertahun-tahun sudah dibangun. Baginya, ASN yang mendapatkan jabatan karena membayar atau membeli, orientasi utamanya saat memimpin sebuah instansi adalah bagaimana mengembalikan uang yang sudah dikeluarkannya, bukan bagaimana melayani rakyat dengan baik dan profesional.

“Rakyat menjadi korban terbesar dari praktik jual beli jabatan ini. Kerena orientasi utama ASN yang mendapat jabatan dengan membeli, bukan bagaimana melayani rakyat, tetapi bagaimana balik modal dan mengeruk keuntungan dari jabatannya," ujar Fahira dalam keterangan tertulisnya.

"Satu-satunya cara adalah dengan korupsi, karena mengharap besaran gajinya sebagai ASN tidak akan mungkin. Rakyat pasti diabaikan oleh pejabat-pejabat seperti ini,” tambah dia.

AYO BACA : KPK Peringatkan Andil Masyarakat dalam Budayakan Korupsi

Muara dari reformasi birokrasi, sambung Fahira, adalah terciptanya pelayanan publik yang prima. Menurutnya, pelayanan yang prima hanya bisa tercipta jika dijalankan oleh ASN yang profesional dan berintegritas, terutama ASN yang menduduki posisi strategis baik di daerah maupun di kementerian/lembaga.

Jika mencermati kondisi saat ini, kata dia, sepertinya praktik jual beli jabatan sudah dalam tahap yang mengkhawatirkan. Pasalnya, dalam dua tahun terakhir saja, KPK berhasil menjerat beberapa kepala daerah yang terlibat jual beli jabatan.

Belum lagi masih banyaknya laporan dan pengaduan yang diterima Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) soal jual beli jabatan dari berbagai daerah.

“Jual beli jabatan ini jadi ‘duri’ reformasi birokrasi dan sesegera mungkin harus dicabut agar jalannya birokrasi melayani rakyat tidak terganggu. Ini (menghentikan jual beli jabatan) juga jadi PR besar bagi para kandidat capres/cawapres sebagai salah satu fokus program pemerintahan ke depan,” jelasnya. 

AYO BACA : Romahurmuziy adalah Ketum Parpol Kelima yang Ditangkap KPK, Siapa 4 Sebelumnya?

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar