Yamaha NMax

Dilema Angkot Bandung: Trayek yang Sepi Penumpang dan Hilang

  Rabu, 20 Maret 2019   Mildan Abdalloh
Angkot jurusan Cibaduyut-Cicaheum di Jalan Soekarno-Hatta. (Danny/ayobandung.com)

SOREANG, AYOBANDUNG.COMĀ -- Awal 2000-an angkutan umum di Kabupaten Bandung mulai ditinggalkan pelanggan. Menjamurnya transportasi berbasis daring dan mudahnya kredit kendaraan pribadi menjadi penyebab utama peralihan moda transportasi masyarakat.

Kepala Seksi Angkutan Orang pada Dinas Perhubungan Kabupaten Bandung, Abi Basarah, mengatakan pada akhir 90-an jumlah trayek di Kabupaten Bandung mencapai 44. Namun saat ini tinggal 37 trayek yang masih aktif. Sebagiannya hilang karena sepi penumpang.

Meski demikian, angkutan umum masih dipandang sebagai solusi utama kemacetan akibat jalanan yang terlalu penuh oleh kendaraan pribadi. Dorongan untuk menggunakan angkutan umum dalam aktivitas sehari-hari pun terus dilakukan oleh pemerintah setempat.

Pada 2015 Pemkab Bandung menerbitkan Perda nomor 5 tentang Penyelenggaraan Transportasi sebagai upaya untuk melindungi keberadaan angkutan umum. Tidak tanggung-tanggung, pasal 4 dalam Perda 5/2015 menargetkan penggunaan angkutan umum mencapai 60% dari kebutuhan transportasi.

"Cukup tinggi targetnya, untuk lebih mendorong lagi masyarakat menggunakan angkutan umum," tutur Abi, saat ditemuiĀ ayobandung.com, beberapa waktu lalu.

AYO BACA : Dilema Angkot Bandung: Antara Kebutuhan Masyarakat dan Kepentingan Politik

Target 60% tentu sangat tinggi, mengingat saat ini penggunaan angkutan umum hanya berada di angka 18%. Terlebih angkutan umum sedang terseok oleh perkembangan zaman.

Namun, kata Abi, bukan hal yang tidak mungkin target tersebut bisa tercapai. Di sejumlah negara maju, walaupun perkembangan teknologi lebih pesat, tetapi penggunaan angkutan umum masih terbilang cukup tinggi.

"60% penggunaan angkutan umum merupakan konsep kota moderen, kalau di negara maju justru orang bepergian dengan angkutan," katanya.

Dengan kondisi saat ini, perlu upaya untuk mendorong masyarakat kembali menggunakan angkutan umum. Salah satu yang dilakukan oleh Pemkab Bandung adalah melakukan pembinaan terhadap sopir dan pengusaha angkutan untuk meningkatkan layanan.

Memberi kenyamanan menjadi prioritas utama yang bisa dilakukan oleh pengusaha dan sopir angkutan. "Kami dorong agar angkutan umum bisa melakukan terobosan dalam pelayanan," ucapnya.

AYO BACA : Dilema Angkot Bandung: Terseok di Tengah Kemajuan Teknologi

Salah satu yang bisa dilakukan untuk memberi kenyamanan adalah menyediakan sarana pendukung, seperti tempat sampah, atau bahkan menyediakan buku untuk dibaca oleh penumpang ketika sedang ngetem.

Namun, lagi-lagi upaya meningkatkan penggunaan angkutan umum dengan menyediakan buku di dalam angkutan merupakan hal yang berat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh PISA pada 2016, minat baca Indonesia hanya berada di ranking ke-62 dari 72 negara. Di samping itu, masih sedikit pengusaha atau sopir angkutan umum yang mau menyediakan buku di dalam angkutannya.

Sepertinya, terobosan lain perlu dibuat, seperti yang dilakukan oleh sejumlah daerah lain dengan menyediakan wifi di dalam angkutan. Penggunaan gawai yang membutuhkan jaringan internet menjadi salah satu kebutuhan masyarakat saat ini.

Menyediakan jaringan internet yang gratis bisa menjadi nilai tambah bahkan menarik masyarakat dalam menggunakan angkutan umum sebagai moda transportasi.

Tapi sehebat apapun inovasi, hal paling menentukan adalah orang yang menjalankan terobosan tersebut. Sejauh ini, pengusaha angkutan kurang mau melakukan inovasi dalam menyediakan fasilitas tambahan seperti buku atau wifi gratis.

Dari sisi kenyamanan pun, angkutan umum di Kabupaten Bandung masih cukup jauh. Abi mengatakan dari 2.500 angkutan umum yang ada di Kabupaten Bandung, baru 50% yang dalam keadaan baik.

"Kalau indikatornya tahun kendaraan, 50% di atas tahun 2000. Memang nyaman tidak dilihat tahun kendaraan," katanya.

AYO BACA : Mengulik Penyebab Angkot Bandung Hobi 'Ngedrift'

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar