Yamaha Aerox

Kepala BNPB Sebut Jawa Barat Jadi Supermarket Bencana

  Rabu, 20 Maret 2019   Andres Fatubun
Banjir bandang yang menerjang kawasan sekitar terminal Cicaheum, Maret 2018. (@Rkurniawan1301)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen Doni Monardo menyebut wilayah Jawa Barat ibarat supermarket bencana, karena segala macam bencana alam pernah terjadi di wilayah itu.

Bahkan, Jawa Barat menjadi daerah dengan potensi bencana alam di tanah air yang cukup tinggi.

Dari mulai bencana banjir, puting beliung, tanah longsor, letusan gunung berapi, hingga tsunami bisa terjadi di provinsi dengan jumlah penduduk terpadat di Indonesia itu.

"Gunung api ada, di wilayah selatan potensi tsunami juga ada, kerusakan lingkungan sangat tinggi, dan beberapa tahun terakhir ini sering terjadi angin puting beliung. Provinsi ini paling lengkap, bisa jadi supermarket bencana," terang Doni saat menjadi keynote speaker di IPB University Bogor, Selasa (19/3/2019) sore.

Menurutnya, potensi paling besar terjadinya bencana alam di Jawa Barat yaitu meletusnya gunung api. Sebab, daerah ini ada belasan gunung berapi masih aktif yang sewaktu-waktu bisa saja meletus.

"Gunung api juga jumlahnya cukup banyak," kata mantan Pangdam III Siliwangi ini.

Berdasarkan data BNPB, pada 2018 lalu korban jiwa akibat bencana alam yang terjadi di Jawa barat mencapai 49 orang. Peristiwa bencana alam yang paling banyak memakan korban yakni bencana tanah longsor di Cisolok, Sukabumi, yang terjadi pada akhir 2018 lalu.

"Ini yang terbanyak di Cisolok pada akhir tahun kemarin. Di kemiringan 60 derajat ditanami dengan padi, saat longsor terjadi masyarakat tertimpa longsor," terang dia.

Menurutnya, kerusakan lingkungan tidak terlepas dari ulah manusia. Seperti perambahan kawasan perbukitan menjadi perkebunan dan pemukiman, penebangan pohon, dan lainnya, marak terjadi di berbagai daerah.

Karena itu, seluruh stakeholder harus ikut serta selalu mengingatkan masyarakat pentingnya menjaga kelestarian alam dari kerusakan.

"Kawasan hulu itu banyak yang beralih fungsi, dari kawasan konservasi menjadi perkebunan. Nah ini perlu sebuah solusi yang terintegrasi, menyiapkan masyarakat kita agar tetap mendapat penghasilan tapi tidak merusak alam. Misal, dari berkebun kentang beralih menanam komoditas lain tanpa mengganggu lingkungan," kata dia.

Tak hanya di kawasan perbukitan, di perkotaan pun demikian. Masyarakat harus senantiasa menjaga lingkungan tempat mereka tinggal. Tidak membuang sampah ke saluran air maupun sungai dan menyediakan sepetak lahan untuk resapan air hujan.

"Banjir itu terjadi karena saluran air tertutup sampah," ujar Doni. 

 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar