Yamaha Lexi

Bagaimana Boeing Corp. Memulihkan Nama Baik?

  Selasa, 19 Maret 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Boeing 737 Max 8. (WSJ)

Flightradar24 Live Air Traffic sudah memperlihatkan kesamaan pola jatuh Boeing 737-MAX-8 Lion Air pada 29 Oktober 2019 dengan pesawat serupa milik Ethiopian Airlines pada 10 Maret 2019. Kedua pesawat beberapa saat setelah tinggal landas terbang dengan mengangguk-angguk alias tidak stabil, lalu menukik ke bawah dengan kecepatan tinggi, sekitar 300 km per jam. Lion ke laut Jawa, dekat Ujung Karawang, sedangkan Ethiopian Airlines ke daerah berdebu di Adis Ababa.

Kalangan penerbangan makin yakin ada kesamaan setelah data satelit  memperlihatkan fakta yang sama. Sambil menanti hasil pemeriksaan ‘kotak hitam’, dinyatakan nahas disebabkan software MCAS dan sensor angle of attack. Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS)  adalah sistem sistem autopilot untuk mengontrol manuver pesawat untuk menghindari manuver yang berbahaya seperti stall , sedangkan angle of attack sensoring adalah instrumen yang mendeteksi sudut antara bidang sayap dengan arah angin dari depan ke belakang yang terkait dengan daya angkat. Sensor ini letaknya di hidung kanan depan dan datanya di sampaikan ke kapten maupun co pilot di layar komputer.

Keduanya dinilai vital karena Boeing -737-MAX memiliki postur mesin yang lebih besar dan posisinya agak lebih maju daripada sayap hingga mempengaruhi daya angkat . MCAS secara otomatis akan membantu dengan menggerak-gerakan dua sayap ekor datar di bawah sayap tegak. Jika hidung pesawat menukik maka kedua sayap ekor datar itu bergerak ke bawah maka hidung pesawat mendongak dan sebaliknya.

Masalahnya mengapa dua MAX itu yang nahas, bukankah sudah sekitar 350 unit yang operasional?

Berbagai pihak mengungkapkan Boeing.Corp. tidak memberitahukan keberadaan piranti lunak MCAS itu kepada para operator. Maka pantas bila para pilot kedua pesawat yang nahas berjuang habis-habisan untuk menstabilkan pesawat.

Perjuangan itu gagal sebab dalam upaya menaikkan hidung pesawat, MCAS bereaksi dan secara otomatis menaikkan kedua sayap datar hingga pesawat menukik lagi. Ironisnya, ketika menukik semakin dalam gerakan kedua sayap datar terlalu lemah.

Ternyata para penerbang lain ada juga yang  mengalami kejadian serupa. Mereka lolos dari maut karena mematikan auto pilot serta kembali ke pengendalian manual. Berikut cerita seorang penerbang AS yang tak disebut namanya dan disiarkan RT TV...The Aircraft accelerated normally and the Captain enggaged the A autopilot after reaching set speed. Within two to three seconds the aircraft pitched nose down....I called ‘descending’ just prior to to ground proximity warning system sounding...Don’t sink ...don’t sink. The Captain immediately disconnected autopilot and pitched in to climbed.

Seorang penerbang lain mengutarakan, tidak dapat membayangkan bagaimana FAA, pabrikan dan operator mempunyai pilot yang tidak memperoleh pelatihan yang memadai atau menyediakan buku-buku petunjuk agar bisa memahami sistem yang rumit ini yang membedakan Boeing-737-Max-8 atau 9 dari pesawat-pesawat sebelumnya.

Dampak Mengejar Pesaing

Tidak sampai di situ saja, ternyata  terdapat masalah dalam proses pembuatannya. Boeing Corp. tidak meminta masukan dari pilot tentang penggunaan MCAS.

Dominic Gates dalam The Seattle Times mengungkapkan, Boeing Corp.juga meminta supaya FAA mensertifikasi, tetapi keterbatasan dana dan hal lain menyebabkan FAA meminta Boeing untuk mensertifikasi sendiri. Sebagaimana diketahui MAX dimaksudkan menandingi Airbus A-320neo tetapi ketinggalan sekitar sembilan bulan.

Adalah China yang memelopori mengandaskan Boeing-737-8 milik China Airlines.  Mulanya tindakan ini dinilai sebagai pembalasan terhadap sanksi dagang AS terhadap China, apalagi pernyataan dikeluarkan Kemlu China melalui jubirnya Lu Kang bukan oleh kementerian transportasi.

Ternyata semua yang operatornya menggunakan MAX  turut mengandangkan, menunda menerima MAX baru bahkan membatalkan pesanan.  Pemerintah mempertegas dengan melarang pesawat serupa keluar atau memasuki wilayah negara yang bersangkutan. Belakangan FAA yang semula ragu kemudian ikut  serta, begitu juga Boeing Corp.

Amerika Serikat selama ini menjadi tolok ukur dalam standar keselamatan penerbangan. Sekarang hal tersebut dipertanyakan, sekurang-kurangnya karena dua pesawat model baru baru jatuh berkeping-keping dalam waktu lima bulan. Nama FAA dan Boeing-pun terpuruk.

Kini saatnya mengamati strategi komunikasi Boeing Corp. untuk memulihkan nama baik .

Farid Khalidi

 

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar