Yamaha Aerox

Inisiasi Bandung Co-Learning Space sebagai Jawaban Memasuki Era Pendidikan 4.0

  Senin, 18 Maret 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Bandung Command Center. (Dok. Agus Rumelan)

Pendidikan 4.0 telah digaungkan oleh berbagai negara di dunia sebagai upaya pemenuhan kesiapan kebutuhan revolusi Industri 4.0. Revolusi tersebut membawa dampak yang signifikan di segala lini kehidupan, khusunya sektor manufaktur.

Dalam rangka mengantisipasi hal tersebut, pendidikan juga harus menyelaraskannya dengan hal-hal yang dibutuhkan oleh Industri 4.0. Dengan begitu, munculah istilah baru yaitu Pendidikan 4.0.

Karateristik utama dalam Pendidikan 4.0 adalah optimalisasi penggunan sistem siber dalam proses pembelajaran. Pada pendidikan konvensional umumnya proses pembelajaran hanya terbatas di dalam kelas. Namun, dalam sistem siber memungkinkan pertukaran informasi dapat dilakukan dengan sangat cepat dan tidak terbatas pada ruang dan waktu.

Dalam konsep Pendidikan 4.0, guru bukanlah sumber utama ilmu pengetahuan. Guru merupakan team leader yang memberikan arahan kepada peserta didik untuk menciptakan sebuah karsa cipta yang didukung berbagai sumber pembelajaran berbasis digital.

Pendidikan 4.0 tidak hanya berfokus pada apa yang diajarkan, tapi bagaimana cara mengajarnya.

Kecerdasan buatan seringkali dilibatkan dalam proses pembelajaran berbasis digital. Misalnya, sistem kecerdasan buatan dapat membantu guru dalam melakukan prediksi dan analisis hasil belajar siswa. Hal ini dapat memberikan rekomendasi yang baik bagi guru untuk memberikan perlakuan yang tepat kepada peserta didik. Dengan begitu, tujuan pembelajaran dapat dicapai dengan hasil yang maksimal.

Saya tidak akan terlalu banyak membahas ruang lingkup pendidikan 4.0. Lambat laun pasti semua insan pendidikan akan memasuki era tersebut. Pertanyaan yang selalu lazim muncul, ketika ada hal baru adalah sudah berapa siapkah kita?

AYO BACA : Pemkot Bandung Siap Sinergi Tingkatkan Kualitas Pendidikan

Motivasi Intrinsik dalam Belajar Lebih Utama

Tren baru dalam Pendidikan 4.0 adalah motivasi ekstrinsik dalam belajar dinomorduakan. Belajar tidak lagi hanya untuk mendapatkan ijazah atau sertifikat, melainkan belajar memang diniatkan untuk mendapatkan kompetensi-kompetensi tertentu yang diinginkan. Inilah yang dinamakan motivasi instrinsik lebih dikedepankan dalam proses pembelajaran.

Era Industri 4.0 tidak memerlukan seorang “superman”. Era ini lebih condong ke arah kolaborasi antar-pihak-pihak yang berkompeten. Mesin-mesin industri yang begitu cerdas, perlu diorganisir oleh kolaborasi orang-orang yang jauh lebih cerdas dari mesin-mesi tersebut. Kalimat ini mirip yang disampaikan oleh Jack Ma dalam World Economic Forum 2018, bahwa pendidikan harus menciptakan manusia yang lebih cerdas dari mesin sehingga mampu menggunakan mesin tersebut untuk kemaslahatan masyarakat.

Mesin biasanya hanya cerdas untuk satu atau beberapa kemampuan saja. Misalnya mesin robot pengemas, hanya mampu dilakukan untuk proses pengemasan. Mesin penetas telur hanya mampu digunakan untuk menetaskan telur secara otomatis. Mesin-mesin tersebut tidak mampu digunakan untuk keperluan lain di luar kemampuan yang didesain. Artinya, jika manusia ingin lebih cerdas dari mesin maka ia harus berkompetensi multidisiplin ilmu. Atau jika tidak, mereka harus mampu berkolaborasi antardisiplin ilmu. Tentu saja, dua kompetensi tersebut harus disiapkan sejak proses pembelajaran berlansung. Karenanya, saya tertarik mengusulkan sebuah konsep implementasi “Bandung Co-Learning Space”.

Bandung Co-Learning Space, Bagian Penting dari Bandung Smart City

Bandung sudah dikenal luas di Indonesia sebagai percontohan kota cerdas (Smart City). Inovasi-inovasi pelayanan publik berbasis digital terus bermunculan dan dirasakan kebermanfaatannya oleh masyarakat.

Ada satu hal yang penulis rasa perlu juga diinisiasi untuk diadakan di Kota Bandung, yaitu Bandung Co-Learning Space.

AYO BACA : Pemkot Bandung Fokus Infrastruktur, Pendidikan dan Kesehatan

Istilah ini mirip dengan co-working space, yaitu tempat para pelajar belajar bersama-sama dalam sebuah ruangan. Pelajar dari berbagai rumpun disiplin ilmu berkumpul untuk sama-sama belajar bidang yang tekuni. Hal ini memungkinkan terjadi pertukaran pengetahuan antar disiplin ilmu. Kita  mengerti bahwa semua pelajar tidak berkarateristik yang sama. Mereka tidak memiliki titik awal yang sama dalam proses pembelajaran. Mereka pun dapat belajar dan menyerap berbagai bidang fokus secara berbeda-beda. Oleh karena itu, co-learning space merupakan sebuah tempat yang sangat relevan untuk membimbing dan mengarahkan mereka dalam proses pembelajaran.

Dapat Diduplikasi ke Daerah Lain di Indonesia

Inisiasi di Bandung adalah latar belakang saya yang tinggal merantau cukup lama di kota yang dikenal dengan sebutan Parijs Van Java. Saya kuliah di kampus pendidikan, UPI Bandung, dan sangat senang bertukar ide terkait inovasi-inovasi tepat guna. Terakhir, saya bergabung dalam sebuah komunitas riset pengembangan smart city yang dipimpin langsung oleh Bapak Smart City Indonesia.

Pondasi utamanya adalah permasalahan apapun akan lebih cepat diselesaikan dengan solusi-solusi cerdas. Termasuk dalam permasalahan perkotaan, yang use case-nya dalam lingkup kecilnya adalah permasalahan pendidikan.

Konsep Bandung co-learning space sangat mungkin untuk diduplikasi ke daerah lain di Indonesia. Konsepnya cukup sederhana, namun sangat tepat guna. Intinya adalah menyediakan sebuah tempat belajar bersama yang nyaman dan tidak membosankan bagi para penggunanya.

Di tempat ini, mereka dapat bertukar pengetahuan dalam satu tempat yang sama, dan akan melahirkan pembelajar yang multitalent. Berkat kekuatan gotong royong dalam belajar bersama, mereka berwawasan luas dan cerdas di beberapa aspek keilmuan.

Pendidikan 4.0 perlu menyelaraskan dengan Industri 4.0 dan mempersiapkan pelajar untuk revolusi industri berikutnya yang akan terjadi dalam hidup mereka. Pada akhirnya, co-learning space akan menghasilkan orang-orang yang mempunyai kompetensi multidisplin ilmu. Selain itu, dalam co-learning space juga sudah ditanamkan kolaborasi apik multidisplin. Dengan begitu, saat memasuki dunia kerja terkait Industri 4.0, mereka tidak merasa canggung dan sangat siap untuk menikmati pekerjaannya.

Agus Ramelan

AYO BACA : Soal Pendidikan, Pengamat: Debat antara Ma'ruf Amin dengan Sandiaga Tidak Nyambung

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar