Yamaha Mio S

Ada yang Salah dengan Nasionalisme Kita

  Senin, 18 Maret 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Ilustrasi Pemilu (Attia Dwi Pinasti/Ayobandung.com)

Tugas adalah sebuah kehormatan, ketika amanah dilalaikan maka tunggulah kehancurannya.

Pernahkah kita mendapat sebuah tugas—sebuah tanggung jawab mengomandoi organisasi atau tanggung jawab dari orang tua, sekolah, guru, lingkungan, dan sebagainya? Apapun bentuknya, pernahkah kita menjalankan sungguh-sungguh tugas tersebut? Apakah kita pernah merasa malas, lalai, atau putus asa ketika menjalankan tugas tersebut?

Tugas adalah amanah, dan amanah harus diperjuangkan. Namun, bagiku aneh, dewasa ini orang malah berebut untuk mendapatkan amanah, gelar, jabatan, tahta, bahkan harta.

Masalah amanah sangat miris di negeri ini, amanah kok diperjualbelikan, dimainkan, dan tanpa tahu tanggung jawab yang sedang dipikulnya.

Belum lama ini mulai terungkap kasus korupsi yang menjerat pejabat publik. Berdasarkan data KPK, 103 anggota DPR dan DPRD tertangkap kasus korupsi sepanjang 2018.

Jumlah tersebut merupakan yang terbanyak dibanding pejabat/swasta lainnya. Artinya, dari sejumlah kasus tersebut, Indonesia sedang mengalami gawat darurat korupsi. Belum lagi tahun sebelumnya. Jika dijumlah dengan tahun ini sudah tentu sangat banyak sekali kasus korupsi yang melanda negeri ini.

Pernahkah mendengar nasihat “Lebih baik bodoh tapi jujur daripada pintar tapi tidak jujur, karena kalau orang bodoh kita bisa mendidiknya untuk pintar tapi kalau orang yang sudah tidak jujur susah untuk mendidiknya”.

Namun, setelah sekian tahun memikirkan pendapat tersebut, ada sedikit ketimpangan yang saya rasakan dalam kalimat tersebut, apalagi dalam konteks menentukan pemimpin. Menurutku, manusia mempunyai kelengkapan, memiliki akal dan segala potensi yang diberikan Tuhan, kesimpulanku seperti ini “Lebih baik jujur dan pintar”. Jujur tok nanti bisa ditipu oleh elite dan yang berkepentingan, pintar tok bisa membohongi rakyat.

Dalam teori kepemimpinan yang pernah diajarkan Nabi SAW, setidaknya ada empat hal yang harus dimiliki seorang calon pemimpin, yakni:

1. Sidiq (Jujur, baik, benar);

AYO BACA : 2.050 Pelanggaran Warnai Tahapan Pemilu 2019

2. Amanah (Dapat dipercaya);

3. Fathonah (Pintar, cerdas); dan

4. Tablight (Menyampaikan).

Belajar dari Kepemimpinan Setelah Rasulullah Wafat

Sejarah adalah mutiara, belajar dari era kepemimpinan setelah Rasulullah wafat menjadi oase tersendiri di tengah gerahnya situasi politik saat ini. Hal ini menjadi bekal berharga bagi kita untuk terus menyongsong masa depan.

Dalam catatan sejarah, persoalan pertama yang muncul kepermukaan setelah Nabi Muhammad wafat adalah persoalan pemimpin. Terjadi ketegangan dan perselisihan antara kaum Anshar dan kaum Muhajirin, mengenai siapa yang pantas menggantikan kepemimpinan.

Untuk menyelesaikan kebingungan umat Islam saat itu digunakanlah prinsip musyawarah yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, yang pada akhirnya terpilihlah Abu Bakar As-sidiq sebagai khalifah pertama pengganti Rasulullulah.

Setelah Abu Bakar Wafat, Umar dibaiat dan dilantiknya menjadi khalifah, Umar bin Khattab menyampaikan pidato penerimaan jabatannya di hadapan kaum muslimin. Pidato tersebut menggambarkan pandangan Umar bin Khattab bahwa jabatan khalifah adalah tugas yang berat sebagai amanah dan ujian.

Tahun 644 M, Umar bin Khattab ditikam ketika salat Subuh, kejadian tersebut sontak menghebohkan kaum muslim dua hari kemudian setelah kejadian tersebut Umar bin Khattab wafat.

Selanjutnya ialah masa kepemimpinan Utsman bin Affan, Utsman memangku kekhilafahan selama dua belas tahun, enam tahun pertama tidak ada seorang pun yang memprotes kepemimpinannya. Akan tetapi, enam tahun terakhir mulai muncul protes dari orang-orang. Terjadi pemberontakan hingga terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan. Peristiwa pembunuhan terhadap Khalifah Utsman bin Affan mengakibatkan kegentingan di seluruh dunia Islam yang waktu itu sudah membentang sampai ke Persia dan Afrika Utara.

AYO BACA : Penyelesaian Pelanggaran HAM Berat Belum Berubah

Setelah Utsman bin Affan wafat, Ali bin Abi Thallib adalah calon terkuat untuk menggantikannya sebagai khalifah. Namun, peristiwa terbunuhnya Khalifah Utsman membuat umat Islam terpecah menjadi empat golongan, yaitu pengikut Utsman bin Affan yang menuntut balas atas kematian Utsman, dan mencalonkan Muawiyah sebagai khalifah.

Kemudian pengikut Ali bin Abi Thalib yang mengajukan Ali sebagai khalifah. Selanjutnya, ada kaum moderat yang tidak mengajukan siapa pun, dan menyerahkan seluruh hasilnya kepada Allah SWT. Terakhir golongan yang berpegang kepada prinsip jemaah.

Desakan yang dilakukan oleh sahabat, ditambah tidak ada lagi yang bersedia dicalonkan, membuat Ali bin Abi Thalib akhirnya menerima untuk menjadi khalifah demi kepentingan umat.

Pemerintahan khalifah Ali dikatakan sebagai pemerintahan yang tidak stabil karena muncul banyak pemberontakan dari internal kaum muslimin, yang akhirnya memicu Perang Jamal dan Perang Shiffin. Hingga akhirnya Islam menjadi terkotak-kotak, menjadi Islam syiah, khawarij, dan sunni.

Bahwa pelajaran berharganya ialah penyebab perpecahan itu diawali dari urgensi kepemimpinan, perpecahannya bukan hanya sekadar fikih tapi bisa merambah ke akidahnya malah bisa jadi melahirkan fitnah kubra.

Fanatisme Buta hanya Melahirkan Perpecahan

Sesuatu itu harus punya skala prioritasnya, harus ada kadarnya, ada yang hanya dimasukkan pikiran, ada yang hanya di lewat saja atau dianggap angin lalu. Namun, masalahnya, ketika semuanya dimasukkan ke dalam hati, yang timbul bisa dendam, sakit hati, atau perpecahan-perpecahan.

Apapun pilihanmu di pemilu April nanti, pada dasarnya garuda ada di dadamu, Indonesia jiwa ragamu.

Kalau begitu saya harus memilih siapa? Lah, itu urusannya di kotak suara.

Faisal Abda’u

Warga Pasir Biru - Cibiru

AYO BACA : Bawaslu RI: Jabar Termasuk 5 Daerah Pelanggar Pemilu Terbanyak

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar