Yamaha Aerox

Soal Pendidikan, Pengamat: Debat antara Ma'ruf Amin dengan Sandiaga Tidak Nyambung

  Senin, 18 Maret 2019   Anya Dellanita
Debat cawapres antara Ma'ruf Amin dengan Sandiaga.

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Pendidikan menjadi salah satu materi dalam debat Cawapres periode 2019-2023 yang diselenggarakan Minggu (17/3/2019) malam. Jawaban para cawapres yang beragam tentunya mengundang tanggapan dari berbagai pihak, termasuk para pengamat pendidikan.

Salah satu pengamat pendidikan yang mengungkapkan pendapatnya adalah Guru Besar Pendidikan Politik Universitas Pendidikan Indonesia, Idrus Affandi.

Menurutnya, apa yang disampaikan kedua cawapres cukup bagus. Namun, pendekatan yang dilakukan kedua cawapres berbeda cukup jauh, sehingga debat terkesan tidak nyambung.

“Cawapres nomor urut 2 cenderung membangun sumber daya manusia, sedangkan cawapres nomor urut 1 menggunakan metode dakwah, dia lebih struktural,” ujarnya saat dihubungi ayobandung, Minggu (17/3/2019).

Idrus menjelaskan kalau hal tersebut bukanlah hal aneh karena kedua cawapres memiliki latar belakang berbeda. Apalagi, cawapres nomor 1 adalah kubu pertahanan.

“Ya wajar-wajar saja mereka jawabnya begitu. Sandiaga kan seorang pebisnis, sedangkan Ma’ruf Amin kiyai. Jadi wajar kalau Sandiaga membangun SDM, ya dia pengusaha. Ma’ruf Amin juga kyai, jadi wajar kalau dia menghimbau, pendekatan sosial. Ma’ruf Amin juga kan dari kubu pertahanan, jadi wajar dia membicarakan dana,” kata dia.

Idrus juga memberikan pendapatnya tentang kartu pendidikan dan kartu prakerja yang menjadi salah satu program andalan pasangan Jokowi-Ma’ruf.  Menurutnya, hal ini mungkin akan sulit diimplementasikan.

“Pendekatan Ma’ruf Amin kan pakai pendekatan struktural, karena dia sekarang ada dana. Namun, mungkin akan sulit dilakukan karena nanti kan belum tentu ada dana. Tapi karena program ini masih belum terlalu jelas penerapannya, saya masih belum bisa berkomentar banyak. Tapi sah-sah saja kok,” katanya.

Menyinggung kesantunan para cawapres, Idrus berpendapat keduanya sama-sama santun dan tidak saling menjatuhkan. Jadi debat pun bisa berjalan dengan damai.

Idrus juga berpendapat peningkatan pendidikan itu tidak mungkin kalau tidak ada pendidikan guru. Dia juga menyarankan agar sertifikasi guru yang biasanya diselenggarakan di berbagai daerah jadi dipusatkan di satu tempat.

“Peningkatan pendidikan impossible kalau tidak ada pendidikan guru. Saya menyarankan agar sertifikasi guru dipusatkan di satu tempat.  Alasannya, saya terinspirasi sama Kaisar Hirohito waktu bom atom melakukan hal yang sama, jadi kualitas guru bagus,” ujarnya.

Dia menambahkan kalau sebaiknya guru-guru tersebut ditatar selama 6 bulan untuk menyamakan kualifikasinya. Idrus juga mengatakan dia sudah punya saran untuk tempat pelaksanaanya.

“Saran saya di Cikalong Wetan. Cikalong Wetan nanti akan dibangun MRT. Jadi fasilitas ke pusat mudah. Yang penting punya ijazahh s1 dan ipnya 3. Dana bisa dari pemda dan dari pusat,” ucapnya.

“Saya ingin nanti punya target setiap tahun 2000 orang ikut program ini, jadi 5 tahun Indonesia sudah punya 10 ribu guru berkualitas. Saya mau seperti Bung Karno,” tuturnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar