Yamaha Lexi

Kisah “Tante Sun”, Orde Baru, dan Museum Bimbo

  Sabtu, 16 Maret 2019   Rizma Riyandi
Album lagu tahun 1960-an

TATKALA kita membincangkan musik Indonesia, khususnya musik pop, tampaknya kurang lengkap rasanya bila tidak menyinggung-nyinggung nama Bimbo, kelompok musik legendaris asal Kota Bandung, yang mulanya lebih beken dengan sebutan Trio Bimbo. 

Grup musik yang dibentuk tahun 1967 ini beranggotakan tiga personel awal yakni Muhammad Samsudin Dajat Hardjakusumah (Sam), Darmawan Dajat Hardjakusumah (Acil) dan Djaka Purnama Dajat Hardjakusumah (Jaka). Dalam perkembangan selanjutnya, Iin Parlina ikut pula bergabung sehingga jumlah personel band ini genap menjadi empat orang.
 
Dalam peta musik pop Tanah Air, Bimbo disebut-sebut oleh sementara kalangan sebagai salah satu band pelopor di negeri ini yang turut mendobrak tradisi dominasi penyanyi-penyanyi tunggal (solois) sepanjang era tahun 1960-an.

Sejumlah literatur mencatat nama Bimbo mulai berkibar menyemarakkan peta musik Tanah Air menyusul keberhasilan mereka menyelesaikan rekaman album perdana mereka dalam wujud piringan hitam di bawah label Fontana, yang dilakukan di negeri jiran, Singapura. 

Ihwal kenapa Bimbo justru melakukan rekaman di Singapura yaitu karena mereka sempat ditolak oleh perusahaan rekaman Remaco. Alasannya karena musik yang ditawarkan Bimbo ke Remaco kental dengan nuansa Latin Flamenco, yang tentu terasa kurang akbrab bagi telinga kebanyakan orang di Indonesia pada waktu itu.

Dari album perdana Bimbo yang direkam di Negeri Singa itu, paling tidak ada dua lagu yang hingga kini begitu melekat di hati para pecinta musik pop Indonesia, yakni Flamboyan dan Melati dari Jaya Giri. Kedua lagu tersebut diciptakan oleh Iwan Abdurachman.

Sepanjang kiprahnya meramaikan blantika musik Tanah Air, Bimbo telah merilis sedikitnya 200 album dan 800-an lagu. Kelompok musik yang para personelnya merupakan kakak-beradik ini juga berhasil menyabet 12 piringan emas. Berkat kiprah dan dedikasinya di jagat musik Tanah Air, Bimbo dianugerahi Lifetime Achievement Award pada ajang “NET 4.0 Indonesian Choice Awards 2017”. 

AYO BACA : Jadwal SIM Polrestabes Bandung Sabtu 16 Maret 2019 di Gedung Sate

Di masa-masa keemasannya sepanjang tahun 70-an, lagu-lagu Bimbo boleh dibilang nyaris setiap hari membahana di seantero Nusantara lewat perantaraan stasiun-stasiun radio di Tanah Air bersama lagu-lagu lain dari kelompok-kelompok band sezamannya.

Lagu-lagu yang diusung Bimbo memiliki beragam tema, mulai dari soal asmara, perjalanan hidup, lingkungan, kritik sosial, religi hingga lagu-lagu berunsur jenaka. Salah satu contoh lagu beraroma jenaka milik Bimbo, misalnya, adalah lagu berbahasa Sunda bertajuk Koboy Kolot (1976). Lirik lengkapnya sebagai berikut.

Hey koboy kolot, nyisiran di tengah jalan
Hey koboy kolot, leumpang entong heheotan
Hey koboy kolot, gayana siga bujangan
Hey koboy kolot, di imah budak nungguan

Calana cutbray, ngagober nyapuan jalan
Dangsana totbray, teu inget enggeus huisan
Nyemprung ngadudud, tumpak motor babalapan
Motorna butut, tumpakna eundeuk-eundeukan

Hey koboy kolot, tong gumasep tengah jalan
Hey koboy kolot, siga monyet eukeur dangdan
Hey koboy kolot, gayana siga bujangan
Hey koboy kolot, di imah budak nungguan

Adapun lagu bertema kritik sosial dari Bimbo salah satunya adalahTante Sun (1977). Lagu yang berkisah tentang seorang perempuan supersibuk bernama Sun ini bahkan sempat kena cekal karena dianggap menyinggung gaya hidup sejumlah istri pejabat tinggi di masa Orde Baru. Mari, kita simak liriknya.

AYO BACA : Dampak Serangan di Selandia Baru, Masjid di New York Dijaga Ketat

Tante Sun, oh Tante Sun
Tante yang manis 
Tiap pagi giat berolah raga
Pergi bermain golf 
Hingga datangnya siang 
Trus ke salon untuk mandi susu

Tante Sun, oh, Tante Sun 
Tante yang giat 
Segala rapat dan berbagai arisan
Pagi siang dan malam 
Tak pernah terlewatkan 
Oh, Tante Sun, oh, Tante teladan

Batu zamrud berlian dan kerikil
Emas hingga besi beton bisnisnya 
Cukong-cukong dan tauke
Direktur dan makelar 
Tekuk lutut karena Tante Sun

Tante Sun, oh, Tante Sun 
Tante yang gaya 
Tidak pernah merasa kesusahan
Senyum kiri dan kanan, memikat tua muda 
Oh, Tante Sun, oh, Tante-Tante Sun

 
Sebagai salah satu kelompok musik pelopor yang berkontribusi cukup besar bagi kemajuan musik pop Tanah Air, mungkin sudah selayaknya suatu saat nanti didirikan museum Bimbo. Selain sebagai wujud apresiasi dan penghormatan terhadap eksistensi Bimbo, pendirian museum ini juga dimaksudkan agar khalayak dapat lebih jauh mengetahui hal ihwal yang terkait dengan Bimbo, mulai dari sejarah terbentuknya dari era pra-Bimbo, Trio Brimbo hingga ke era Bimbo, album-album musik berserta lagu-lagu yang telah mereka hasilkan, hingga ke pernak-pernik yang terkait dengan kelompok ini.

Kita tahu, Liverpool, Inggris, memiliki museum Beatles. Lalu, Stockholm, Swedia, mempunyai museum ABBA. Maka, Bandung, Indonesia, nanti perlu memiliki museum Bimbo. Soal nama museumnya barangkali bisa mulai dipikirkan dari sekarang. 

Selain pendirian museum, yang mungkin juga perlu diikhtiarkan adalah membuat film musikal layar lebar tentang sejarah perjalanan dan perjuangan kelompok Bimbo dalam meniti karir mereka di dunia seni musik. Diharapkan dengan adanya film musikal ini mampu menginspirasi serta memotivasi para generasi muda agar lebih gigih dan lebih kreatif dalam menghasilkan karya-karya nyata, apa pun bentuknya, yang bisa bermanfaat bagi khalayak luas.***

DJOKO SUBINARTO

AYO BACA : Hasil Undian Babak Perempat Final Liga Champions

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar