Yamaha NMax

Prostitusi Bandung: Pendampingan Rumah Cemara untuk ODHA

  Jumat, 15 Maret 2019   Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Sejumlah PSK di Jl Oto Iskandardinata, Bandung, Rabu (13/3/2019) dini hari. Kawasan tersebut sering dijadikan tempat mangkal bagi mereka mencari para hidung belang. (Danny/ayobandung.com)

GEGER KALONG, AYOBANDUNG.COM -- Perkembangan HIV/AIDS saat ini seperti fenomena gunung es, yang tampak hanya di bagian permukaannya saja. Pasalnya, masa inkubasi penyakit HIV/AIDS terhitung cukup lama.

Penyakit ini tidak seperti penyakit demam berdarah, begitu terserang langsung terlihat gejala-gejalanya. Karena waktu inkubasi yang lama, secara fisik pengidap HIV/AIDS tidak akan banyak berubah.

Staf Dukungan & Kemitraan Rumah Cemara, Kustantonio, mengatakan pentingnya pendampingan konseling untuk menangani masalah-masalah kesehatan terkait HIV. Rumah Cemara (RC) adalah salah satu komunitas di Bandung, yang selama ini telah konsisten melakukan perlawanan stigma itu.

Pendampingan RC pun mengusung pesan perlawanan stigma buruk terhadap orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dan orang-orang yang hidup bersama ODHA.

"Kami biasanya melakukan pendampingan melalui konseling. Kita tanya ada keluhan fisikkah? Keluhan dari mental/psikologis? dan penerimaan sosial terhadap pasien? Ini buat pendampingan dari sisi psikologis sama sosialnya," ungkap Kustantonio kepada ayobandung.com, belum lama ini.

AYO BACA : Prostitusi Bandung: Dinkes Bangun Kesadaran Pekerja Seks tentang Risiko HIV/AIDS

Secara medis, pria yang karib sapa Nio itu menyebut, RC juga merangkul para pasien ODHA yang berkonsultasi agar bersedia melakukan tes voluntary testing and counseling (VCT). Harapannya, jika memang kedapatan positif mengidap HIV/AIDS dapat ditangani dengan baik.

"Dari sisi medis juga kita tanya dulu karena nanti tujuannya untuk rujukan pengobatan. Tapi misal positif ODHA dan gak punya keluhan medis, ngerasa baik-baik aja tapi yang dia butuhin pendampingan secara psikologis sama sosial, maka kita juga tetap berikan," katanya.

Nio menyebut, pendampingan konseling HIV/AIDS ini bersifat komunikasi rahasia antara klien dan petugas kesehatan bertujuan memungkinkan klien menghadapi stres dan menentukan pilihan pribadi berkaitan dengan HIV/AIDS. 

Proses konseling di RC termasuk melakukan evaluasi risiko penularan HIV pribadi, memberikan fasilitasi perubahan perilaku, dan melakukan evaluasi mekanisme coping ketika klien dihadapkan pada hasil tes (+). Konseling pencegahan dan perubahan perilaku juga dilakukan guna mencegah penularan.

Diagnosis HIV mempunyai banyak dampak psikologik, sosial, fisik, dan spiritual. HIV merupakan penyakit yang mengancam kehidupan.

AYO BACA : Prostitusi Bandung: Kena Razia, Dapat Sanksi, Mangkal Lagi

"Fungsi konseling ini dua, kalau dia punya faktor risiko ngerasa takut tapi hasilnya negatif kita usahain pertahankan dia tetap negatif dengan berbagai edukasi. Kita tunjukkin bagaimana cara pencegahan yang benar, info HIV dasar kita kasih tahu, sama kalau dia terlanjur positif kita cari tahu dia agar bisa tetap sehat kalau pun positif. Dan kalau sudah positif dan pasien ini udah putus asa, kita beri dia semangat melalui role model yang bisa jadi panutan dan survive dari penyakit ini," lanjutnya.

Di sisi lain Nio menyampaikan, 10 tahun ke belakang penularan HIV AIDS banyaknya dari penggunaan narkoba suntik. Namun, fenomena penyebaran penyakit ini semakin bergeser ke arah penularan dari hubungan seks dengan berganti-ganti pasangan salah satunya melalui penularan praktik esek-esek.

"Penularan sekarang kalau dari narkoba sudah gak dari jarum suntik mulai dari oral, hisap. Tapi memamg sekarang paling banyak penularan yang dikonselingkan lebih ke penularan hubungan seks. Misal, banyak ibu-ibu tertular dari suaminya karena suami suka 'jajan'. Atau suami yang mantan pecandu yang udah positif tapi gak ngaku dan nular ke istri hingga anaknya," ungkap Nio.

Alhasil Nio menyebut, jika saat ini masyarakat awam ditanya “Siapa yang paling rentan mengidap HIV?”, kebanyakan akan menjawab pekerja seks komersial (PSK) atau yang berhubungan sesama jenis. Namun, kata dia, Ibu rumah tangga justru lebih berisiko terinfeksi HIV daripada PSK.

Namun di sisi lain, Nio menyebut, HIV-AIDS dapat menyerang siapa saja mulai usia 0-49 tahun. Meski begitu, fenomena saat ini usia rentang tersebut, yakni usia remaja yang paling banyak penderitanya, yakni berkisar usia 17-39 tahun. Oleh karenanya sebagai upaya pendampingan, Nio menambahkan pendekatan inklusif lebih efektif untuk melakukan sosialisasi terkait isu penularan HIV-AIDS.

Inklusif memungkinkan masyarakat melihat sedekat mungkin kehidupan seorang ODHA. Masyarakat bisa memastikan kebenaran atas stigma yang didengar, setelah melihat sendiri fakta seputar ODHA. Inklusif juga menekan risiko terjadinya penolakan dari masyarakat sekitar terhadap ODHA.

"Sekarang ke Rumah Cemara yang konseling penularan HIV AIDS ini melanda usia produktif. Misal belum lulus SMA. Jadi rentang usianya kebanyakan dari 17-39 tahun. Makanya kami sekarang lagi banyak kerja untuk perluas jejang komunitas, ke sekolah, hingga para pekerja seks karena kebanyak mereka masih banyak gak tahu soal isu HIV ini," ujarnya.

AYO BACA : Wanita Pemanis Kongres Gula dan Julukan Kota Kembang

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar