Yamaha Lexi

Wanita Pemanis Kongres Gula dan Julukan Kota Kembang

  Kamis, 14 Maret 2019   Nur Khansa Ranawati
Ilustrasi Bandung tempo dulu, Jl Braga. (bandungheritage.org)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Predikat yang melekat pada Kota Bandung sebagai Kota Kembang sudah banyak dikenal orang. Sebagian mungkin mengartikannya secara harfiah, namun sebagian lagi tak jarang yang menyimpan tanya; apa makna 'kembang' yang terkandung dalam julukan tersebut?

Untuk mengetahuinya, sejarah perlu diputar kembali ke masa Kota Bandung satu abad silam, tepatnya pada 1896. Saat itu, jalur kereta api baru yang menghubungkan Bogor-Sukabumi-Cianjur hingga kota-kota lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur resmi beroperasi. Hal tersebut sekaligus juga membuka akses orang-orang di Bandung terhadap kedatangan orang-orang Jatim dan Jateng karena kereta yang telah tersambung.

Kesempatan ini tidak ingin disia-siakan oleh sang Asisten Residen (jabatan tertinggi pegawai negeri Belanda zaman kolonial di suatu wilayah administratif) Priangan yang menjabat saat itu, Pieter Sijthoff. Berdasarkan buku Kisah Para Preanger Planters, Pieter berani mengambil resiko menjadikan Bandung sebagai tuan rumah Kongres Pengurus Besar Perkumpulan Pengusaha Perkebunan Gula (Bestuur van de Vereniging van Suikerpanters) selama tiga hari.

Hal tersebut tergolong berani mengingat Bandung saat itu bisa dikatakan masih berbentuk sebagai kawasan administratif yang kecil, belum banyak memiliki gedung pertemuan, termasuk belum memiliki jalan-jalan berbentuk aspal yang layak. Tamu-tamu yang diundang pun tidak sembarangan, yakni para meneer (tuan) pemilik kebun gula asal Jatim dan Jateng. Mesli demikian, kongres tersebut dikenang sebagai acara yang sukses.

"Kenapa diselenggarakan di Bandung, kota yang kecil? karena pengusaha gula ingin melihat seperti apa tempat yang didiami para penguasaha teh. Biar enggak malu-maluin, penyelenggara memberikan para tamu hiburan-hiburan," ungkap pegiat Komunitas Aleut dan pemerhati sejarah Bandung, Ariyono Wahyu Widjajadi pada ayobandung.com.

AYO BACA : Prostitusi Bandung: Tuan-tuan Kesepian dan Pergundikan di Kota Kembang

Hiburan tersebut, dia mengatakan, salah satunya adalah perempuan.

Untuk mengkoordinasikan 'hiburan perempuan' ini, seorang perintis pengusaha perkebunan yang dikenal royal serupa 'Don Juan' bernama Willem Schenk berinisiatif mengumpulkan perempuan-perempuan Indo (blasteran darah Eropa) dari Pasirmalang untuk didandani dan dibawa ke Bandung untuk menghibur para peserta kongres.

"Perannya serupa escort lady saat ini, tapi tidak jelas sejauh mana peran mereka menghibur peserta kongres, apakah termasuk pelayanan plus-plus seperti sekarang atau tidak," jelas Alex, sapaan akrab Ariyono. 

Berdasarkan keterangan dalam Kisah Para Preanger Planters yang dikutip dari Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, para peserta kongres konon merasa terpuaskan atas 'hiburan' yang disediakan. Setelah kongres tersebut, Bandung kemudian dikenal dengan sebutan "De Bloem der Indische Bergsteden," alias "Bunganya Kota Pegunungan di Hindia Belanda".

"Sejak itu salah satu kenangan yang tertinggal dari Kota Bandung ya soal perempuan," ungkap Alex. 

AYO BACA : Prostitusi Bandung: Kisah PSK Online yang Bercita-cita Membuat Buku Biografi

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar