Yamaha Lexi

Nahas Boeing 737 MAX 8 Ethiopian Airlines, Boeing Co Kian Tersudut

  Kamis, 14 Maret 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Boeing 737-Max. (Dok boeing.com)

Dalam dunia penerbangan ada sinisme: bila terjadi musibah maka telunjuk diarahkan kepada pilot dan cuaca. Penyelidikan yang dilakukan membenarkan sinisme itu.

Namun kepada siapa tuntutan diarahkan jika pilot sudah almarhum? Cuaca juga tidak bisa dituntut lantaran ‘alamatnya tidak diketahui’. Sementara produsen, masih aman-aman saja.

Kini, kejujuran kembali diuji. Dua pesawat yang sama dan baru, Boeing 737-MAX-8, jatuh dalam kurun waktu 5 bulan. Corak kecelakaannya pun mirip. Pesawat nyungsep setelah 6-12 menit lepas landas. 

Sebelum nyungsep, pesawat turun naik dan akhirnya menukik tajam ke Laut Jawa (Lion Air pada 29 Oktober 2019 yang menewaskan 189 penumpang dan awak pesawat) dan ke sebuah daerah di ibu kota Addis Abbaba, Ethiopia (Ethiopian Airlines pada 10 Maret 2019 yang menewaskan 157 penumpang dan awak).

Penelitian sementara pada kasus Lion Air menyebutkan Maneuvering Characteristics Augmentation System (MCAS) dan angle of attack sensoring bermasalah. MCAS adalah sistem autopilot untuk mengontrol manuver pesawat untuk menghindari manuver yang berbahaya.

Sedangkan angle of attack sensoring adalah instrumen yang mendeteksi sudut antara bidang sayap dengan arah angin dari depan ke belakang yang terkait dengan daya angkat. Sensor ini letaknya di hidung kanan depan pesawar dan datanya disampaikan ke kapten maupun co-pilot di layar komputer

Boeing -737-MAX memiliki postur mesin yang lebih besar dan posisinya agak lebih maju daripada sayap, dibandingkan dengan pesawat lain. Hal ini mempengaruhi daya angkat pesawat hingga dibuatlah MCAS yang secara otomatis akan menggerak-gerakan dua sayap ekor datar di dekat sayap tegak. Bila dua sayap ekor datar itu bergerak ke atas maka hidung pesawat menukik beberapa derajat dan sebaliknya.

Kedua instrumen  itu disebut bermasalah sehingga pilot tidak dapat melakukan antisipasi dengan tepat. Laporan terbaru mengungkapkan, dua pilot AS yang menerbangkan MAX menyatakan pesawat tidak stabil ketika autopilot MCAS digunakan. Baru ketika autopilot dimatikan, pesawat tidak lagi bergerak turun naik.   

AYO BACA : Daftar Maskapai yang Memiliki Boeing 737 Max 8, 2 Berasal dari Indonesia

Dalam kasus Lion pada Oktober 2018,  Captain Pilot in Command berusaha menstabilkan pesawat. Menjelang menit ke-12 ia menyatakan ingin kembali ke bandara awal, tetapi gagal. Sedangkan Kapten Pilot Ethiopian Airlines sempat memberitahu akan kembali ke bandara atau Return to Base (RtB) setelah 6 enam menit mengudara, tetapi tidak sempat melakukannya karena pesawat langsung jatuh.

Kondisi kedua pesawat yang hancur berkeping-keping menunjukkan bahwa keduanya menukik dengan kecepatan tinggi, minimal 300 km per jam. Kalangan penerbangan sedang menanti apakah kedua insiden nahas itu disebabkan oleh kegagalan instrumen yang serupa atau ada penyebab lain.

 

Reaksi FAA dan Boeing Corp. 

Federal Aviation Agency (FAA) menilai tidak ada alasan untuk mengandaskan pesawat. Boeing, selaku produsen B-737-MAX-8, telah diperintahkan untuk melakukan peningkatan kualitas instrumen di cockpit. Batas waktu penyelesaiannya adalah pada pertengahan April.

Setelah insiden Lion, Boeing telah mengirimkan beberapa rekomendasi kepada pengguna B-737-MAX-8 dan seri lain. Perusahaan ini juga menyarankan peningkatan pelatihan kepada para penerbang. 

Boeing Co. mencatat keberhasilan besar dalam penjualan B-737- MAX berbagai seri. Hingga Januari 2019, Boeing telah memperoleh pesanan 5.011 unit dari sedikitnya 78 pelanggan. Lion memesan 251 pesawat, Southwest Airlines 280 pesawat, dan Flydubai 251 pesawat. Pesawat yang sudah dikirimkan ke pemesan sekitar 471 unit, termasuk ke Garuda Indonesia satu unit dan Lion Air 10 unit.

Dari jumlah pesanan  itu terlihat, Boeing-737-MAX merupakan produk yang menguntungkan. Menurut analis perusahaan investasi perbankan dan jasa keuangan Goldman Sachs, Boeing 737-MAX menyumbang 33% dari total pendapatan Boeing hingga 5 tahun ke depan. Jadi bisa dibayangkan bagaimana kondisi keuangan Boeing bila jenis ini dianggap produk gagal dan hanya menjadi peti mati terbang?

AYO BACA : Belasan Maskapai Ramai-ramai Kandangkan Boeing 737 Max 8

 

Kecemasan Mendunia

Insiden dua pesawat yang menewaskan 346 orang dari berbagai kebangsaan itu merupakan peristiwa langka yang memilukan. Kejadian itu sekaligus merupakan ironi dari produk teknologi tinggi yang ditujukan untuk memberi kenyamanan kepada umat manusia.

Perusahaan-perusahaan penerbangan menghadapi pilihan sulit antara keselamatan dan aspek komersial, dalam menghadapi kasus ini. Mengandaskan Boeing-737-MAX akan menimbulkan dilema keuangan, bagaimana harus membayar pinjaman atau sewa ketika ‘mesin pencari uang’ tidak produktif.

Kenyataannya, maskapai penerbangan dari segala penjuru dunia memutuskan meng-grounded Boeing-737-MAX berbagai seri dan bahkan meminta produsen menunda pengiriman, sebagaimana yang dilakukan Lion Air dengan menunda kedatangan 4 pesawatnya.

Sebelumnya, Presiden Direktur Lion Air Rusdi Kirana dikabarkan marah karena Boeing cenderung menyalahkan Lion dalam insiden Oktober lalu. “Boeing juga tidak memberitahukan perubahan desain kepada pelanggan,” katanya. Perubahan itu diduga menyangkut postur mesin yang lebih besar dan lainnya.    

Maskapai penerbangan tentu akan lebih memilih safety agar penumpang tidak lagi was-was sebab ada kepastian mereka tidak akan menaiki ‘peti mati terbang.’ Maskapai lebih suka menunggu keputusan dari FAA dan Boeing terkait masalah ini. Sebagaimana diketahui,  FAA telah berubah sikap dan ikut memutuskan mengandaskan B-737- MAX-berbagai seri sampai diketahui hasil penyelidikan atas nahas pesawat Ethiopian Airlines.

Perubahan sikap itu dipengaruhi pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait mental-psikologi. Katanya,“keselamatan bagi rakyat Amerika Serikat dan semua orang merupakan hal yang utama.”

Inilah ironi di zaman modern. Pesawat yang berteknologi makin canggih ternyata mengandung masalah kemanusiaan dan juga membuat investor saham Boeing merugi US$26,6 miliar dalam waktu tiga hari . Meskipun demikian kita tidak bisa kembali ke teknologi baling-baling bambu-nya Dora Emon.

 

Farid Khalidi

AYO BACA : Akhirnya Amerika Ikut Kandangkan Boeing 737 Max 8 dan 9

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar