Yamaha Lexi

Mengentaskan Stunting dengan ASI

  Rabu, 13 Maret 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Ilustrasi. (Pixabay)

Stunting adalah keadaan kurang gizi kronis pada anak yang berdampak serius pada perkembangan fisik, mental, dan emosinya. Stunting pun dapat memperburuk perkembangan otak. Perbaikan gizi yang tepat pada saat anak penderita stunting sudah dewasa tetap tidak banyak berpengaruh pada perbaikan perkembangan otaknya. Bahkan, pada saat dewasa, anak penderita stunting berisiko lebih besar mengidap penyakit jantung, diabetes, dan penyempitan pembuluh darah.

Salah satu faktor utama penyebab stunting adalah kurangnya asupan gizi ketika anak masih bayi, khususnya asupan air susu ibu (ASI). Data BPS tahun 2017 menunjukkan bahwa di Kota Bogor anak berusia di bawah dua tahun (baduta) yang pernah mendapat ASI hanya sebesar 86%. Itu berarti masih ada sekitar 14% baduta yang tidak mendapat ASI. Data lain menunjukkan bahwa pemberian ASI pun rata-rata hanya selama 12 bulan. Bayi yang mendapat ASI hingga dua puluh empat bulan atau dua tahun hanya sekitar 19%.

Ada berbagai alasan yang muncul berkaitan dengan masih tingginya persentase bayi yang tidak mendapat ASI ini. Ada yang beralasan bahwa sang ibu bekerja, khawatir ASI tidak cukup banyak, gencarnya promosi susu formula yang seolah-olah dapat menggantikan ASI, kurangnya pengetahuan tentang ASI, atau lingkungan yang tidak mendukung para ibu memberikan ASI kepada bayinya.

Fakta-fakta tersebut sungguh berseberangan dengan kedudukan Indonesia sebagai negara yang telah sepakat untuk  menerapkan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals, SDGs) yang salah satunya adalah menghilangkan segala bentuk kekurangan gizi, khususnya pada anak di bawah lima tahun (balita).

Padahal, ada banyak keuntungan yang dapat diperoleh dengan pemberian ASI ini. Keuntungan yang dimaksud tidak hanya bagi sang bayi, tetapi juga bagi sang ibu dan keluarganya, bahkan negara.

Keuntungan bagi sang bayi menurut  Millennium Challenge Account Indonesia(2014), pemberian ASI, khususnya ASI eksklusif 6 bulan pertama, dapat mencegah stunting pada anak. Penelitian lain yang dilakukan Lancet Breastfeeding menunjukkan bahwa pemberian ASI dapat meningkatkan kesehatan, perkembangan kognitif, dan menurunkan angka kematian secara signifikan.

Bagi sang ibu, masih menurut penelitian Lancet Breastfeeding, pemberian ASI dapat menurunkan risiko kanker payudara dan kanker ovarium.

AYO BACA : Atalia Puji Garut Berhasil Turunkan Angka Stunting

Bagi keluarganya, pemberian ASI dapat mengurangi pengeluaran rutin membeli susu formula sebagai pengganti ASI. Dalam jangka panjang, hal ini dapat juga mengurangi pengeluaran untuk biaya kesehatan karena bayi dengan ASI tentu lebih sehat daripada tanpa ASI.

Bagi negara, bayi dengan ASI akan sehat. Bayi yang sehat tentu akan mengurangi anggaran kesehatan. Bagi lingkungan, produksi susu formula dan pendukungnya pun ikut berkurang.

Bagaimana menjawab tantangan bahwa sang ibu bekerja sehingga tidak dapat memberikan ASI secara optimal? Tidak dapat dipungkiri bahwa zaman sekarang banyak kaum ibu yang berprofesi di luar rumah. Namun, hal itu sebaiknya tidak menghalangi upaya pemberian ASI karena ibu adalah tokoh utama untuk memenuhi kebutuhan gizi bayi. Untuk itu, tidak seharusnya urusan pemberian ASI ini hanya menjadi tanggung jawab pribadi sang ibu.

Kaum ibu harus mendapat dukungan dari berbagai pihak.Dukungan keluarga, terutama sang ayah, sangat diperlukan, misalnya yang paling mudah adalah membantu bayi sendawa setelah menyusu. Sang ayah dapat pula memberikan waktu istirahat lebih bagi kaum ibu dengan membantu pekerjaan rumah tangga atau menjaga kebahagiaankaum ibu yang merangsang produksi ASI-nya tetap baik.

Bagaimana menjawab tantangan bahwa sang ibu khawatir ASI-nya tidak keluar banyak, gencarnya promosi susu formula, atau kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pentingnya ASI?

Pada zaman teknologi informasi yang semakin canggih, kini sudah banyak komunitas ibu menyusui di media sosial sehingga kaum ibu dapat bertukar pengetahuan dan saling mendukung agar tercapai tujuan pemberian ASI selama dua tahun.

Untuk kaum ibu yang tak terjangkau teknologi informasi, dukungan masyarakat dan pemerintah dalam menyediakan berbagai informasi tentang ASI menjadi sangat penting. Masyarakat dapat membantu dengan memberi kemudahan bagi kaum ibu menyusui bayinya di ruang publik.

AYO BACA : Kasus Stunting di Indramayu 29,9%

Penyediaan fasilitas pendukung seperti kamar laktasi dan fasilitas pelayanan kesehatan bagi kaum ibu adalah contohnya. Beberapa pusat perbelanjaan, kantor pemerintah atau swasta, dan fasilitas pelayanan kesehatan di Kota Bogor kini telah menyediakan ruang laktasi, bahkan klinik laktasi.

Adapun pemerintah dapat membantu dengan membuat aturan yang kondusif. Misalnya, Pemerintah Kota Bogor menerbitkan Peraturan Wali Kota (Perwali) Kota Bogor Nomor 26 Tahun 2017 tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif. Hal itu menjamin pemenuhan hak bayi mendapat ASI eksklusif sejak lahir sampai dengan usia enam bulan. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan bayi, memberikan perlindungan kepada ibu dalam memberikan ASI eksklusif, dan meningkatkan peran dan dukungan keluarga, masyarakat, dan pemerintahdaerah.

Perwali tersebut memberi tugas kepada setiap fasilitas kesehatan di Kota Bogor agar membantu ibu untuk melakukan inisiasi menyusui dini (IMD), membantu ibu cara menyusui, memberikan ASI saja kepada anak baru lahir (kecuali ada indikasi medis), menetapkan rawat gabung ibu dan bayi dalam waktu 24 jam sejak lahir, menganjurkan menyusui sesuai dengan kebutuhan bayi dan tidak memberi susu formula atau dot kepada bayi.

Bagaimana menjawab tantangan bahwa lingkungan tidak mendukung para ibu memberikan ASI? Perlu ada sebuah upaya pemahaman bersama tentang pentingnya ASI sehingga lingkungan di sekitar ibu menyusui turut mendukung program pemberian ASI.

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan pemberian ASI bisa mencapai dua kali lipat pada kaum ibu yang mendapat dukungan dari lingkungannya daripada yang tidak mendapat dukungan. Penelitian lain menyebutkan bahwa keberhasilan menyusui hanya 26% jika kaum ibu tidak mendapat dukungan dari lingkungannya. Jika mendapat dukungan, tingkat keberhasilan menyusui meningkat hingga 98%. Penelitian lain Lancet Breastfeeding menyebutkan bahwa kombinasi sistem kesehatan dan dukungan lingkungan yang baik meningkatkan keberhasilan pemberian ASI hingga dua kali lipat.

Dengan demikian, diharapkan tidak ada lagi alasan kaum ibu tidak dapat menyusui bayinya. Tidak ada lagi alasan munculnya stunting dan tidak ada lagi alasan bagi tidak tercapainya SDGs. Semua itu dapat dientaskan melalui pemberian ASI eksklusif dan ASI hingga dua tahun serta dukungan dari semua pihak.

Khairunnisa

Statistisi Muda BPS Kota Bogor

AYO BACA : Cegah Stunting Lewat Program Beas Bereum

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar