Yamaha

Prostitusi Bandung: Tuan-tuan Kesepian dan Pergundikan di Kota Kembang

  Rabu, 13 Maret 2019   Nur Khansa Ranawati
Sejumlah PSK di Jl Oto Iskandardinata, Bandung, Rabu (13/3/2019) dini hari. Kawasan tersebut sering dijadikan tempat mangkal bagi mereka mencari para hidung belang. (Danny/ayobandung)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Praktik pergundikan atau pria yang mengambil wanita sebagai pasangan di luar pernikahan resminya bukanlah hal baru di Indonesia, dan masih eksis hingga sekarang. Di Jawa Barat, fenomena kawin kontrak di bilangan Puncak, Bogor, menjadi salah satu praktik 'pergundikan modern' yang telah dikenal luas di masyarakat.

Bila saat ini hal tersebut banyak dilakukan secara transaksional, di zaman kolonial, kekuatan tawar perempuan bisa jadi lebih kecil. Menjadi gundik bagi meneer adalah salah satu bentuk kepatuhan terhadap penjajah, selain juga diselubungi motif ekonomi untuk memperbaiki taraf hidup dirinya dan keluarga.

Di tanah Priangan, sebutan bagi perempuan gundik yang tinggal bersama koloni Belanda atau pria kulit putih lainnya kerap dikenal dengan istilah 'Nyai'. Istilah ini juga sebenarnya muncul di beberapa daerah lain di Pulau Jawa. 

Berdasarkan keterangan Her Suganda dalam buku Kisah Para Preanger Planters, kemunculan Nyai sebagai ekses persinggungan hubungan antara pria kulit putih dengan wanita pribumi mulai muncul sejak awal kedatangan para londo ke Hindia Belanda di abad ke-17.

Awalnya, wanita yang dijadikan Nyai berasal dari budak perempuan yang diperdagangkan di Batavia, terutama para budak yang didatangkan dari Bali.

Setelah perbudakan dihapus, Nyai kemudian dipilih dari kalangan penduduk setempat. Seorang Nyai pada umumnya dianggap sebagai status yang lebih tinggi dibanding babu atau jongos, namun secara moral sebenarnya dianggap lebih rendah karena peran utamanya adalah melayani kebutuhan syahwat sang pria. 

Perannya tak terlalu jauh berbeda dengan seorang selir. Hal yang membedakan adalah 'kepemilikannya'. Bila Nyai merupakan simpanan koloni kulit putih, selir sudah lebih lama dipahami sebagai wanita simpanan para Raja, bangsawan pribumi atau para menak sebagai bagian dari hak istimewa mereka. Bupati-bupati Bandung pada masa yang sama juga tercatat memiliki banyak selir.

Bila anak dari para selir pada umumnya bisa mengalami kenaikan status sosial karena ayahnya merupakan bangsawan, berbeda halnya dengan anak dari Nyai. Anak seorang Nyai, beserta sang Nyai, sewaktu-waktu bisa saja didepak dari rumah karena mereka tidak memiliki ikatan formal.

"Tanpa pemberitahuan sebelumnya bisa ditendang ke luar rumah. Kalau yang beruntung, bisa jadi istri resmi, punya buku nikah, akta waris, tapi kebanyakan kalau sudah enggak suka ya dibuang saja, sama anak-anaknya juga bisa enggak peduli," kata pegiat Komunitas Aleut, Ariyono Wahyu Widjajadi pada ayobandung.com.

AYO BACA : Prostitusi Bandung: Kisah PSK Online yang Bercita-cita Membuat Buku Biografi

'Mengatasi' Kesepian
Kebutuhan akan keberadaan Nyai di kalangan para koloni di Hindia Belanda, termasuk Bandung, semakin masif terutama setelah diberlakukannya Undang-undang Agraria pada 1870. Undang-undang tersebut secara garis besar mengawali berdirinya sejumlah perusahaan swasta di Hindia Belanda, dan oleh karenanya membawa gelombang baru kedatangan pria-pria Belanda di sejumlah tempat.

Selama satu dekade sepanjang 1870-1880, tercatat ada 10 ribu orang kulit putih yang menetap di Hindia Belanda, dan mayoritas merupakan pria lajang. Proporsinya tidak seimbang dengan keberadaan wanita kulit putih di Hindia Belanda.

Oleh karena itulah, mengangkat Nyai menjadi suatu opsi yang dinilai paling aman ketimbang berhubungan intim di pelacuran.

"Orang Belanda datang ke sini hampir bisa dibilang semuanya laki-laki. Ini daerah tropis, sementara mereka datang dari kawasan Eropa sehingga butuh penyesuaian iklim dan sebagainya, jadi mereka tidak membawa keluarganya. Sementara, kebutuhan seks adalah kebutuhan yang paling dasar. Perempuan yang ada kan hanya perempuan-perempuan pribumi, jadi ya mereka pergi ke plesiran/pelacuran atau mengambil istri simpanan yang tidak sah, statusnya bisa langsung jadi Nyai," jelas Ariyono.

Reggie Baay dalam bukunya Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda menerangkan bahwa sejak 1870 praktik Nyai dapat dijumpai di hampir seluruh lapisan sosial masyarakat Belanda; mulai dari pawa pegawai rendah, pegawai perkebunan, juru tulis, hingga anggota Dewan Rakyat.

Cikal Bakal Prostitusi?
Sulit melacak kapan persisnya prostitusi muncul dan berkembang di Kota Bandung. Berbeda dengan Nyai, pemenuhan kebutuhan seksual pada prostitusi bersifat lebih transaksional dengan balas jasa tertentu, biasanya berupa uang. Berdasarkan pengertian KBBI, prostitusi berarti pertukaran hubungan seksual dengan uang atau hadiah sebagai suatu transaksi perdagangan; pelacuran.

Ariyono mengatakan, prostitusi di tanah Priangan sebenarnya sudah hadir berbarengan dengan fenomena Nyai muncul. Bahkan, bisa jadi lebih tua dari itu. 

"Dulu sih Nyai dan pelacuran tuh awalnya ya muncul berbarengan, dari awal Belanda datang, kemudian muncul kebutuhan-kebutuhan itu. Mereka datang dengan jumlah laki-laki yang sangat banyak dan perempuan yang sangat sedikit," jelasnya.

Bila merujuk pada naskah Wawacan Carios Munada yang menceritakan soal konflik pada 1842 antara pedagang mualaf asal Tiongkok bernama Munada dengan Asisten Residen Priangan, C.W Nagel, disana disebutkan sekilas praktik prostitusi sebagai salah satu hal yang paling disukai Munada.

AYO BACA : Prostitusi Bandung: IRT Nyambi Pijat Plus-plus untuk Bayar Utang

Pria bernama asli Liem Siang tersebut diceritakan hidup dengan 'motto' 4 M, yakni maen (berjudi), madat (mengisap candu), madon (main perempuan), dan maling (mencuri atau menipu).

Tak hanya itu, transaksi atas 'kompensasi jasa' seksual yang berakhir dengan hal tidak diinginkan (kehamilan) di masa jabatan Bupati R.A Wiranatakusumah tersebut juga ditemui. Masih berdasarkan naskah yang sama, C.W Nagel dikisahkan sebagai seorang bujangan tampan, namun kesepian dan memerlukan teman berkencan.

Nagel kemudian meminta salah seorang selir sang bupati untuk menemaninya di loji (rumah bagi asisten residen). Lama-kelamaan, sang selir mengandung, namun Nagel tak mau mengakui hal tersebut karena belum menikah. Selir tersebut kemudian dinikahi oleh Bupati R.A Wiranatakusumah, dan anaknya diangkat sebagai anak. Untuk hal tersebut, Nagel membayar kompensasi sebesar f. 100,00 kepada sang selir sesuai janjinya.

Pembangunan jalur kereta api rute Batavia-Bandung melalui Bogor dan Cianjur juga digadang-gadang sebagai babak baru yang meramaikan jagat prostitusi Bandung. Pada 1884, Stasiun Bandung dibuka. Banyaknya orang yang datang dan pergi dari jauh menyebabkan tumbuhnya tempat-tempat istirahat 'plus-plus' di sekitaran stasiun. 

Termasuk cerita tentang seorang Nyai yang dikenal pandai 'menyambungkan kebutuhan' antara gadis lokal dengan para meneer Belanda yang notabene merupakan rekan-rekan suami (tidak sah)nya, seorang tentara KNIL. 

"Nyai prajurit KNIL Belanda itu suka menyediakan perempuan buat menemani teman-teman suaminya. Itu terjadi di era akhir 1800 dan awal 1900. Karena lokasinya dekat kawasan staisun, lokasi tersebut berkembang setelah kereta api masuk dan kemudian banyak muncul penginapan," jelas Ariyono. Di samping itu, area daerah Stasiun Bandung sebelumnya juga merupakan kawasan militer, sehingga peredaran Nyai dan prostitusi tumbuh subur di daerah tersebut. 

Hal yang dilakukan sang Nyai tersebut adalah praktik yang kurang lebih sama dengan apa yang dilakukan seorang germo atau mucikari saat ini. Masih belum jelas apakah Nyai yang dimaksud dalam kisah 'bisnis lendir' tersebut adalah orang yang sama dengan Nyai Saritem--salah satu daerah prostitusi tertua di Bandung--atau bukan. 

Dia menambahkan, di Cina juga hukum tentang prostitusi kurang kuat, sehingga PSK-nya juga banyak. Sampai saat ini, belum ada hukuman keras untuk PSK di Cina, walaupun statusnya ilegal.

Selain itu, banyak tidaknya jumlah PSK di suatu negara juga dipengaruhi legal atau tidaknya usaha prostitusi di negara tersebut. 

Dikutip dari situs procon.org, dari 100 negara, 53 di antaranya melegalkan bisnis prostitusi. Contoh negara-negara tersebut adalah Brazil, Jerman, Yunani, Spanyol dan Italia. Situs ini juga menyebutkan bahwa Inggris menjadi salah satu negara dengan jumlah PSK paling sedikit.

AYO BACA : Oplas Habis Rp1 Miliar, Lucinta Luna: Biarpun Nggak Makan, Asal Cantik

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar