Yamaha Aerox

Prostitusi Bandung: Kisah PSK Online yang Bercita-cita Membuat Buku Biografi

  Selasa, 12 Maret 2019   Faqih Rohman Syafei
Vani, nama samaran, saat diwawancarai. (Irfan/ayobandung)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Bisnis prostitusi di Kota Bandung seolah tidak ada matinya, setelah kawasan lokalisasi legendaris Saritem di tertibkan pada beberapa tahun lalu, tidak serta merta meredupkan bisnis esek-esek ini.

Seiring dengan perkembangan zaman serta didukung perangkat gawai yang semakin canggih, para penjaja cinta ini mulai beralih dengan memanfaatkan aplikasi pertemanan untuk menggaet para pelangganya.

Prostitusi online sebutnya kini, sudah mulai marak 3 - 4 tahun lalu. Banyak dari penjaja cinta ini secara terang-terangan membuka jasa pemuas nafsu syahwat di aplikasi pertemanan, mereka pun tak sungkan menawarkan langsung tanpa harus dipancing terlebih dahulu. 

Ayobandung.com pun mencoba menelusurinya, melalui aplikasi MiChat berhasil bertemu dengan salah seorang pelaku yang berkecimpung dalam prostitusi online.

Sebut saja, Vani (28) yang telah menggeluti profesinya sebagai pemuas lelaki hidung belang sejak delapan tahun lalu. Pada awalnya ia terpaksa melakukan bisnis terlarang ini lantaran kebutuhan ekonomi dan juga rasa sakit hati karena ditelantarkan suaminya.

"Aku kerja kaya gini sakit hati gara-gara karena ditinggalin suami pas waktu hamil dulu, untuk kebutuhan ekonomi juga," ujarnya kepada ayobandung.com.

AYO BACA : Prostitusi Bandung: IRT Nyambi Pijat Plus-plus untuk Bayar Utang

Ia mengaku sebelum menggunakan aplikasi pertemanan MiChat dan Beetalk dirinya pernah menjadi anak buah seorang mamih atau mucikari ketika masih di Jakarta. Dirasa uang yang diterima sedikit, karena banyak potongan Vani pun memutuskan untuk beralih ke online.

"Jadi ke sayanya cuma 40%, mamih dapat 60%. Itu juga katanya untuk keamanan 30%, biar aman gitu jadi enggak digerebek atau dirazia soalnya kan udah bayar," terangnya.

Ibu dua orang anak ini, menjelaskan untuk memikat pelanggannya ia tak segan memajang foto-foto wajahnya di aplikasi tersebut. Tarif yang ditawarkannya untuk kali main berkisar Rp500 ribu dengan durasi sekitar satu jam. 

Terdapat aturan yang wajib dipatuhi oleh para pelanggannya, yakni tidak boleh lewat belakang atau anus. Sedangkan penggunaan kondom tidak terlalu dipentingkan, tetapi untuk soal ini ia pilih-pilih orang. 

"Saya juga pilih-pilih tamu enggak semuanya diambil, dalam sehari saya bisa melayani 4 - 5 orang. Tamunya juga beragam ada juga katanya pejabat, aparat dan lainnya dari menengah atas sampai bawah," sebutnya. 

Untuk menghindari penggerebegan, ia menenggaku mempunyai teman yang bekerja di sejumlah instansi dan selalu memberitahukannya bila ada razia. Sedangkan untuk mencegah tertular penyakit berbahaya setiap sebulan sekali, Vani mengecek kesehatannya ke sebuah klinik.

AYO BACA : Prostitusi Bandung: Bisnis Esek-esek Mulai dari Rp150 Ribu

"Makanya saya suka berpindah-pindah tempat kadang di hotel, apartemen, guest house atau kosan. Saya juga disuntik penisilin dan cek darah rutin ke klinik," katanya.

Keinginan untuk berhenti
Selama menggeluti profesinya sebagai penjaja cinta, Vani menenggaku dalam lubuk hatinya terbesit keinginan untuk berhenti dan memulai kehidupan barunya tanpa harus mengubur dalam-dalam masa lalunya.

Keinginan tersebut muncul mengingat dirinya sudah mempunyai dua orang anak yang kini tengah beranjak besar. Disamping itu, ia pun sadar akan persaingan bisnis yang keras dalam dunia semacam ini. Banyak diantara para penjaja cinta yang baru memiliki wajah nan cantik dan tubuh langsing, tentunya ini akan diburu oleh para lelaki hidung belang.

"Banyak saingan dengan pemain baru dari kalangan ABG terus cantik-cantik sama vulgar-vulgar, saya juga ingat umur masa udah mau 30 tahun masih gini aja. Sama kadang ada pelanggan yang rese enggak bayar lah ini itu lah," terangnya. 

Beragam upaya pun pernah dijalaninya dengan mencoba untuk berjualan online sebagai reseller, namun tidak pernah terlaksana juga. Kini, Vani hanya menginginkan dapat membuka sebuah warung sembako kecil untuk memenuhi kebutuhannya.

Tak hanya itu, ia pun bercita-cita membuat sebuah buku biografi yang menceritakan perihnya perjuangan hidupnya. Dengan harapan agar masyarakat luas tidak memandang rendah orang-orang yang berprofesi seperti ini. 

"Saya ingin berhenti dari pekerjaan ini, masa mau gini terus. Saya ingin buka warung sembako rencananya umur 30 tahun berhenti kaya gini. Saya cita-cita ingin bikin buku perjalanan hidup saya, biar jangan ada yang pandang sebelah mata pekerjaan kaya gini walaupun alasan karena ekonomi tapi memang benar adanya," pungkasnya. 

AYO BACA : Oplas Habis Rp1 Miliar, Lucinta Luna: Biarpun Nggak Makan, Asal Cantik

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar