Yamaha Lexi

Bawang Merah Penyebab Deflasi Februari di Kota Bogor

  Selasa, 12 Maret 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Ilustrasi: Bawang merah menjadi penyebab deflasi Februari di Kota Bogor. (Pixabay)

Melimpahnya pasokan bawang merah pada Februari 2019 di Kota Bogor menyebabkan terjadinya penurunan harga. Menurunnya harga bawang merah ini juga menjadi sebab utama adanya deflasi di Kota Bogor pada bulan yang sama sebesar 0,40 persen, seperti dalam catatan BPS Kota Bogor.

Bila dilihat, harga bawang merah pada Januari 2019 di Kota Bogor justru cenderung tinggi.

Harga bawang merah Januari berkisar antara Rp24.000 sampai dengan Rp35.000 sedangkan di Februari turun menjadi Rp20.000 sampai dengan Rp28.000 per kilogram.

Penyumbang deflasi kota bogor terbesar kedua adalah cabai merah. Rata-rata harga cabai merah Januari adalah Rp27.650 sementara bulan selanjutnya turun menjadi RP20.250 per kilogram.

Meski demikian, turunnya harga-harga kebutuhan bahan makanan ini tidak diikuti oleh bahan makanan lainnya seperti beras, bawang putih, cumi, ikan mas, dan kacang panjang.

Rata-rata harga beras justru naik dari Rp12.166 per kilogram menjadi Rp12.207 per kilogram. Bawang putih juga mengalami kenaikan harga, dari rata-rata Rp23.321 di Januari 2019 menjadi Rp25.143 per kilogram di Februari 2019.

AYO BACA : 3 Jurus Pemerintah Kendalikan Inflasi 2019

Menurunnya harga di Kota Bogor tidak hanya dialami oleh kelompok kebutuhan bahan makanan saja, tetapi dialami oleh kelompok harga sandang serta harga transport, komunikasi, dan jasa keuangan.

Menurut berita resmi statistik Kota Bogor, hampir seluruh kota IHK di Jawa Barat mengalami deflasi kecuali Kota Bekasi yang mengalami inflasi sebesar 0,17 persen.

Bahkan angka deflasi Kota Bogor berada di urutan pertama di Provinsi Jawa barat. Selanjutnya diikuti oleh Kota Cirebon, Kota Sukabumi, Kota Tasikmalaya, Kota Bandung, dan terakhir Kota Depok yang mengalami deflasi terendah sebesar 0,05 persen.

BPS menggunakan tujuh kelompok pengeluaran untuk menghitung inflasi/deflasi.

Dari ketujuh kelompok tersebut, di Februari 2019 ternyata ada empat kelompok yang tidak mengalami penurunan harga, yaitu kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau; perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar; kesehatan; serta kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga. Kelompok tersebut justru mengalami kenaikan walaupun hanya berkisar antara 0,04 persen sampai dengan 0,19 persen.

Dari kelompok bahan makanan, komoditas yang mengalami penurunan harga paling tinggi di antaranya bawang merah, cabai merah, wortel, telur ayam ras, cabai rawit, daging ayam ras, dan daun bawang.

AYO BACA : Harga Beras Bekasi Melonjak di Awal Tahun

Sementara itu, untuk kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau mengalami kenaikan harga atau inflasi dan komoditas yang mengalami inflasi di antaranya adalah eskrim, sirup, dan sari jeruk.

Untuk kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar, komoditas yang mengalami inflasi tertinggi adalah kontrak upah pembantu rumah tangga, harga panci, pembersih lantai, besi beton, asbes, upah baby sitter, tisu, dan pembasmi nyamuk.

Kelompok sandang juga mengalami hal sama dengan kelompok bahan makanan, yaitu deflasi. Adapun komoditas kelompok sandang yang mengalami deflasi utamanya adalah kemeja panjang, baju kaos berkerah, sandal, sandal kulit, kaos kaki, dan emas perhiasan.

Untuk kelompok kesehatan, pada Februari 2019 justru mengalami inflasi di antaranya adalah komoditas pasta gigi, tarif laboratorium, lipstrik, obat batuk, sikat gigi, dan obat flu.

Kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga mengalami inflasi dengan komoditasnya yang paling tinggi kenaikan harganya, diantaranya adalah bimbingan belajar, kelompok bermain, dan buku tulis. Kelompok terakhir, yaitu transpor, komunikasi, dan jasa keuangan mengalami deflasi.

Momen turunnya harga beberapa kebutuhan bahan makanan ini secara kebetulan berbarengan dengan penggantian secara resmi direktur utama Perusahaan Daerah Pasar Pakuan Jaya (PD PPJ) yang dilantik pada awal Februari 2019. Semoga dengan pergantian tersebut, Pemerintah Kota Bogor bisa lebih baik lagi dalam menjaga kestabilan harga-harga kebutuhan masyarakat Kota Bogor.

Ika Rani Mardani, S.ST

Statistisi Muda BPS Kota Bogor

AYO BACA : Wow Terjadi Deflasi pada Februari 2019

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar