Yamaha Mio S

Bandoeng Baheula: Kisah di Balik Patung Pastor Taman Maluku

  Jumat, 08 Maret 2019   Anya Dellanita
Patung Pastor di Taman Maluku. (Anya Dellanita/ayobandung).

BANDUNG WETAN, AYOBANDUNG.COM--Taman Maluku Bandung dikenal dengan keberadaan patung pastor. Banyak informasi mengenai patung pastor tersebut. Mulai dari informasi patung bisa bergerak sendiri pada malam hari atau patung tersebut dibuat untuk mengenang pastor yang tewas karena kecelakaan pesawat di Taman Maluku.

Namun, itu semua hanya kabar burung. Bahkan, pastor tersebut belum pernah menginjak kota Bandung. Lalu, siapakah dia?

Menurut Direktur Komunitas Aleut, Ridwan Hutagalung, pastor ini bernama Henricus Christiaan Verbraak, seorang pria kebangsaan Belanda yang dilahirkan pada 28 Maret 1835. Pria yang awalnya bercita-cita menjadi pedagang ini memulai karirnya sebagai pastor pada 1862.

"Setelah dia latihan bertahun-tahun, akhirnya dia memutuskan jadi misionaris. Tugas pertamanya itu di Indonesia, di Padang tahun 1872," ujar Ridwan saat dihubungi ayobandung, Jumat (8/3/2019).

Setelah melaksakan tugasnya di Padang, Verbraak diutus ke Aceh. Pada tanggal 29 Juni 1984, dia sampai Aceh dan tinggal di situ hingga 23 Mei 1907.

Hari terakhirnya di Aceh menjadi terakhir kalinya Verbraak merayakan Ekaristi bersama umat di Gereja Hati Kudus Yesus Banda Aceh yang sekaligus menjadi acara perpisahannya. Dia kembali lagi ke Padang dengan kereta api dari Ulee Lheue.

Sepeninggal Verbraak, umat yang terkenang mendirikan patung Pastor Verbraak di Simpang Pante Pirak dan Peunayong, dekat gerejanya. Simpang itu sekarang dikenal dengan nama Simpang Lima dan patungnya sudah tidak ada lagi.

Walaupun kala itu Aceh sedang dilanda perang, Verbraak tetap melaksanakan tugasnya dengan penuh pengabdian. Sampai tahun 1877, dia harus tinggal di sebuah gubuk sederhana yang sekaligus menjadi tempat pelayanannya. 

Tahun 1877, pemerintah Belanda memberikan tanah untuk membangun kapel dari kayu di pinggir Sungai Atjeh yang juga disebut Pante Pirak. Namun, daerah tersebut sering dilanda banjir sehingga bangunan itu tidak tahan lama.

Penguasa militer saat itu, Van der Heyden, yang mengetahui masalah ini memberikan izin untuk mendirikan bangunan yang lebih layak dan dimulailah pembangunan gereja dan pastoran baru yang mulai dilaksanakan pada 5 Februari 1884. Gereja dengan menara tersebut, dibangun dari kayu yang berkualitas bagus dan lebih kuat dari sebelumnya.

Satu tahun kemudian, pada Hari Raya Paskah, gereja tersebut mulai digunakan. Gereja ini menjadi Gereja Katolik pertama di Aceh dan setelah mengalami perombakan pada tahun 1924, masih tetap berdiri hingga saat ini.

Tahun 1896-1897 adalah tahun yang paling sibuk untuk Pastor Verbraak. Jika ada kereta datang mengangkut korban luka dan meninggal tiba di Kutaraja, dia akan menunggu semua korban masuk ke rumah sakit lalu menghibur mereka.

Verbraak selalu mencari panti asuhan atau orang tua angkat untuk anak-anak yang tertinggal dan tidak terurus. Tak hanya itu, semua instansi di Aceh dihimbau Verbraak untuk memenuhi kewajiban mereka untuk membantu anak-anak yatim piatu ini. Kepedulian pastor Verbraak kepada anak-anak ini membuatnya dicintai semua orang.

"Pokoknya dia udah kaya bapak yang sayang ke anaknya," kata Ridwan.

Saking disayangnya, jika Verbraak akan datang berkunjung ke satu tempat, satu batalyon dengan 30 bayonet dipimpin oleh seorang sersan keluar dari benteng untuk menjemputnya. Setibanya di benteng, dia akan disambut seperti kawan lama.

Untuk peringatan 25 tahun bekerja sebagai pendeta dan bersamaan dengan peringatan Verbraak tinggal 20 tahun di Aceh, pemerintah menganugerahkan gelar Ridder in de Orde van den Nederlandsche Leeuw (Ksatria dalam orde Singa Belanda) untuknya. Gelar ini dia terima di samping Medali Aceh dan bintang Ekspedisi yang telah dimilikinya. 

Tahun 1907, pastor Verbraak memutuskan untuk berhenti bekerja setelah 33 tahun bekerja tanpa henti di daerah tropis. Walaupun fisiknya masih kuat dan sehat, tetapi pengelihatannya sudah sangat buruk.

Setelah pensiun Verbraak bermukim di Magelang, kota militer di Jawa Tengah.

Di Magelang kesehatan Verbraak terus menurun, banyak orang telah menawarkan pengobatan untuk penyakitnya, namun dia selalu menolak. Alasannya, menurutnya sudah sepantasnya tubuhnya yang sudah tua itu sakit setelah hidup sehat selama 80 tahun, jadi memanggil seorang perawat atau dokter hanya merepotkan orang.

Di ulanh tahunnya yang ke-80, dia merayakan bersama penduduk Magelang. Tiga tahun kemudian, Verbraak meninggal dunia. Jasadnya dikubur dengan upacara kehormatan militer dan diiringi tangisan dari ribuan masyarakat yang bergabung.

Pemerintah Kota Rotterdam pada tahun 1922 memberikan penghargaan untuk Pastor Verbraak sebagai warga kota teladan atas segala pengabdiannya bagi kemanusiaan. Sementara itu, di Bandung, lembaga The Dutch East Indian Army mengumpulkan dana dan mendirikan patung Pastor Verbraak pada tanggal 27 Januari 1922 di sebuah taman yang pernah dijuluki ”Paradisi in Sole Paradisus Terrestris” (tanah surga di bawah cahaya matahari). Patung ini dirancang di Belanda oleh seniman G.J.W. Rueb.

Patung badan utuh Verbraak dipasang di salah satu sudut utara taman yang kini menjadi Taman Maluku. Letaknya menghadap Jalan Seram. Di sebelah kirinya adalah kompleks gedung militer yang dulu ditujukan untuk Istana Komanda Militer (Paleis van den Legercommandant) di Bandung.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar