Yamaha Lexi

Menangkap Pesan di Balik Ragam Kreasi Kertas dan Cetak

  Jumat, 08 Maret 2019   Nur Khansa Ranawati
Pameran Printmaking & Paper. (Nur Khansa Ranawati/Ayobandung.com)

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM--Seni grafis dan kertas merupakan salah satu cabang seni yang keberadaannya dianggap masih 'dinomorduakan', dibanding dengan karya seni yang dibuat dalam medium lain seperti lukis pada kanvas, misalnya. Padahal, karya seni grafis dan kertas termasuk karya yang unik karena melibatkan banyak proses eksplorasi media, serta merupakan karya yang tergolong mudah dikoleksi bagi penikmatnya.

Hal tersebut disampaikan Windy Salomo, kurator pameran Printmaking & Paper di hotel de Braga by Artotel, Jalan Braga, Bandung, Jumat (8/3/2019). Dia yang juga merupakan Art Director Artotel group mengatakan, pihaknya bekerjasama dengan International Printmaking & Paper Artshow (IPPAS) menyelenggarakan pameran tersebut dalam rangka mempopulerkan seni grafis dan print, juga untuk mendekatkannya pada milenial.

"Perkembangan seni kertas masih perlu terus dipopulerkan keberadaannya, serta (pameran ini diselenggarakan) untuk merespon perkembangan teknologi dan budaya kekinian yang serba temporal (digital), sehingga karya-karya seni grafis dan kertas bisa lebih akrab dengan kaum milenial," ungkap Windy.

Dalam pameran ini, sebanyak enam orang seniman yang tergabung dalam IPPAS turut serta memamerkan karyanya. Keenam seniman tersebut adalah Aditya Diatmika, Dharyagita Rizal, Hardiman Adiwinata, Putra Wali Aco, Sigit Purnomo Adi dan Zusfa Roihan.

Meskipun menggunakan bahan dasar kertas dan seni print, namun masing-masing seniman menampilkan karya yang beragam. Setiap karya pun mengandung pesannya masing-masing.

Seperti karya yang dibuat oleh seniman asal Bali, Aditya Diatmika. Karya seninya yang dibuat menggunakan teknik linoleum cut mengandung pesan tersirat soal kerusakan alam.

"Ini menggambarkan sampah plastik yang dibuang begitu saja di lingkungan yang akhirnya meracuni alam," ungkap salah satu pegiat IPPAS, Nike Singawinata.

Selain itu, ada pula karya yang terbilang paling menarik perhatian karena ukurannya yang paling besar di antara yang lain dan dilengkapi dengan instalasi lampu. Buah tangan Putra Wali Acho tersebut menggambarkan salah satu keragaman seni budaya Indonesia.

"Karya Acho ini dibuat dengan teknik screen printing, konsepnya memang mengangkat seni tradisi dari baju tradisional asal Mandar," jelas Nike.

Di samping itu, berjajar pula karya-karya lainnya yang dibuat dengan teknik berbeda-beda, mulai dari layering hingga kolase. Anda yang tertarik mengunjungi pameran ini bisa mengunjungi lantai 1 dan 2 hotel de Braga by Artotel hingga 31 Maret 2019.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar