Yamaha Aerox

KTT AS- Korea Utara: Trump Akan Rangkul Hanoi, Membendung China

  Minggu, 24 Februari 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Presiden Korut Kim Jong Un dan Presiden Amerika Donald Trump

Vietnam Utara dan Selatan pernah menjadi palagan pertarungan blok Timur dan Barat.  Sekitar dua juta warga sipil di kedua negara tewas dan setidaknya 1,1 juta tentara Vietnam Utara dan gerilya Vietcong kehilangan nyawa. Diperkirakan antara 200.000 hingga 250.000 serdadu Vietnam Selatan serta 58. 220 tentara AS terbunuh dan lebih banyak lagi yang luka-luka.

Jumlah korban dalam perang yang bermula pada 1965 dan berakhir sepuluh tahun kemudian itu, bervariasi tetapi tetap dianggap termasuk yang terburuk dalam sejarah. Mengingat selain pertarungan ideologi, industri peralatan militer membuat kedua Vietnam sebagai tempat percobaan senjata. 

Digunakan di sini, senjata kimia, bom napalm, bom yang bisa menghancurkan lahan seluas lapangan sepakbola serta menjatuhkan bom secara  beruntun dari pembom B-52 (carpet bombing). Amerika Serikat juga mencoba bom yang bisa dikendalikan atau diarahkan dengan laser atau gelombang radio dari cockpit pesawat.

Sayangnya, pers barat lebih banyak menceritakan serdadu-serdadu Amerika Serikat, termasuk Senator John McCain, yang ditawan Vietnam Utara. Penderitaan mereka diekspos, tetapi tidak sebaliknya. 

Lebih dari satu generasi kemudian berlalu, AS-Vietnam kini rukun.  Presiden AS Donald Trump dijadwalkan menemui pemimpin Korea Utara Kim Jong-un di Hanoi pada 27-28 Februari 2019, ibu kota yang pernah mengalami pemboman hebat. Ini merupakan KTT kedua karena Trump dan Jong-un  sudah bertemu di Singapura, 12 Juni lalu. 

Bercermin dari KTT pertama, pertemuan kali ini masih akan menyangkut  program denuklirisasi Korea Utara dan pencabutan sanksi AS atas negara tersebut. Kedua isyu berjalan lambat ketika memasuki pembahasan yang lebih rinci karena masih dibalut rasa tidak percaya dan kedua negara ingin komitmen yang lebih besar.

Bagi Amerika Serikat di balik kerumitan tersebut, KTT ini memberi peluang untuk memperkokoh hubungan dengan Vietnam. Peluang yang dapat diarahkan membendung pengaruh Cina, ketika Hanoi memerlukan dukungan dalam sengketa wilayah di perairan Laut China Selatan dengan Beijing.

Pesimis Menjelang KTT

Bagi Korea Utara, pemilikan senjata nuklir merupakan alat tawar menawar. Pemberian konsesi yang berlebihan tanpa kompensasi yang memadai akan membahayakan masa depannya. Belum lagi reaksi publik di dalam negeri yang selama puluhan tahun diindoktrinasi anti imperialisme dan bangga memiliki peluru kendali nuklir.

Salah satu obyek yang diincar AS adalah penghentian kegiatan  fisi nuklir di pusat riset reaktor air ringan di Yongbyon. Pyongyang harus menyetujui pembekuan aktifitas yang dikuatkan dengan kunjungan para ahli ke lokasi. Jadi penghentian kegiatan yang disertai dengan keterbukaan.

Menurut lembaga riset Henry L. Stimson yang berpusat di Washington. DC, pengamatan satelit pada 11 dan 21 Februari lalu,  memperlihatkan tidak ada kegiatan yang mengindikasikan reaktor 5 Mega Watt di Yongbyon memproduksi plutonium. Hal serupa juga terjadi ketika dilakukan pemantauan pada November 2018, yang terlihat hanya pergerakan personil dan kendaraan di sekitar komplek reaktor.

Di balik sikap keras Trump, tampaknya AS juga menyadari Korea Utara tidak mudah ditaklukkan. Hasil KTT di Singapura yang menyangkut denuklirisasi total di Semenanjung Korea sangat bersifat umum. Tiga kesepakatan lain adalah, mendirikan rezim perdamaian yang permanen di Semenanjung Korea, mentransformasi hubungan AS-Korea Utara ke arah yang baru dan pengembalian jenazah tentara AS yang hilang atau terbunuh selama perang Korea, 25 Juni 1950 – 27 Juli 1953. Jadi apakah KTT Februari ini akan memberi langkah maju?

Kedua pihak kemungkinan akan menjaga negosiasi di masa depan tetap berlangsung sekalipun hasil KTT kurang maksimal. Kemungkinan akan disepakati peninjauan satu delegasi banyak negara ke Yongbyon disertai pemberian insentif ekonomi dan perluasan hubungan dari Amerika Serikat kepada Korea Utara. 

Pada saat yang bersamaan, tidak dibahas nasib keberadaan tentara AS di Korea Selatan karena Washington DC perlu menjaga keamanan Korea Selatan. Apalagi Korsel telah sepakat menanggung biaya keberadaan  itu sebesar US$ 890 juta untuk tahun 2019, naik US$60 juta dibanding tahun lalu.            

Mengepung China

Presiden Donald Trump sendiri menyatakan Korea Utara tidak perlu tergesa-gesa melakukan denuklirisasi selama tujuan perundingan adalah untuk mewujudkannya. Itu bukan berarti dia tidak mendorong kami untuk mencapai konsensus dalam program nuklir dan rudal,  ujar seorang pejabat AS, karenaTrump juga pasti memahami kerumitan dan mendorong kami bergerak maju sepanjang yang bisa di capai.

Ada misi lain yang ingin dicapai Washington dalam KTT kali ini, yakni menampilkan kesan sebagai sahabat bagi Vietnam yang sedang bersengketa dengan China terkait klaim di laut China Selatan. 

Beijing telah membangun buatan dan pangkalan udara di Laut China Selatan. Cina mengklaiam perairan sluas 2.000 km persegi yang mencakup kepulauan Spratley dan Paracel. Kawasan kaya dengan cadangan minyak mentah yang berjumlah 213 miliar barrel dan cadangan gas sekitar 900 triliun kaki kubik, menurut Badan Energi Nasional Amerika Serikat.   

Selain bertujuan mempertahankan kebebasan berlayar, kepentingan energi, Amerika Serikat juga bermaksud membendung pengaruh China yang membanjiri negara sekitar hingga Pasifik Selatan dengan bantuan ekonomi dan keuangan.

Meskipun demikian, terjadi silang pendapat di AS. China tidak perlu dibendung karena memiliki kepentingan yang sama dengan Amerika Serikat yakni mempertahankan kestabilan ekonomi internasional atau bersama-sama mengatasi perubahan iklim.Lagipula dunia dewasa ini tidak lagi didominasi dua kutub seperti pada era Perang Dingin.

Pihak lain menilai, China sedang berupaya menggantikan peran AS sebagai kekuatan global melalui kebijaksanaan geopolitik dan ekonomi. Para pemimpin China telah menyatakan model kapitalisme otoriter lebih dari demokrasi liberal.

Vietnam Sebagai Mitra

Vietnam mungkin dapat menjadi mitra AS dalam mengekang agresifitas China karena mempunyai hubungan cinta dan benci. Hanoi-Beijing terlibat dalam perang yang bersifat sporadis sejak 1979 hingga 1990 karena Vietnam menyerbu Kamboja, pemerintah Vietnam menekan suku Hoa yang bernenek moyang orang China dan sengketa perbatasan.

Kedua negara melakukan normalisasi hubungan berdasarkan kesepakatan rahasia di Chengdu pada 1990. Kesepakatan terus dikembangkan dengan diterbitkannya Pernyataan Bersama Untuk Kerjasama yang komprehensif sepuluh tahun kemudian.

Hubungan dagang kedua negara meningkat dari US$32 di tahun 1991 menjadi US$25 miliar pada 2011. Ekspor Vietnam termasuk minyak mentah, batubara, kopi dan pangan, sebaliknya China mengekspor obat-obatan, mesin,  BBM, pupuk dan onderdil mobil. Kedua negara membangun koridor ekonomi yang mengkaitkan provinsi Yunnan dengan kota-kota dan provinsi di utara Vietnam, serta Guangxi dengan provinsi Lang Son dan Quang Ninh. Koridor ini dihubungkan dengan jalan raya, jalur kereta api, kapal laut dan pesawat terbang.

Pada 2011 itu juga, China menyatakan ketidaksepakatan dengan rencana Vietnam mengeksplorasi ladang minyak di kepulauan Spratly dan kawasan perairan di sekitarnya. Hubungan makin meruncing sesudah Vietnam menerbitkan Hukum Laut yang menempatkan kepulauan Spratly dan Paracel di bawa yuridiksinya.

China menyebut tindakan itu tidak sah dan juga menerbitkan hukum yang serupa dengan menyebut Paracel sebagai Xisha, Zhongsha,  Nansha untuk Spratly. China dua tahun lalu juga mengancam akan menyerang Vietnam jika melakukan pengeboran di Spratly.

Kunjungan Presiden Barack H. Obama ke Hanoi pada 2016 mencemaskan Beijing karena AS mengakhiri embargo dan dimulainya transaksi Alusista. China menyebut selayaknya kerjasama itu tidak mengancam atau merusak kepentingan strategis negara ketiga.

Trump tentu tidak menyiakan-nyiakan hubungan baik yang dirintis Obama.Hal ini akan diketahui bila Trump dan para pemimpin Vietnam mengadakan pertemuan bilateral menjelang KTT.

Farid Khalidi

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar