Yamaha

38 Tahun Dianggap Punah, Lebah Raksasa Kembali Ditemukan di Maluku

  Jumat, 22 Februari 2019   Fira Nursyabani
Tangkapan layar video penemuan lebah terbesar di dunia di Kepulauan Maluku Utara. (Australian Academy of Science/Twitter)

MALUKU, AYOBANDUNG.COM -- Lebah terbesar di dunia, yang sudah tidak terlihat sejak 1981, telah ditemukan kembali oleh tim konservasi dan peneliti internasional di Kepulauan Maluku Utara bulan lalu. Tim berasal dari Universitas Sydney, Saint Mary's University di Kanada, dan Universitas Princeton di Amerika Serikat (AS).

Tim tersebut menemukan spesimen pertama Megachile Pluto, serangga yang dikenal sebagai lebah raksasa Wallace. Besar lebah itu kira-kira seukuran ibu jari orang dewasa.

AYO BACA : 5 Hewan yang Puasanya Ngalahin Kemampuan Manusia

Pada Kamis (21/2/2019), mereka merilis gambar dan video dari sarang dan ratu lebah raksasa itu. "Di tengah penurunan keanekaragaman jenis serangga secara global, sungguh luar biasa bisa menemukan bahwa spesiek ikonik ini masih bertahan hidup," kata Simon Robson, anggota tim konservasi dan profesor di Universitas Sydney, dikutip Aljazirah.

Global Wildlife Conservation mengatakan, meskipun ukurannya mencolok, lebah jenis ini tidak ditemukan dalam beberapa eksepedisi sejak 1981. Penemuannya kembali telah menyalakan api harapan bahwa Kepulauan Maluku Utara mungkin telah menjadi rumah bagi spesies yang sangat langka ini.

AYO BACA : Jarang Peternak Madu Permintaan Banyak Tak Terpenuhi

Spesimen betina dari lebah ini dapat mencapai panjang 3,8 cm dan memiliki lebar sayap lebih dari 6 cm. Sementara yang jantan bisa tumbuh sekitar 2,3 cm.

"Melihat betapa indah dan besarnya spesies ini dalam kehidupan nyata, mendengar suara sayapnya yang raksasa saat terbang melewati kepala saya, sungguh luar biasa," kata kata Clay Bolt, seorang fotografer sejarah alam, yang mengambil foto dan video spesies lebah ini.

Nama serangga ini diambil dari seorang ilmuwan alam asal Inggris, Alfred Russel Wallace. Wallace telah merumuskan teori evolusi melalui seleksi alam sebelum teori Charles Darwin diterbitkan.

Wallace mengumpulkan spesies ini untuk pertama kalinya pada 1858 sambil menjelajahi pulau Bacan di Indonesia. Spesies tersebut dianggap punah sampai ditemukan kembali pada 1981 oleh Adam Messer, ahli entomologi AS, di pulau Bacan dan dua pulau terdekat lainnya. Namun sejak itu lebah raksasa ini tidak terlihat lagi.

AYO BACA : Manfaat Memelihara Hewan bagi Kesehatan

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE