Yamaha NMax

Gedung Kesenian itu Bernama Rumentang Siang

  Selasa, 19 Februari 2019   Fathia Uqimul Haq
Gedung Rumentang Siang. (Fathia Uqimul Haq/Ayobandung.com)

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM--Gedung dengan desain tua terlihat dari sebuah cerobong di atas gedungnya. Warnanya coklat muda dan terlihat baru seperti usai direvitalisasi.

Tetap tidak mengubah bentuk, tangga dengan tegel lama dan terali kayu sebagai pegangan untuk menaiki tangga tetap menandakan gedung ini sudah berumur. Rumentang Siang memang sebuah gedung cagar budaya yang tetap berfungsi sampai hari ini.

Gedung ini dibangun pada tahun 1936. Kala zaman penjajahan, Rumentang Siang merupakan sebuah gedung opera.

"Sesudah kemerdekaan,  gedung ini menjadi bioskop yang bernama Rivoli, ketika era film bersuara muncul," ujar Wakil Pimpinan Gedung Rumentang Siang, Aat Adi Supriatna, kepada Ayobandung.

Era Gubernur Jawa Barat, Solihin GP, Rivoli dialihfungsi menjadi gedung kesenian. Akhirnya, pada tahun 1975 gedung yang terletak di Jalan Baranang Siang itu menjadi sebuah gedung kesenian bernama Rumentang Siang.

Solihin pernah bertanya pada seniman, kala ia hendak purna dari tugasnya. Katanya, seniman ingin apa dari gubernur sebagai kenang-kenangan.

AYO BACA : 4 Gedung Pendidikan Bersejarah di Kota Bandung

"Seniman belum ada gedung kesenian," ujar Aat.

Kini gedung itu dihiasi dengan penjaja makanan gerobak seperti cireng, cilok, gorengan, sampai minuman khas Thailand. Untuk mengenalinya, pengunjung perlu melihat cerobong dengan menengadah ke atas.

Bendera merah putih berkibar di antara kalimat Rumentang dan Siang. Gedung yang seluas kurang lebih 2.000 meter persegi itu diisi dengan auditorium di lantai pertama, ruang operator di lantai dua, dan ruang latihan di lantai tiga. Sederhana, seperti warnanya yang dominan coklat muda yang mulai kekuningan.

Ruang latihan yang cukup luas diisi dengan kursi-kursi lama yang tidak beraturan, kaca yang terlihat dimakan usia, dan debu serta tirai tak menentu di ruang ganti. Tidak ada siapapun di lantai tiga, hanyalah lemari tanpa isi, tumpukan kursi yang  masih utuh, dan tempat duduk yang besinya telah berkarat.

Rumentang Siang punya kantor di sayap kirinya sebagai ruang baru dari anggaran Pemprov Jabar. Kantor tersebut bersebelahan dengan perpustakaan teater. Tak lupa ada musala yang cukup luas dan wc serta tempat wudu di sebelahnya.

Rumentang Siang dikelola oleh 11 seniman sejak awal diresmikan. Mereka mengatur segala pagelaran dan kegiatan seni yang diisi oleh banyak pegiat dan seniman. Bahkan, Rumentang Siang pernah dijadikan tolak ukur para seniman yang hendak berpentas di Taman Ismail Marzuki (TIM).

AYO BACA : Intip 5 Bangunan Sejarah Karya C.P. W Schoemaker

"Sebelum ke TIM, mereka harus tampil dulu di Rumentang Siang. Kalau layak, baru mereka bisa lanjut ke Jakarta," ucapnya.

Sekarang, siapapun bisa menggunakan Rumentang Siang sebagai panggung seni. Caranya, tinggal mengajukan permohonan peminjaman gedung disertai bentuk kegiatan dan jadwalnya untuk dikondisikan oleh pengelola. Harga sewanya sebesar Rp3 juta.

Biasanya, kelompok seni terkadang sulit untuk bisa meraih penonton dan memasarkan pagelarannya. Karena hal itu berpengaruh pada pendapatan untuk membayar sewa gedung. Maka dari itu, Aat menginisiasi Komunitas Seniman Rumentang Siang (KSR). Komunitas ini membawahi 25 kelompok seni yang dapat dibantu soal pemasaran dan kemudahan sewa gedung.

KSR berfungsi sebagai memasarkan, membantu, dan memotong harga sewa untuk para kelompok seni di bawah KSR. Komunitas yang dikelola oleh para seniman senior ini membantu kelompok seni muda untuk tetap berkembang dan berkarya di Rumentang Siang.

"Kenapa dibentuk KSR kareka keinginan seniman supaya tetap solid. Dulu waktu STB (Studi Klub Teater Bandung) ada sistem arisan, jadi KSR nanti akan memberi jatah dua pagelaran tiap bulan untuk kelompok seni di bawah KSR," papar Aat.

Berawal dari para kelompok seni yang mengeluh terkait pemasaran dan biaya, akhirnya KSR memfasilitasi beberapa grup. Perjanjiannya, hasil pagelaran dibagi rata 60% untuk kelompok, 40% untuk KSR.

"40% ini dibagi lagi, 20% untuk KSR, 20% untuk Rumentang Siang," ujar Aat.

Bagi hasil itu pun hanya untuk sesi pertama. Jika dalam satu pagelaran ditampilkan dalam empat sesi, KSR hanya membaginya di sesi pertama saja. "Sesi dua dan seterusnya untuk kelompok," katanya.

AYO BACA : De Driekleur, Gedung Penyebar Berita Proklamasi di Bandung

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar