Yamaha Lexi

Cara Napak Inclusive Society Rutin Beramal Lewat Seni

  Minggu, 17 Februari 2019   Anya Dellanita
Penonton memberi donasi untuk Napak Inclusive Society dan Ma(n)ikmaya di CFD Dago, Minggu (17/2/2019).(Anya/ayobandung.com)

COBLONG, AYOBANDUNG.COM--Beramal bisa lewat banyak cara. Selain dengan langsung berdonasi, beramal bisa dilakukan lewat ajang lain. Adalah Napak Inclusive Society yang mengumpulkan donasi melalui gelaran  kegiatan  seni, olahraga, maupun sastra.

Napak Inclusive Society adalah bagian dari Napak Foundation, yayasan sosial yang bergerak di bidang pendidikan dan pemberdayaan masyarakat. Sesuai namanya, komunitas ini  memiliki kegiatan inklusi yang berinteraksi dengan para  difabel. 

"Kegiatan kami lebih menyasar ke masyarakat inklusif. Jadi pendekatannya lewat olahraga, seni, musik, dan sastra," kata Koordinator Napak Inclusive Society, Yahya Hendra saat menggelar kegiatan di CFD Dago, Minggu, (17/2/2019).

Pria yang akrab disapa Jack ini mengungkapkan kalau Napak Inclusive Society punya kegiatan  bulanan bernama Balada Inklusi, sebuah acara musik yang melibatkan disabilitas sebagai pengisi acara. Tujuannya meningkatkan awareness masyarakat terhadap kaum difabel.

"Jadi kami melalui Napak Inclusive Society mengambil kesempatan pas orang ngumpul di sana buat sisipin etika kreasi dengan teman-teman difabel. Kalau teman-teman ada yang punya karya atau mau berbaur dengan kaum difabel bisa ikut juga," ujarnya. Ia tidak menampik jika dalam acara-acara tersebut banyak orang yang berdonasi.

Napak Inclusive Society juga sering mengadakan talkshow ke kampus-kampus yang memang mengundang mereka, atau inisiatif menyisipkan agendanya ke acara kampus.

Tak hanya itu, mereka juga membentuk sebuah band yang personelnya terdiri dari berbagai latar belakang, namanya Ma(n)ikmaya. Band yang dibentuk dari kerja sama dengan Rumah Musik Harry Roesli ini memiliki 2 personel difabel, dan seorang mantan pengamen hasil didikan RMHM.

"Melalui Ma(n)ikmaya, kita memperlihatkan masyarakat inklusi melalui formasi personelnya. Jadi kalau kita main, kita gak menggembor-gemborkan personelnya, biar masyarakat aja yang liat kalau ternyata bergaul dan berkarya itu gak mandang status fisik," ujar Jack.

Jack berharap ke depannya masyarakat tak lagi melihat kaum difabel dari kekurangannya saja.

"Kita mau mengajarkan dengan keterbatasan ini, kita tidak melihat sesuatu sebagai kekurangan.

Dengan komunitas ini, kita mau ngeliatin ke masyarakat kalau disabilitas bukan melulu tentang kekurangan, tapi tentang kelebihan yang mereka punya," tuturnya.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar