Yamaha

Liputan Khas: Lukisan di Bak Truk dan Perempuan sebagai Objek

  Sabtu, 16 Februari 2019   Fathia Uqimul Haq
Ilustrasi lukisan di bak truk.

BOJONGLOA KALER, AYOBANDUNG.COM--Tak jarang objek perempuan seringkali menjadi momok dalam lukisan di badan truk. Kalau bukan perempuan berkerudung, perempuan yang sedang menyusui anak dan  perempuan dengan baju yang digambarkan terbuka tak jarang jadi pilihan para penghias truk. 

Liliana (25) seringkali malu ketika perempuan menjadi objek. Saat ia melihat lukisan perempuan di truk, rasanya ia seperti melihat dirinya. 

"Kalau gambarnya baik, oke aja bisa bikin orang termotivasi. Terlepas itu seni dan segala macam, perempuan dijadikan objek bisa jadi malu justru ke akunya," jelasnya, Sabtu (16/2/2019). 

Ia tidak ingin ada lagi ungkapan atau lukisan di truk yang menjadikan perempuan sebagai objek. Apalagi ketika dia tengah berjalan dengan teman-teman lelaki kemudian truk yang berlukisan tak baik, membuat ia menunduk. 

AYO BACA : Liputan Khas: Jamari, Sesepuh Pelukis Pantat Truk

"Kalimat baik mengandung motivasi dan mengingatkan harapan enggak apa-apa. Misalnya gambar ibu dan anak, tapi ya jangan gambar ibu meyusui anaknya juga," katanya. 

Setelah ia melihat gambar yang tak seharusnya tergambar, kadang ia langsung bersembunyi dan tak berusaha untuk membaca kalimat yang tertera di bak truk. Kalau sudah terlanjur berada di belakang truk saat berkendara, tak sengaja ia menyelesaikan bacaan di truk tersebut. 

Lili berharap supaya lukisan yang mengobjektivikasi perempuan dapat ditegakkan lewat hukum juga bantuan aduan masyarakat. 
Pasalnya, jika hanya dibantu oleh penegak hukum saja dapat percuma. 

"Kalau masyarakat enggak juga ikut membantu agar si hukum itu berdiri tegak ya percuma juga, mungkin sulit tapi kalau enggak kontinu, kita bisa ubah kebiasaan," kata Lili. 

AYO BACA : Liputan Khas: Tulisan Nyentrik di Bak Truk antara Lucu dan Mengganggu

Begitu juga pelanggan angkutan umum setia, Siti Jubaedah (24). Ia kerap melihat kata-kata yang sering hadir di truk, bus, atau angkot. Dia khawatir ketika tulisannya tidak sesuai dengan norma positif lantaran bisa dibaca oleh anak-anak.

"Menurut aku sih selama itu kata-katanya bagus, dicerna oleh masyarakat, terutama anak-anak yang udah bisa baca, enggak apa-apa," ujarnya.

Tetapi, kalau kata-katanya cenderung tidak sopan dan nyeleneh, apalagi khusus dilihat oleh orang dewasa, lebih baik jangan. Karena jalan raya tidak hanya orang dewasa saja yang melintas, tetapi anak-anak. 

"Mending gambar rumah-rumahan, kan ada anak kecil juga," ucap perempuan asal Cileunyi itu.

Di sisi lain, urusan salah fokus saat truk melintas, Siti merasa biasa saja dan tidak terganggu dengan adanya truk dengan lukisan atau grafiti yang lucu. Baginya, fokus di jalan raya adalah hal utama supaya tetap aman dan selamat di ruang terbuka dari tindak negatif yang tak diharapkan. 

"Di jalan jangan jadi bengong dan hilang konsentrasi apalagi pas truk lewat, harus siap siaga terus dan waspada sama diri sendiri," pesannya.

AYO BACA : Liputan Khas: Selain di Truk, Kalimat Nyentrik Hadir di Angkot

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar