Yamaha Mio S

Sirkus: Hiburan Kita Derita Mereka

  Kamis, 14 Februari 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Ilustrasi. (Telegraph)

Sebagian orang gemar menonton sirkus. Biasanya mereka mengajak buah hati sebagai bentuk edukasi dan hiburan. Sirkus lumba-lumba keliling masih sering ditemui di beberapa daerah di Indonesia. Dalam sebuah pertunjukan sirkus, pengunjung diberikan tontonan berupa atraksi lumba-lumba meloncat melewati ring bahkan ring berapi, diikuti dengan suara riuh tepuk tangan penonton dan musik yang mengiringi selama pertunjukan berlangsung.

Layaknya anak-anak, orang tua pun senang menonton atraksi lumba-lumba. Namun, apakah orang tua mereka tahu edukasi yang sebenarnya di balik sebuah atraksi?

Perlu diketahui, lumba-lumba hidup bebas dan berkelompok dalam habitatnya. Lumba-lumba juga dikenal sebagai binatang yang cerdas dan baik hati. Dalam pendengaran, lumba-lumba memiliki sistem sonar yang digunakan untuk berkomunikasi dan menghindari benda-benda yang ada di depannya agar tidak berbenturan.

Di dasar laut, mereka bisa saja terganggu akibat aktivitas pengeboran minyak yang dilakukan manusia. Begitu pula ketika dalam sirkus, suara yang sangat riuh dapat membuat hewat tersebut kebingungan dalam menangkap sinyal suara.  

Apakah di antara kalian pernah membayangkan bagaimana lumba-lumba dibawa dari satu tempat ke tempat lain? Mereka hanya dimasukkan ke dalam kolam sempit sedangkan kehidupan aslinya berada di laut luas. Mereka ditutup dengan kayu dan berkeliling menggunakan truk dari satu tempat ke tempat lain. Beruntung jika sang penyelenggara memberikan makanan yang cukup. Jika tidak? Hewan bisa sangat tersiksa selama perjalanan.

AYO BACA : Info Grafis: Tanpa Hewan-Hewan Ini, Apa Kabar Manusia?

Contohnya lumba-lumba dan anjing laut yang disimpan di dalam kolam, tangki, atau akuarium dan mengalami penyiksaan saat dalam perjalanan sirkus. Mereka hanya dapat bergerak dalam tangki yang hanya berukuran 9-10 meter.

Hal ini menyebabkan mamalia laut menjadi stres. Suara sonar yang mereka kirimkan malah berbalik.

Dalam sebuah pertunjukan, hewan sirkus berkaki empat seperti gajah, sering dibuat berdiri dengan tumpuan kaki di belakang. Gerakan seperti itu dapat membuat otot, sendi, atau tulang hewan cedera. Tak jarang, sang pelatih akan membakar kaki depan agar dapat berdiri lama. Jika hal tersebut terus dilakukan, akan berpotensi memunculkan penyakit hernia pada hewan.

Bukan hanya lumba-lumba, banyak hewan lain yang tereksploitasi. Banyak media yang memberitakan mengenai eksploitasi terhadap hewan yang kian terus terjadi. Seperti dilansir dari tirto.id, eksploitasi terhadap hewan terus terjadi karena tidak terlepas dari kepentingan bisnis.

Topeng monyet, sirkus, atau gajah tunggang merupakan kegiatan yang terus langgeng dilakukan untuk sarana hiburan. Terlepas dari itu semua, memang banyak masyarakat yang belum memahami dan mengetahui keadaan hewan di balik layar sirkus tersebut.

AYO BACA : 5 Hewan yang Puasanya Ngalahin Kemampuan Manusia

Padahal dalam kenyataannya hewan mengalami kekerasan. Seperti yang terjadi pada 2017 lalu, seekor kuda sudah kelelahan dan tak kuat berdiri tapi sang kusir memaksanya untuk terus bekerja.

Rekamannya viral ketika seseorang berupaya memberikan minum untuk  kuda namun dilarang oleh kusir. Ini merupakan tindakan yang melanggar animal welfare. Dalam hal ini, bukan hanya manusia yang bisa menuntut kesejahteraan hidupnya, hewan pun demikian.

Berdasarkan UU Nomor 18 tahun 2009, kesejahteraan hewan adalah segala urusan yang berhubungan dengan keadaan fisik dan mental hewan menurut ukuran perilaku alami hewan yang perlu diterapkan dan ditegakkan untuk melindungi hewan dari perlakuan setiap orang yang tidak layak terhadap hewan yang dimanfaatkan manusia. Harrison (1964) mengatakan bahwa mereka yang terlibat dalam industri produksi hewan di waktu itu sering memperlakukan hewan seperti mesin mati daripada individu yang hidup.

Adapula Konsep “Lima Kebebasan” (Five of Freedom) dikenal sebagai cara untuk menilai kesejahteraan hewan. Lima unsur kebebasan tersebut ialah:

  1.   Bebas dari rasa lapar dan haus;
  2.   Bebas dari rasa tidak nyaman;
  3.   Bebas dari rasa sakit, luka, dan penyakit;
  4.   Bebas mengekspresikan perilaku normal;
  5.   Bebas dari rasa stres dan tertekan.

Dalam menyikapi hal seperti ini, perlulah adanya kesadaran yang timbul dari masyarakat. Masyarakat juga harus dibekali pengetahuan terkait hal-hal yang dianggap menghibur namun faktanya menyakiti sesama makhluk hidup. Pemerintah juga harus semakin ketat dalam pengawasan membudidayakan satwa agar oknum yang melakukan kekerasan terhadap satwa dapat ditindak secara tegas.

Mari saling menyanyangi sesama makhluk hidup, bukan saling menyakiti.

Deira Triyanti Putri

Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad

AYO BACA : Manfaat Memelihara Hewan bagi Kesehatan

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar