Yamaha Lexi

Wisata Cirebon: Sejarah dan Sisi Unik Balai Kota yang Ikonik

  Selasa, 12 Februari 2019   Erika Lia
Gedung Balai Kota Cirebon merupakan salah satu bangunan cagar budaya yang menjadi ikon Kota Cirebon. Dibangun pada masa Pemerintahan Hindia Belanda, gedung ini dulunya merupakan gedung dewan perwakilan kota yang menyimpan sisi-sisi keunikan. (Erika Lia/Ayobandung.com)

KEJAKSAN, AYOBANDUNG.COM—Balai Kota Cirebon merupakan salah satu bangunan ikonik di Kota Cirebon. Gedung yang dibangun pada masa pemerintahan Hindia Belanda tahun 1924 itu kini difungsikan sebagai Kantor Wali Kota Cirebon.

Budayawan Cirebon, Abidin Aslich, menyebut, dulu area sekitar Balai Kota Cirebon merupakan rawa. Pada awal abad ke-20, Cirebon telah menempati posisi keempat sebagai kota terbesar di Jawa.

"Cirebon dulu dikenal sebagai kota pelabuhan. Para pedagang internasional datang kemari," katanya kepada Ayocirebon.com (Ayo Media Network).

Pada 1906, Cirebon ditetapkan sebagai Kotapraja (gemeente). Lalu, pada 1926 statusnya ditingkatkan menjadi stadsgemeente (kotamadya).

Nah, guna mendukung kegiatan lembaga pemerintahan di kota ini, dibangunlah Staadhuis (balai kota), Raadhuis (dewan perwakilan kota), maupun infrastruktur kota lain. Gedung Balai Kota Cirebon sendiri dulunya merupakan Raadhuis, yang pembangunannya diprakarsai Kepala Dinas Pekerjaan Umum Staadsgemeente Cheribon ketika itu, Joost Jacob Jeskoot, dengan dua arsitek masing-masing bernama H. P Handl fan C.F.H Koll.

AYO BACA : 5 Tempat Wisata Gratis Paling Favorit di Kota Bandung

"Didirikan di atas lahan 15.770 meter persegi dan rampung dibangun sekitar 1927. Dulu gedung balai kota ini justru berfungsi sebagai gedung Raadhuis atau dewan perwakilan kota," tutur Abidin yang juga menjabat Staf Ahli Wali Kota Cirebon ini.

Kala itu, sambungnya, anggota dewan perwakilan kota didominasi warga negara Belanda, selain orang asing lain seperti Tiongkok dan Arab. Berjumlah setidaknya 30 orang, proporsi warga pribumi Indonesia dalam dewan ini sangatlah kecil dan keberadaannya nyaris tak bernilai.

Tugas dewan perwakilan kota sendiri merumuskan kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan kota saat itu. Gedung tersebut juga diketahui kerap dijadikan tempat pertemuan dan pesta bangsa Eropa.

Secara fisik, bangunan gedung balai kota berbentuk anjungan kapal. Salah satu hal menarik dari bangunan ini berupa hiasan udang yang “nangkring” di empat sudut atas gedung. Rebon, sebutan untuk anak udang, kala itu melimpah di perairan Cirebon.

"Udang itu merepresentasikan mata pencarian utama masyarakat Cirebon sebagai nelayan dulu, sekaligus menandai komoditas niaga Cirebon berupa terasi. Terasi merupakan hasil olahan rebon (anak udang) yang diciptakan Pangeran Cakrabuana sebagai pendiri Cirebon, yang juga rupanya peniaga terkenal di masa lalu," bebernya.

AYO BACA : Hutan Bamboe, Wisata untuk Menyepi di Bekasi

Menurutnya, keberadaan hiasan udang itu menunjukkan arsitek Eropa yang menangani pembangunannya, menghargai kearifan lokal Cirebon. Setidaknya sejak itu pulalah sebutan Kota Udang melekat bagi Kota Cirebon.

Selain hiasan udang, keunikan lain balai kota Cirebon berupa keberadaan tulisan kaca berbahasa latin di atas pintu masuk ruang kerja wali kota. Meski kerap luput, sejak dibangun hingga kini, tulisan tersebut masih tertera di sana yang berbunyi "Per Aspera Ad Astra".

"Kalimat itu sama dengan semboyan Negara Bagian Arkansas, AS, yang berarti susah payah menuju bintang," ungkapnya.

Namun, Abidin mengaku, belum mengetahui alasan tulisan itu tertera di sana maupun hubungan antara arsitek balai kota dengan Arkansas sendiri. Hanya, tulisan itu dinilainya positif karena mengandung motivasi untuk bekerja keras.

Selain tulisan itu, hal unik lain terkait fisik gedung ini berupa sebuah area persegi panjang dengan empat pilar di sudut-sudutnya. Area yang dapat dijumpai tepat begitu pengunjung memasuki gedung itu konon dahulu merupakan kolam yang juga dimanfaatkan sebagai penyejuk udara.

Bahkan, di bagian bawah gedung disebut-sebut terdapat terowongan yang mengarah ke laut. Namun, Abidin menyatakan, belum ada bukti kongkret terkait hal tersebut.

Area yang konon merupakan kolam sendiri kini ditutup dengan lapisan lukisan kaca. Di atasnya berdiri piala adipura yang pernah diraih Kota Cirebon.

Balai Kota Cirebon saat ini ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya pada 2001, bersama 51 bangunan bersejarah se-Kota Cirebon lainnya. Dengan nilai sejarahnya, Balai Kota Cirebon pun tak jarang dijadikan destinasi wisata maupun penelitian, khususnya warga Eropa yang memberi perhatian pada bangunan-bangunan art deco yang pernah populer sekitar 1920.

AYO BACA : Rekam Jejak Dunia Jurnalistik di Museum Pers Nasional

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar