Yamaha Lexi

Pengaruh Tingkat Pengangguran Terhadap Kemiskinan

  Selasa, 12 Februari 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Ilustrasi. (Pixabay)

Persoalan kemiskinan seperti tidak akan habis dibahas setiap hari. Pasalnya, kini kemiskinan di Indonesia masih terbilang cukup tinggi. Berdasarkan data  Badan Pusat Statistik, angka kemiskinan di Indonesia per Maret 2018 menyentuh angka 25,95 juta orang atau sebanyak 9,82% dari total jumlah penduduk Indonesia. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan tahun 2017 yang mencapai 26,58 juta orang.

Peningkatan mutu di berbagai sektor sudah ditingkatkan oleh pemerintah untuk menekan angka kemiskinan. Namun, pada hakikatnya, kemiskinan susah untuk dihilangkan secara tuntas.

Kemiskinan terjadi karena tidak adanya kemampuan seseorang atau beberapa orang untuk memenuhi kebutuhan pokoknya yang terdiri atas kebutuhan primer, sekunder, dan tersier.

Untuk lebih jelasnya, pengertian kemiskinan dapat dilihat dari dua sisi, yaitu:

1. Kemiskinan mutlak (absolut)

Kemiskinan mutlak adalah kondisi kemiskinan yang sudah ditetapkan standarnya hanya sebatas dapat memenuhi kebutuhan dasar seseorang agar dapat hidup secara layak. Dengan demikian, kemiskinan mutlak dapat diartikan sebagai sebuah situasi kemampuan penduduk untuk memenuhi kebutuhan hanya sekadar makan, minum, dan tempat tinggal.

2. Kemiskinan relatif

Kemiskinan relatif adalah kemiskinan yang tidak ada hubungannya dengan garis standar kemiskinan. Kemiskinan relatif adalah sebuah kondisi ketika seseorang sudah dapat memenuhi kebutuhannya, namun masih dapat dikatakan lebih rendah dibandingkan dengan penduduk di sekitarnya. Biasanya kemiskinan ini terjadi berdasarkan perspektif masing-masing orang saja.

Ketidakmampuan seseorang memenuhi kebutuhan pokok tersebut dapat disebabkan oleh pengangguran, yang sering disebut-sebut sebagai penyebab utama kemiskinan.

Pengangguran dapat terjadi karena ketersediaan lapangan pekerjaan yang minim dibandingkan banyaknya jumlah penduduk usia kerja (berusia 15 tahun atau lebih).

AYO BACA : Ini Orang Terkaya di Indonesia pada 2018 Versi Forbes

Pengangguran dibagi menjadi beberapa macam, seperti yang dijelaskan oleh BPS, dua di antaranya yaitu pengangguran terbuka, yang terdiri atas orang yang tidak mempunyai pekerjaan dan sedang mencari pekerjaan, tidak mempunyai pekerjaan dan sedang mempersiapkan usaha, tidak mempunyai pekerjaan dan tidak mencari pekerjaan, dan yang sudah mempunyai pekerjaan tetapi belum mulai bekerja; serta setengah pengangguran yaitu orang yang bekerja di bawah jam kerja normal atau kurang dari 35 jam seminggu dan masih mencari pekerjaan atau masih menerima pekerjaan lain.

Tidak adanya pemerataan lapangan pekerjaan menjadikan pengangguran di Indonesia seakan merajalela.

DKI Jakarta sebagai ibu kota negara Indonesia menjadi kota yang paling banyak memiliki lapangan pekerjaan. Padahal pedalaman seperti Papua juga sangat membutuhkan lapangan pekerjaan.

Sedikitnya, lapangan pekerjaan yang ada di Papua menjadikan Papua sebagai daerah yang paling banyak memiliki penduduk miskin. Perkembangan teknologi seakan tidak mau untuk disebar ke daerah terpencil.

Ketertinggalan perkembangan teknologi menyulitkan terbukanya lapangan pekerjaan. Padahal pekerjaan di era sekarang lebih banyak membutuhkan kemajuan teknologi sebagai alat pendukung.

Sementara itu, di Jawa Barat, lapangan pekerjaan sudah terbilang sangat banyak, khususnya di kota. Untuk daerah kabupaten, angka pengangguran masih terbilang lebih banyak dibandingkan kota. Hal ini membuktikan bahwa perlunya pengembangan sektor-sektor yang dapat memperluas lapangan pekerjaan di kabupaten.

Berdasarkan data BPS, angka pengangguran di Jawa Barat mencapai 8,49% pada tahun 2017. Angka ini lebih rendah dibandingkan tahun 2016 yang mencapai 8,57%.

Sementara itu, kemiskinan di Jawa Barat sebanyak 8,95% pada tahun 2016 dan 8,71% pada tahun 2017. Dapat dilihat bahwa pengangguran mengalami penurunan sebanyak 0,08%, demikian juga kemiskinan yang mengalami penurunan sebanyak 0,24%.

Meskipun penurunan presentase penduduk pengangguran tidak sebanyak presentase kemiskinan, hal ini tetap membuktikan bahwa menurunnya tingkat pengangguran akan mengakibatkan menurunnya tingkat kemiskinan di Provinsi Jawa Barat.

Apabila dilihat secara rinci berdasarkan kabupaten dan kota yang ada di Provinsi Jawa Barat, presentase penduduk miskin tahun 2017 turun dari tahun 2016 kecuali di Kabupaten Purwakarta, Karawang, dan Kota Banjar.

AYO BACA : Melucuti Kemiskinan dengan Pendidikan

Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk pada masing-masing kabupaten/kota, tingkat kemiskinan yang paling rendah berada di Kota Depok dengan presentase 2.34%, sementara tingkat kemiskinan paling tinggi berada di Kota Tasikmalaya yang mencapai 14,80%.

Sedangkan untuk tingkat pengangguran pada tahun 2017, pengagguran paling rendah berada di Kabupaten Pangandaran dengan presentase sebesar 3,34% dan pengangguran paling tinggi berada di Kabupaten Bekasi dengan presentase mencapai 10,97%.

Apabila kita bandingkan angka pengangguran dan kemiskinan di setiap kabupaten/kota yang ada di Jawa Barat pada tahun 2017, terjadi keterkaitan satu sama lain antara angka pengangguran dan kemiskinan. Keterkaitan ini diperoleh apabila angka pengangguran naik sebanyak 1,505 jiwa, maka akan diikuti dengan naiknya angka kemiskinan sebanyak 51.858,646 jiwa.

Kemiskinan tidak hanya diukur dari ada atau tidaknya pengangguran. Faktor lain seperti tingkat pendidikan yang rendah, kondisi kesehatan yang kurang, terjadi bencana alam di suatu daerah, keterbatasan sumber daya alam, korupsi oleh pejabat negara, dan lain-lain juga dapat memengaruhi adanya kemiskinan.

Salah satu cara yang dilakukan pemerintah untuk menekan angka kemiskinan adalah dengan pendidikan. Semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin tinggi peluang orang tersebut bekerja di sektor formal dengan penghasilan yang lebih tinggi.  

Namun, kesadaran penduduk miskin akan pendidikan masih dapat dikatakan sangat kurang. Anak-anak usia sekolah tidak jarang dipaksa bekerja dan berhenti sekolah hanya demi memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari. Padahal, tindakan seperti itu justru akan memperburuk keadaan perekonomian keluarga tersebut.

Dari segi kesehatan, pemerintah sudah memberikan keringanan biaya pengobatan di rumah sakit dengan BPJS kesehatan. Namun, kasus yang banyak terjadi adalah ketidakmampuan seorang tulang punggung keluarga untuk mencari nafkah karena kondisi kesehatan yang kurang. Hal tersebut menyebabkan tidak adanya pemasukan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Bencana alam juga dapat menyebabkan penduduk menjadi miskin. Hilangnya harta benda, lapangan pekerjaan, dan barang dagangan membuat penduduk kesulitan menjalani kegiatan sehari-hari dan mencari nafkah.

Bencana alam juga dapat mengakibatkan hilangnya sumber daya alam sebagai mata pencaharian, seperti rusaknya sawah yang mengakibatkan petani tidak dapat panen, ancaman tsunami susulan yang membuat nelayan tidak dapat berlayar, maupun ternak mati yang menyebabkan ruginya para peternak.

Penyebab kemiskinan yang paling membuat masyarakat geram adalah korupsi yang dilakukan oleh pejabat negara. Pasalnya uang negara yang dikorupsi seharusnya dapat digunakan untuk menunjang pembangunan infrastruktur (seperti jalan, jembatan, pembangkit listrik, dan lain-lain), pemberian bibit tanaman kepada petani, dan sebagainya.

Kemiskinan di Indonesia khususnya di Jawa Barat mungkin tidak bisa sepenuhnya dihilangkan secara tiba-tiba. Perlu langkah perlahan agar angka kemiskinan semakin menurun. Cara yang dapat dilakukan pemerintah adalah dengan pengembangan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi, membuka lapangan pekerjaan, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar mempunyai daya saing yang kuat apabila sudah terjun ke dalam dunia kerja.

Diah Sopanti

Mahasiswi Matematika Universitas Jenderal Soedirman

AYO BACA : BPS: Jumlah Penduduk Miskin Berkurang 0,91 Juta

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar