Yamaha Lexi

Museum Barli, Museum Seni Rupa Pertama di Kota Bandung

  Senin, 11 Februari 2019   Fathia Uqimul Haq
Museum Barli. (Fathia Uqimul Haq/Ayobandung.com)

SUKASARI, AYOBANDUNG.COM--Barli adalah sosok yang terus mengembangkan dunia seni di Bandung dan nasional. Kecintaannya pada seni sejak jaman Belanda, periode pembangunan, hingga sekarang membuatnya selalu berpikir agar seni dapat terus berjaya dan dinikmati. 

Bandung menjadi kota yang punya peran penting bagi pria kelahiran 18 Maret 1921. Pasalnya, banyak seniman kota kembang yang menjadi pelukis pemandangan dikenal dengan Hindia indah. Tetapi, saat itu Bandung hanya memiliki Gedung Rumentang Siang dan Gedung YPK. Sehingga Bandung yang dikenal dengan kota seni menjadi pertanyaan di benaknya. 

AYO BACA : Bandung Perlu Galeri Seni Bertaraf Internasional

Dari benak itu, Barli akhirnya memutuskan untuk membuat sebuah galeri seni yang bisa menjadi sumber informasi dan wadah kesenian buat para pelukis, penyelenggaran pameran, dan pendidikan. Barli dan istri, Atikah, membangun Museum Barli di tanah miliknya. Ia mulai mengumpulkan karya yang suatu hari dapat berguna dan dikenang sepanjang masa. 

Atikah berharap, Museum ini dapat memberikan wadah seluas-luasnya untuk Barli supaya berkreasi dan dan melakukan aktivitas seni rupa. Namun, sebulan sebelum Museum ini rampung, istri Barli meninggal dunia pada 11 Juli 1991. Satu bulan setelahnya, Museum Barli resmi selesai pada 11 Agustus 1991. Barli menandatangani prasasti yang menyebutkan bahwa museum ini dipersembahkan untuk istrinya, Atikah binti Basari. 

AYO BACA : Bandung Bakal Punya Gedung Kesenian Anyar

Kebaikan ini disambut oleh Menteri Pariwisata, Pos, dan Telekomunikasi Republik Indonesia, Soesilo Soedarman. Museum ini diresmikan pada 26 Oktober 1992 pukul 16.00 WIB. Gedung yang didesain bak bangunan museum Rotterdam ini dibangun di atas tanah seluas 840 meter persegi dan luas bangunan 1.200 meter persegi. 

Tata ruang ini memiliki alasan supaya memanfaatkan efek sinar matahari sebagai penerangan utama di siang hari dan sirkulasi udara tanpa pendingin ruangan. Bangunan yang berdiri tiga lantai ini dibuat untuk ruang koleksi lukisan, seminar, workshop, pertemuan umum, dan lain-lain. Barli menghibahkan 100 lukisan untuk museum ini sebagai karya yang tidak diperjual belikan. 

Dalam bukunya yang berjudul Museum Barli, museum ini adalah sarana apresiasi yang tepat. Berbagai macam koleksi seni diwadahi di museum ini untuk menyuguhkan nilai estetika dari perjalanan seni rupa. 

Bagi putra pertama Barli, Agung W. menyatakan bahwa museum ini adalah manifestasi kecintaan Barli terhadap seni lukis dalam upaya meningkatkan apresiasi seni bagi masyarakat Indonesia. 

Museum seni rupa pertama di Kota Bandung ini menjadi salah satu indikator berkembangnya dunia seni rupa modern di Kota Kembang. Selain disebut menjadi Kota Budaya, Museum Barli menambah museum di Kota Bandung sebagai pelengkap sejarah dan nilai-nilai seni adiluhung.

AYO BACA : Warga Dipersilahkan Menilai Desain Bakal Calon Gedung Kesenian Jabar

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar