Yamaha NMax

Rekam Jejak Dunia Jurnalistik di Museum Pers Nasional

  Senin, 11 Februari 2019   Fathia Uqimul Haq
Pengunjung tengah melihat koleksi benda jurnalistik di Museum Pers Nasional, Surakarta. (Fathia Uqimul Haq/ayobandung.com)

SURAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Salah satu destinasi gratis di Surakarta yang menarik untuk dikunjungi wisatawan adalah Museum Pers Nasional. Bangunan yang dilengkapi fasad depan bebatuan dan patung membuat suasananya terasa seperti di Bali.

Namun, ada yang lebih menarik dari museum ini, yakni terdapat beberapa orang yang memenuhi area majalah dinding (mading) untuk membaca koran yang direkat dengan menggunakan selotip. Koran-koran yang ditempel di antaranya Solo Pos dan Jawa Pos.

Meskipun sepi pengunjung di hari kerja, dua mading yang terletak di depan museum itu masih banyak diminati warga. Sebagian orang bahkan terlihat menulis catatan dan informasi yang tertera di koran meski arus teknologi telah menggerus kebiasaan ini.

Memasuki bagian dalam museum, pengunjung dihadapi dengan aula besar yang biasa dipakai untuk pertemuan. Pengunjung juga diminta untuk mengetik daftar hadir pada sebuah komputer, dengan menyertakan identitas, seperti nama, asal, dan status aktivitas.

Bangunan museum ini cukup luas karena bersatu dengan kantor Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Surakarta. Di sayap kanan terdapat lima patung tokoh berpengaruh dalam dunia jurnalistik. Pada setiap dudukan patungnya terdapat penjelasan terkait sejarah tokoh tersebut. 

Salah satu tokohnya adalah sosok Djokomono alias RM Tirtohadisoerjo,  peletak batu dasar jurnalistik modern. Dia adalah sosok yang memulai pembaharuan dalam mengolah isi surat kaba. Pemuatan karangan, berita, pengumuman, pemberitahuan, iklan, dan lain-lainnya telah disusun secara baru. 

Ada juga patung Bakrie Soeraatmadja, pemimpin redaksi Sipatahoenan, surat kabar berbahasa Sunda. Surat kabar itu pernah dijuluki "Si Eces" yang berarti "nyata". Julukan itu diberikan karena berita-beritanya dikemas secara faktual dalam mengikuti persidangan Ir. Soekarno, Raden Gatot Mangkuprodjo, Maskoen, dan Soepriadinata di Pengadilan Kolonial Bandung. 

Dalam karir jurnalistiknya, ia pernah menjabat sebagai ketua Persatuan Djurnalis Indonesia atau Perdi Bandung dan anggota PB Perdi yang berpusat di Solo. Bakrie juga aktif menulis di surat kabar lain, misalnya Perbintjangan dan Berita Periangan.

Turun melewati tangga, terdapat satu ruangan yang mengupas terkait benda-benda zaman dahulu, seperti micro reader canon printer 379. Barang tersebut digunakan untuk membaca hasil dari processor 163H.

Ada pula mesin tik jadul dari masa ke masa, serta microfilm sumbangan dari wakil presiden Adam Malik untuk Monumen Pers Nasional pada 1980. Microfilm itu berisi miniatur salinan foto dari berbagai dokumen cetak atau grafis dari koran, majalah, dan lembar buku yang digunakan untuk arsip sert koleksi perpustakaan.  

Di bagian dinding dihiasi dengan aneka koran dari berbagai tempat. Koran-koran yang dipajang antara lain koran lama Pare Pos, Ujungpadan Ekspres, Gorontalo Post, Radar Bandung, Kabar Banten, hingga Radar Bulukumba. Bahkan, koran Pikiran Rakyat, Jawa Pos, Suara Merdeka, dan Kompas pun ada di sana. 

Ada satu hal menarik lainnya di museum ini, yakni adanya Anjungan Koran Mandiri (AKM) Koran Jakarta. Mesin penjualan Koran Jakarta ini diadaptasi dari mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM).

Konsumen dapat membeli koran secara mandiri dengan memasukkan uang dengan nominal tertentu. Koran Jakarta menjadi koran pertama di Indonesia yang menggunakan vending machine ini sebagai cara mudah untuk menjual koran. AKM ini tercatat telah masuk ke dalam Museum Rekor Indonesia (MURI). 

Tak hanya itu, koran-koran Belanda juga terlihat dibingkai dengan menggunakan pigura coklat, seperti surat kabar Nederlandsch Indio dan Sumatra Courant. 

Di dinding yang sama, terdapat pula koran Merdeka yang terbit pada 15 Maret 1980 dengan headline Bung Hatta Meninggal Dunia Jumat Pukul 18.57. Juga koran Merdeka yang memuat Bung Karno Meninggal Dunia terbit pada Senin, 22 Juni 1970. 

Di sayap kiri, etalase panjang menceritakan soal penghargaan para jurnalis. Seperti Mochtar Lubis, Ketut Nadha, dan Ismail Djalili. Beberapa handycam dan kamera bekas para jurnalis pun ditaruh dengan apik. 

Tak lupa, kisah pembunuhan Jurnalis pun tertera di sini, seperti Fuad Muhammad Syafruddin yang dianiaya orang tak dikenal dan meninggal dunia. Wartawan Harian Bernas itu kerap menulis artikel kritis tentang kebijakan pemerintah Orde Baru dan militer. 

Pukul 22.30 WIB, pada 13 Agustus 1996, Fuad dianiaya di depan rumah kontrakannya di  Jalan Parangtritis, Yogyakarta. Ia pun koma dan dirawat di RS Bethesda. Parahnya pukulan batang besi di bagian kepalanya membuat ia meninggal dunia pada Jumat 16 Agustus 1996.
 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar