Yamaha Lexi

Boit Omuniuum: RUU Permusikan Rugikan Industri Musik Label Kecil

  Minggu, 10 Februari 2019   Anya Dellanita
Omuniuum. (Instagram)

CIDADAP, AYOBANDUNG.COM--Penolakan terhadap RUU Permusikan makin menjadi. Tidak hanya musisi, penolakan pun ditunjukkan pihak yang beririsan dengan dunia musik, seperti pemilik toko musik.

Salah satunya Iit Sukmiati, pemilik Omuniuum, sebuah toko buku, album, dan merchandise musik indi. Perempuan yang akrab disapa Boit ini mengungkapkan, RUU Permusikan bisa membuat industri musik berlabel indi hancur.

"Ada beberapa pasal yang berpihak pada pemiliik usaha bermodal besar, seperti pasal 10 tentang distribusi lewat label atau penyedia jasa besar. Nanti apa kabar musisi indi atau label kecil yang belum mampu bersaing dengan distributor besar?" katanya saat dihubungi melalui surel, MInggu (10/2/2019).

AYO BACA : Liputan Khas: RUU Permusikan yang Tak Lindungi Musisi

Boit juga menilai pasal 5 dalam RUU tersebut tidak mempunyai batasan yang jelas sehingga bisa merugikan banyak pihak.

"Pasal 5 kan bunyinya dilarang memprovokasi, batasannya apa? Padahal karya yang ditaruh di merchandise band kan juga bisa jadi statement yang dianggap memprovokasi atau misalnya karya yang kena pengaruh asing," tambahnya.

Menurut Boit, banyak hal pada RUU Permusikan yang sudah diatur oleh UU seperti UU hak cipta, pemajuan kebudayaan, serta serah simpan karya cetak dan karya rekam.

AYO BACA : Liputan Khas: RUU Permusikan Dinilai Memberatkan

Menurutnya, RUU yang dibutuhkan bukan RUU Permusikan, tapi RUU yang mengatur tata kelola industri.

"Jadi, ya, RUU ini penting. Penting untuk ditolak karena tidak ada faedahnya," ujarnya.

Menyinggung tentang sertifikasi musisi, Boit berpendapat sebaiknya disesuaikan kebutuhan saja. 

"Kalau guru musik atau pemain musik klasik sudah tentu harus punya sertifikat, kan?" tuturnya.

Ke depannya, Boit berharap RUU Permusikan ini ditiadakan saja.

AYO BACA : RUU Permusikan Dianggap Penuh Pasal Karet

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar