Yamaha Mio S

Standard Chartered Bank Optimistis Ekonomi Indonesia Tumbuh Positif

  Kamis, 07 Februari 2019   Dadi Haryadi
Standard Chartered Bank menyelenggarakan seminar keuangan tahunan Wealth on Wealth (WoW) yang dihadiri ratusan nasabah Prioritas Bank bertempat di Hotel Hilton, Bandung, Kamis (7/2/2019). (istimewa)

CICENDO, AYOBANDUNG.COM--Standard Chartered Bank optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap terjaga meski dihadapkan tantangan perlambatan ekonomi global.

Chief Executive Officer, Standard Chartered Bank Indonesia Rino Donosepoetro mengatakan perekonomian global tahun ini diproyeksikan akan ada di kisaran 3,6% atau mengalami perlambatan dibandingkan tahun lalu sebesar 3,8%. Hal ini akan berlanjut hingga ke tahun 2020.

Menurutnya, kondisi tersebut disebabkan fluktuasi harga minyak dunia, perang dagang China dan Amerika Serikat, serta kondisi politik Eropa.

"Sejumlah risiko yang dapat memperlambat pertumbuhan global di tahun-tahun ke dapan," kata Rino pada acara seminar keuangan tahunan Wealth on Wealth (WoW), di Hotel Hilton, Jalan Hos Cokroaminoto, Kota Bandung, Kamis (7/2/2019).

AYO BACA : Ekonomi Indonesia 2018 Tumbuh 5,17%

Meski demikian, Rino menilai pelemahan ekonomi global tidak serta merta berdampak terhadap perekonomian Indonesia yang mampu menunjukan pertumbuhan sebesar 5,1% karena ditopang oleh domestic consumer spending.

Selain itu, kata dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia juga ditunjang daya beli masyarakat yang meningkat. Tidak hanya itu, keberhasilan pembangunan infrastruktur nasional dan kondisi investasi swasta juga terus membaik.

“Kebijakan fiskal dan moneter yang penuh pertimbangan ditunjang dengan reformasi struktural yang berkelanjutan akan mampu meningkatkan sentimen dan kepercayaan investasi,” kata Rino.

Lebih lanjut dia menganggap ada kesempatan bagi eksportir nasional untuk melakukan ekspansi produknya ke negara tertentu yang terkena dampak perang dagang China-Amerika Serikat.

AYO BACA : Cara Ridwan Kamil Kembangkan Strategi Ekonomi di Jabar

Menurutnya, Indonesia akan semakin dilirik global berkat keberhasilan akrobat dalam menarik minat investor asing.

"Kondisi ekonomi global bisa juga berdampak pada kesempatan pertumbuhan ekonomi yang lain di Indonesia," ucapnya.

Sementara itu, Chief Economist Standard Chartered Bank Indonesia, Aldian Taloputra menambahkan pada semeter pertama di 2019 ini, dia menilai tren rupiah diproyeksi masih akan cukup baik dengan kisaran level kurs di Rp13.800-Rp14.000 per US$.

Namun kondisi berbeda bakal terjadi pada semester kedua. Rupiah menurutnya akan cenderung melemah seiring dengan kenaikan suku bunga The Fed.

"Nilai tukar Rupiah diperkirakan akan berada dalam rentang Rp14.000-Rp14.600 per US$ hingga akhir tahun,” pungkasnya.

AYO BACA : Menkeu: Pertumbuhan Ekonomi 2018 Capai 5,15%

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar